Posts mit dem Label Opinions werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label Opinions werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Montag, 5. Juni 2017

The Good Samaritan

Hari ini saya teringat tentang satu perikop di dalam Alkitab mengenai “Orang Samaria yang Murah Hati (Luk. 10:25-37)”. Kisah ini pasti sudah tidak asing untuk teman-teman dan rekan-rekan Nasrani karena sudah sering diulang dalam kotbah gereja atau renungan harian. Entah kenapa saya merasa cuplikan perumpamaan ini perlu untuk diingat dan diresapi lagi maknanya, melihat situasi hangat yang terus-menerus terjadi di dalam dan luar negeri. Walaupun saya tidak pernah mendalami teologi dan ke gereja pun suka bolos, berikut sedikit pemahaman terbatas dan awam saya.

Ada dua inti pokok dalam perikop ini yang saya tangkap. Yang pertama adalah jawaban dari pertanyaan: Bagaimanakah cara untuk mendapat hidup kekal? Pertanyaan ini dijawab dengan kutipan:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Jelas.

Lalu, ada pertanyaan kedua: Dan siapakah sesamaku manusia?

Untuk menjawab pertanyaan kedua ini, Tuhan Yesus mengisahkan kisah seorang Samaria yang murah hati. Orang Samaria pada dasarnya dicap sebagai bangsa berdosa dan orang Yahudi memandang sebelah mata kepada mereka. Akan tetapi, suatu hari ada seorang Yahudi yang dirampok habis-habisan oleh para penyamun dalam perjalanannya dari Yerusalem ke Yerikho. Tubuhnya yang kepayahan dan penuh luka ditinggalkan begitu saja. Beberapa waktu kemudian lewat seorang Imam, lalu seorang Lewi. Keduanya memilih sisi jalan terjauh dan terus melanjutkan perjalanan masing-masing, tanpa menghiraukan saudara sebangsanya yang terkapar dan terluka. Hingga muncul seorang Samaria di jalan itu dan hatinya tergerak oleh belas kasihan. Ia membersihkan dan membalut luka si Yahudi, bahkan menghantarnya ke penginapan dan membayar semua biayanya.

Lalu Yesus balik bertanya, “Di antara ketiga orang itu, siapakah adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke dalam tangan penyamun ini?”

“Orang yang telah menunjukan belas kasihan kepadanya.”
Kasih itu universal. Kasih itu tidak mengenal perbedaan. Kasih itu milik semua. Kasih itu untuk semua.

Samstag, 28. Januar 2017

Tahun Ayam Api

Saya dukung Ahok.

Ah, elu mah dasar cina non-muslim makanya dukung Ahok!

Awalnya saya tersinggung sedikit. Enak aja, mereka menyamakan kemampuan otak saya dengan otak kacang polong punya mereka. Dikiranya saya nggak bisa mikir dan hanya melihat sebatas warna kulit dan agama. Cuih! I'm far more than that. Makanya saya agak males bahas panjang-panjang, karena komentar macam begitu akan muncul suatu saat. Aber egal...

Begini loh ya...

Mereka bilang nggak mau menggusur, hanya akan digeser atau diwarnai biar indah. Lalu, bagaimana agar sungai menjadi normal kembali? Bagaimana banjir Jakarta akan dihidari? Apakah warna-warni akan membuat air hujan takut dan nggak turun banyak-banyak di Jakarta? Pernahkan mereka menyebutkan rencana konkret atas BAGAIMANA MENGATASI BANJIR? Well, kalau kuping saya masih bener, yang kedengaran kan cuman: Kami akan berkomitmen..., Kami akan berembuk..., Pasti ada cara lain tanpa penggusuran! Ya, tapi APA yang mau dilakukan? Pikir nanti deh kalau udah jadi gubernur. Prett. Kalau ngomongin konsep saya juga bisa bilang supaya tanah Jakarta diangkat aja ke atas biar nggak banjir. Iya, seluruh wilayah DKI Jakarta. SEMUA. Bukan rumah apung lagi, yuk kita bikin Jakarta Apung. Emang bisa? Nanti pasti ada caranya, yang penting saya komitmen mau angkat Jakarta. Bagaimana? Nanti dirembukan kalau saya jadi gubernur lebaran kuda nanti.

Sonntag, 26. Juni 2016

Entahlah

Ihiy, akhirnya ada mood nulis lagi. "Setelah" yah... setelah satu-satu urusan gue selesai. Uhyeah.
So, sambil diiringi Afgan di Spotify... here's a piece of my mind.

What is the one thing you could die for?

Pernah kah pertanyaan tersebut mampir di pikiran? It shows up in my mind sometimes.

Sejujurnya, ketika pertanyaan itu muncul di kepala dan gue nggak bisa jawab, I feel sad. I feel like I don't have sincerity.

Jangankan untuk sesama, buat keluarga dan teman terdekat pun gue nggak berani jawab bisa.

Nggak kebayang kalau gue hidup di jaman perang, yang setiap hari nyawa terancam. I really hope I wouldn't come into such situation, where I have to choose between mine and others' lives. Takutnya gue bikin keputusan yang bikin benci diri sendiri.

Montag, 8. Februar 2016

Some Posts May Have Been Deleted

Sudah lama sekali gue nggak menulis: Menulis dalam arti layak baca oleh publik, baik dari segi teknis maupun konten isi. Alasan? Rare inspirations and multiple deliberation. I guess I'm getting old.
 
I like writing. Rasanya seperti pelepasan, dikala jenuh dan muak. Ketika kepala ini terlalu penuh dengan hal-hal mengkhawatirkan yang rasanya mustahil untuk diselesaikan, menulis membantu gue untuk melihat permasalahan dari sudut pandang yang berbeda. And it helps in finding solutions.

Honestly, I like to read my old writings in my spare time just to realize how a person's mind could change through time and life. How things I wrote about change, from a mere fangirling-stuff into more complicated real-world problems. Sometime I miss that girl, writing about all those handsome men she fancied, whose problems round about school and home. Sometime I laugh at how she described things and her feelings, how innocently she viewed the world.

And there are also times, when I want to grab her by the neck and scream to her face: WHY DID YOU PUBLISH SUCH THINGS ON INTERNET?!

Donnerstag, 10. Dezember 2015

That B****hit

What's about my life? I'm really at the edge of stop writing. Why? It's getting really difficult to write. Sometimes I want to write but I hadn't any idea on what's to write. Sometimes I had a bunch of idea but didn't get any time to do write. Well, my life is getting more challenging, exiting, fun, and also scarier. The future is always scary, yet intriguing. It's like the fruit of knowledge in Eden or the pandora box.

I realize about how objectivity is just an illusion. I don't think it exists. People who care to have opinions about something, must be part of that something, which obviously made them bias and have chosen a side. People who are not part of something, won't care enough to have an opinion. What's weirder is, that these people with opinions are screaming loudly, asking other "swingers" to join them, that theirs are the best and the truth. I'm really sick of this kind of thing: people forcing other people into believing something they believe.

Montag, 20. April 2015

Bicara Cinta

Nggak tau kenapa, ya... beberapa bulan terakhir gue laris jadi teman curcol. Tema curcolnya? Apalagi kalo bukan perpacaran dan cinta-cintaan.

Di satu sisi gue dengan senang hati mau mendengarkan cerita mereka dan memberikan saran sebisa gue. Hal ini didukung 10% oleh kadar kekepoan gue yang lumayan tinggi, sisanya, yah simply gue seneng bisa berguna dikit buat temen-temen gue.

Di sisi lain, gue bertanya-tanya sendiri... Mengapa kawan-kawan ini mencari saran ke gue, jomblowati yang hubungan pertama dan terakhirnya habis dimakan jarak dan kandas di tengah jalan? WHY? WARUM?! Diriku juga masih belajar soal cinta-cintaan, yo masnya, mbaknya... Tapi, tetep, gue seneng kalau ada yang curcol ke gue, apa pun temanya. ;D  #kepo #bukalapak

Jadi, begini... Berdasarkan kisah-kisah yang gue dengar dari sesi-sesi curcol ini, inti kegalauan teman-teman gue adalah: hati vs. otak; perasaan vs. logika.

"Kalau dia begitu terus gue nggak sanggup."
"Ya udah, lu selesain aja."
"Tapi, gue masih sayang..."
"..."
Kira-kira begitu.

Dienstag, 4. November 2014

I am Downtonised ❤

These past few months I've been completely drowning into good stories-hunting, which means lots of movies and lots of books. Well, not exactly movies but episodes of some TV-series I found really good. REALLY. GOOD. It really needs to be repeated to accentuate the meaning.

This time, my newest fangirling episode focused on the one, and one only, genre: Historical Romance.  I'm quite familiar with the genre and was actually crazy about it before, when I was 17 or 18 because of Bridgerton Series by Julia Quinn. Then the madness faded, not because I was bored, but more because I couldn't find any other stories comparable to The Duke And I or The Viscount Who Loves Me (both are the first and second book of the mentioned series by Julia Quinn). Until last few months when the limited access of internet forced me to find another source of entertaiment: books. I began to read books again and was shortly welcomed by the familiar feeling with words and sentences, that build up beautiful stories. I love that feeling.

I read mostly Julia Quinn's and Eloisa James', both are historical romance authors. I finished dozens of their works in weeks and my daily daydreaming soon influenced by it. The time when gentlemen rode horses and wore high hats, the ladies changed clothes six times a day and lived only to find the most agreeable husband, and so on. There are simple story lines: beautiful girl searched for husband, who mostly an aristocrat, extremly rich, and, fortunately, they fall in love with each other. Of course, there'll also be one or more missunderstandings in the way.

I do nothing else but read, even now when the new semester had begun. I am so enjoying reading good stories and let my imagination goes wild, that I'm becoming a trash: just lying there on the bed for hours and read. People would have no idea how hard it is for me, to leave my bed and book each day to, well, become human, which includes going to classes and doing the assignments. To be honest, eating and sleeping wasn't even on the top of my priority-list anymore these days.

But then I feel something wrong with my eyes, I couldn't see as clearly as before. I went to check my eyes and they said nothing was wrong. My sister then told me to stop reading in the mean time and let my eyes to rest. So, unfortunately, I had to put down the books. I then started to go online again and found some new-seemingly-interesting series: Da Vinci's Demons and Masters of Sex. Both are period series (still historical) and finished within a week. At the end there's not really a break for my eyes. *evil laugh*

Strangely, I feel my sight got much better now. Maybe there's a different effect from reading than watching, I don't know.

After finishing both series, which are really highly recommended so to say, I began to put my eyes on Downton Abbey, a famous successful british TV-series since 2010. It sets in years short before the World War I (1914-1918) and also afterwards.

I've been planing to watch Downton Abbey since years ago, even when I was still in Indonesia. But I always missed it on TV and I don't like to watch from the middle or with skipped episodes, so I chose not to watch and will try to find the DVDs or stream it later instead. Unfortunately, I never got the time or mood until last week. With all the historical romance feeling blooming inside me, I finally tried the first episode. Then the second. The third. And so on. I found myself not able to stop watching and I finished all 4 completed-series and the uncompleted fifth serie in a week. And then here comes the real madness.

SPOILERS ALLERT!!!

Freitag, 25. Juli 2014

And The 7th President of Indonesia is... JOKO WIDODO!

Sebenernya, gue udah ogah nulis tentang Pemilu lagi. Toh, udah ketahuan siapa yang menang tanggal 22 Juli kemarin: JOKO WIDODO. (Yay! Selamat bertugas, Pak!) xDDD

Terserah sih kalau masih ada pihak yang belum mau menerima kekalahan dan masih mau menggugat sana-sini; mau digugat ke MK atau sampai pengadilan akhirat pun, TERSERAH.

Akan tetapi, berita akhir-akhir ini mulai bikin emosi lagi. Intinya tetap sama sih... Gue nggak ngerti jalan pikir "mereka". Yang membuat susah adalah gue ini 100% dukung Jokowi, jadi segala opini gue pasti berpihak. Jadi, tanpa maksud mengarahkan atau menggurui siapa pun, tulisan ini murni unek-unek gue aja.

Pertama nih ya, kalau mereka fitnah Jokowi, kemudian para pendukung Jokowi mengklarifikasi, dibilang Jokowi nggak suka dikritik. Tapi, kalau gantian Prabowo yang, katakanlah cuman dipertanyakan kejelasan masalah penculikan aktivis 1998 dan kenapa nggak ada kelanjutan hukumnya, dibilang mengungkit-ungkit masa lalu dan fitnah juga. Jadi, kesimpulannya kalau mereka tebar fitnah ke Jokowi, itu kritik; kalau rakyat mempertanyakan kebersihan riwayat hidup Prabowo, itu fitnah.

Mittwoch, 16. Juli 2014

Sementara itu... (Pasca Pencoblosan Pilpres 2014)

Keduanya mungkin terlalu cepat mengklaim kemenangan, tapi hal ini ada hikmahnya karena memunculkan sifat asli seseorang ketika menghadapi kekalahan, bukan ketika masa kampanye.

Jokowi mengklaim kemenangan berdasarkan hasil quick count 8 lembaga survey dengan pengalaman dan kredibilitas diakui, termasuk RRI yang sejak puluhan tahun beroperasi (hasil quick count RRI saat Pilpres 2009 dan Pileg 2014 tidak jauh beda dengan KPU).

Tanggapan Prabowo di BBC tentang hasil quick count yang memenangkan Jokowi:

"Those institutions that you mentioned, they are all very partisan, they have openly supported Joko Widodo for the last may be one year. And They are actually parts of the Joko Widodo campaign supporters, so they are not completely objective, and I think they are part of this grand design to manipulate perception."

Prabowo mengklaim kemenangan berdasarkan hasil quick count 4 lembaga survey yang kredibilitasnya diragukan, menolak diaudit, dan ternyata dimiliki oleh anggota tim suksesnya sendiri. Sekarang beliau mengaku tetap unggul berdasarkan "real count" yang dilakukan timnya.

Tau, kalau hasil quick count belum tentu sama dengan real count KPU.

Paham, kalau "mungkin" 8 lembaga survey itu memang partisan Jokowi.

Lantas apa yang membuat klaim Prabowo berbeda dengan Jokowi? Toh, quick count yang beliau jadikan acuan pun ternyata partisan dirinya.

Prabowo menolak wawancara media yang dianggap mendukung Jokowi, bahkan menyebut Jakarta Post brengsek. Itu baru tidak didukung, belum difitnah. Bagaimana dengan Tabloid Obor tiba-tiba terbit dan isinya fitnahan terhadap Jokowi?

Prabowo, tentang Jokowi di BBC :

"I think my rival is a product of PR campaign; completely the other side; he is actually a tool of the oligarch and I don’t think that’s the correct picture. He is not a man of the people. He claims to be humble but that’s just an act. In my opinion that’s just an act."

Jokowi, tentang Prabowo di Mata Nadjwa:

"Pak Prabowo adalah seorang patriot dan negarawan".

Logika dan nurani saya gagal memahami cara dan sikap kubu sebelah.

Donnerstag, 26. Juni 2014

Mohon Penjelasan dari Pendukung Prahara

Kali ini saya ingin sedikit membantu timses Prabowo-Hatta untuk meyakinkan para pemilih, khususnya para swing-voters. Caranya gampang, cukup dengan menjawab dengan sejelas-jelasnya beberapa pertanyaan berikut ini, yang sedari dulu dipertanyakan tapi belum juga terjawab dengan memuaskan. Apabila semua pertanyaan ini dapat dijawab oleh timses Prabowo-Hatta dengan disertai bukti-bukti yang nyata dan dapat dipercaya, niscaya banyak orang yang selama ini masih ragu, akan semakin mantap memilih nomor urut satu ini. Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya, atau dengan kata lain hanya dijawab dengan alasan-alasan dan penjelasan yang selama ini sudah beredar di khalayak ramai (yang mana saya rasa masih kurang memuaskan dan tidak menjawab rasa ingin tahu saya) tanpa pembuktian atau perkembangan baru, mohon maaf, karena kalau demikian adanya, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa calon Anda tidak pantas jadi pemimpin, setegas dan semahal apapun kudanya.

Samstag, 21. Juni 2014

Kuasa yang Lebih Besar

Setiap manusia punya satu kekosongan dalam diri yang berusaha mereka isi dan penuhi dalam hidup. Sebagian orang percaya, harta dan kekayaan adalah jawaban, maka mereka hidup untuk uang. Sebagian yang lain mengejar kekuasaan, ambisi dan tekad mungkin mampu membuat manusia menghalalkan segala cara. Yang lain percaya bahwa pasangan hidup adalah satu bagian yang hilang dan menyebabkan rasa kosong itu. Maka, manusia akan mendedikasikan hidupnya untuk mencari yang hilang, yang akan membuat hidupnya komplit dan penuh. Tapi ketika seorang manusia telah temukan harta, kuasa, dan cinta, ia akan menyadari, bahwa ada satu kekosongan yang tidak bisa diisi dengan apapun di dunia ini, bahwa ada satu kuasa besar yang manusia tidak dapat miliki atau mengerti. Kuasa itu adalah milik Tuhan.

Kuasa Tuhan adalah maha dan cara kerjanya misterius. Ada satu analogi yang pernah saya dengar waktu sekolah dulu. Mengatakan bahwa dunia ini tercipta lewat suatu kebetulan, adalah seperti seorang tukang jam yang membredel sebuah jam dan memasukannya dalam sebuah kotak. Tukang jam ini kemudian mengocok kotak tersebut, berharap ketika ia membuka kembali kotak tersebut, setiap bagian jam  itu akan terpasang pada tempatnya dan menjadi sebuah jam yang utuh dan fungsional. Berapa persenkah peluang yang ada untuk hal itu dapat terjadi? Nihil. Mustahil.

Mulai dari bagaimana sebuah atom menjadi unsur kemudian benda, hingga setiap meter jarak antara bumi dan matahari. Dari jumlah kaki pada serangga, hingga jumlah helai rambut pada manusia. Dari setiap daun yang berfotosintesis, hingga tiap butir pasir di pantai. Ada kekuatan di luar kemampuan manusia yang mampu merencanakan dan membuat semuanya mungkin untuk terjadi. Ia adalah Sang Pencipta. Tidak peduli berapa banyak maha pencipta yang keeksisannya diklaim manusia, saya percaya bahwa Tuhan ada.

Dienstag, 10. Juni 2014

Which Side Are You?

Semangat Pemilu 2014 lagi-lagi memanaskan media sosial. Kali ini Jokowi-JK vs. Prabowo-Hatta. Sejauh ingatan saya, baru kali ini pemilu begitu hebohnya dan mengundang banyak perhatian dari banyak kalangan. Yang mengejutkan dan menurut saya positif adalah bahwa para anak muda Indonesia pun sangat bersemangat merayakan pesta demokrasi ini. Kadang ketika saya melihat berbagai link artikel tentang Jokowi atau Prabowo yang dishare setiap hari di Facebook, saya sampai berpikir, apa kabar Pak Beye di istana? (Imajinasi saya selalu menggambarkan beliau mencoret dinding dengan turus-turus menghitung sisa harinya di istana.)

Pertanyaannya, siapa yang Anda pilih? Saya sudah memantapkan hati:



I stand on the right side.

Walaupun ada banyak tulisan lain tentang "Mengapa Jokowi?" yang lebih bermutu, saya tetap memutuskan untuk menuliskan pendapat dan alasan-alasan saya. Kalau boleh jujur, ingin rasanya ikutan jadi sukarelawan di tim sukses Pak Joko Widodo, sayangnya situasi, kondisi dan lokasi tidak memungkinkan. Makadari itu, tulisan ini merupakan bentuk dukungan saya untuk kesuksesan beliau.

Saya kembali akan menulis pendapat tentang beberapa berita yang saya dapat, baca, dan memenuhi timeline berkenaan tentang Pilpres 9 Juli mendatang.

So, here we go...



WARNING!! : Tulisan ini bias dan berpihak. Bagi yang juga sudah memantapkan hati dan berada di sisi yang sama dengan saya, semoga semakin mantap pilihannya. Bagi yang sudah memantapkan hati, tapi berdiri di sisi lain, semoga goyah hatinya tidak apa kalau memutuskan untuk tidak baca, atau kalau membaca dan mau menanggapi, monggo... asal dengan cara-cara yang rasional dan beradab. Bagi yang hatinya masih berada di dua pilihan, semoga tulisan ini bisa membantu Anda sekalian memantapkan hati.


1. The men behind

Lebih daripada segala isu HAM yang selalu dijadikan amunisi untuk menyerang kubu Prabowo-Hatta, saya lebih menaruh perhatian kepada tokoh-tokoh pendukung mereka (baca: Prabowo-Hatta Didukung Tokoh Bermasalah) . Kalau boleh jujur lagi, saya bahkan masih lebih tidak mengerti lagi mengapa beberapa dari mereka itu masih berkeliaran bebas memberikan dukungan dan bukannya di penjara.

Mittwoch, 30. April 2014

Kau yang Berasal dari Bintang (Really?)

Oke.

Gue memutuskan untuk mendedikasikan satu posting-an ini untuk membeberkan failed points dari membahas "Kau yang Berasal dari Bintang" (gue singkat KYBDB) bikinan RCTI ini.

FYI, gue penggemar berat KDrama "You Who Came From The Stars" (dari sini gue singkat jadi YWCFTS), yang juga sedang heboh di Asia. Gue nonton serial ini fresh from oven, alias selang satu hari dari jam penayangannya di Korea Selatan, dan langsung jatuh cinta sejak episode pertama.

Kemudian beberapa hari belakangan, gue mendengar desas-desus katanya penyinetronan Indonesia plagiat "beraksi" lagi. Katanya, RCTI membeli hak cerita YWCFTS dan membuat versi Indonesia-nya, yaitu KYBDB. Awalnya gue pikir, hmmm kemajuan juga, produser-produser ini mulai tau malu dan "ngerti" cara minta ijin hak cipta. Tapi kemudian, hari ini beredar berita kalau SBS (channel TV Korsel yang menayangkan YWCFTS) melayangkan protes dan menuduh adanya tindak plagiat oleh RCTI dengan KYBDB-nya. Waduh... Bagaimana ini??

See the difference? See what I meant?


Karena terbukti KYBDB ternyata beneran plagiat belum punya ijin resmi sebagai versi Indonesia dari YWCFTS, maka gue memutuskan untuk menghujat melayangkan beberapa kritik sebagai pemirsa yang menonton komplit YWCFTS dan episode pertama KYBDB. Karena gue nggak sanggup nonton KYBDB lebih dari satu episode, Biar adil, gue hanya bahas episode pertama dari keduanya.

1. Kim Soo Hyun vs. Morgan dan Jun Ji Hyun vs. Nikita Willy


ORANG BUTA MANA NYAMAIN KIM SOO HYUN SAMA MORGAN DAN JUN JI HYUN SAMA NIKITA WILLY??!! Gue nggak akan main fisik lah yah... Nggak baik. Cuman yah... yah... gimana ya... Morgan nggak jelek kok. Nikita Willy juga cakep kok. Gue rasa nggak adil membandingkan Morgan dan Nikita Willy dengan Kim Soo Hyun dan Jun Ji Hyun. Why? YA KALI, GILE AJA LO! Hmmm... levelnya beda ya... Kalau mau membandingkan 'kan harus cari yang selevel dong. FYI, Jun Ji Hyun di Korea itu mungkin levelnya minimal se-Dian Sastro di Indonesia.

Sonntag, 13. April 2014

The Act of Killing a. k. a. Jagal - Apa yang Saya Ketahui tentang Peristiwa G30S

Gue menonton film dokumenter ini kira-kira dua minggu yang lalu, ketika gue (ternyata bisa juga) bosan dengan drama Korea dan film-film biasanya. Selama beberapa hari itu gue nongkrong di Youtube dan website sejenis untuk menonton sejumlah fim dokumenter atau talk show bermutu, seperti "Mata Nadjwa" dan "Kick Andy". Sampai kemudian gue menemukan film Jagal ini, full dan high definition. Mantap.

Sebenarnya gue sudah berusaha menonton film ini setelah membaca rekomendasi seorang kenalan, ditambah waktu gue buka website filmnya, ditulis kalau kita bisa mengunduh film yang bersangkutan secara gratis. Tapi ternyata, kesempatan download gratis itu hanya berlaku di Indonesia dan saat itu belum ada orang yang mengunggah film ini ke internet. Jadilah hasil pencarian gue waktu itu tidak membuahkan hasil: gue hanya bisa menemukan trailer-nya saja.

"Jagal" adalah sebuah film dokumenter mengenai pembantaian anggota PKI di tahun 1960-an, setelah kejadian Gerakan Tiga Puluh September (G30S) tahun 1965. G30S adalah sebuah momentum bersejarah yang menandai runtuhnya kekuasaan Presiden Soekarno (Orde Lama), yang kemudian beralih kepada Jenderal Soeharto (Orde Baru). Hal-hal lain yang identik dengan peristiwa G30S ini adalah pembunuhan 6 orang petinggi angkatan darat pada waktu itu dan seorang ajudannya, bernama Pierre Tendean. Ketujuh mayat itu ditemukan di Lubang Buaya, sebuah sumur tua di daerah Jakarta Timur.

Semasa gue sekolah, gue hanya pernah mendengar G30S, tapi tidak pernah tahu apa cerita sebenarnya. Nyokap gue pernah cerita, bahwa pada jaman beliau masih sekolah, setiap tanggal 30 September semua orang wajib untuk menonton film buatan pemerintah berjudul "Pengkhianatan G30S-PKI" sebagai peringatan akan kekejian komunisme. Waktu jaman gue sekolah, kebijakan itu (untungnya) sudah tidak diberlakukan lagi.

Tangan-Tangan CIA Di Balik "GERAKAN 30 SEPTEMBER"

LATAR BELAKANG
            Komunis telah dipandang dengan sebelah mata oleh Bangsa Indonesia setelah pemberontakannya di Madiun pada tahun 1948, peristiwa berdarah lain yang mencoreng nama partai palu-arit tersebut. Selama beberapa tahun setelahnya PKI hanyalah partai kecil yang punya sejarah hitam.
PKI yang sejak tahun 1951 dikepalai D. N. Aidit mulai bangkit perlahan. Setelah kegagalan pada tahun 1948, PKI bergerak dengan lebih berhati-hati dan terencana, tanpa kekerasan. Partai ini menggunakan taktik menyusupkan berbagai anggotanya ke badan partai-partai, organisasi-organisasi, bahkan angkatan bersenjata. Lambat laun, PKI menjadi suatu kekuatan yang patut diperhitungkan di negeri ini.
            Hal ini terbukti dari keberhasilan PKI masuk jajaran empat partai besar selama pemilu 1955, bersama PNI, Masyumi, dan NU. Aidit pun boleh berbangga akan keberhasilan gerakan ‘bawah tanah’-nya. Selain keberhasilannya dalam mengeruk dukungan rakyat, PKI sendiri membangun hubungannya dengan orang nomor satu di Indonesia saat itu, yaitu Presiden Soekarno.
            Kemudian Presiden Soekarno mengumumkan paham NASAKOM-nya pada 1959. Menyatukan paham nasionalis, agama dan komunis merupakan mimpinya di masa itu. Kaum golongan kiri mendapat lampu hijau dengan pengumuman ini karena, dengan demikian, komunis menjadi salah satu paham yang diakui di negeri ini. Maka, dengan dukungan dan perlindungan dari Presiden Soekarno, PKI semakin melebarkan sayapnya dan menyingkirkan lawan-lawan politiknya.

Dienstag, 1. April 2014

How It Broke My Heart

-Spoilers Alert-

"If it wasn't gonna happen with Robin, then it's just not gonna happen with anyone." -Barney Stinson (How I Met Your Mother Season 9 Finale, "Last Forever")

As you people may have already known, I'm a definite member of Barney Stinson's and his awesomeness' team. To be honest, through the second season I did like Ted-Robin couple very much but I was reminded by the "Aunt Robin" the Ted's kids said back in the season one (when they introduced Robin for the very first time), so I quickly erased all hope I have for Ted-Robin-ship.

Then they made an idea of Barney and Robin (read it like Batman and Robin, it's more fun; trust me!). I LOVE it. I LOVE it. I really really LOVE it. They just belong to each other; drinking scotch, smoking cigars, playing lasertag, etcetera. They are so perfect together for god's sake. Even when I watched the series again from season one, I find it really obvious that they were made for each other. This episode in season one (episode 14 Zip,Zip,Zip) , when Barney and Robin had their bromance started, that's when I realized they GOT to be together someday. 

Through all seasons, through all NINE seasons, I was deeeply touched by how Barney matured and changed for love. I mean, he IS Barney Stinson, who wrote The Bro Codes and The Playbook. THAT Barney Stinson. That man could fell in love so deeply, he proposed in the most romantic way ever since what Ross told Rachel in his parent's anniversary party (and it was only a plan and was never done, so yeah, Barney nails it!). I have watched that proposal episode like millions of times and still, it moves me. 

How cute they are together :'''3

Donnerstag, 27. März 2014

Sudahkah Anda Berperan sebagaimana Mestinya Peran Anda?

Melanjutkan tulisan saya kemarin. Ternyata oh, ternyata unek-unek ini  belum hilang juga.

Dari dulu saya paling anti sama orang-orang yang sok-sokkan. Sok pinter, sok ganteng, sok asik. Walaupun mungkin mereka sebenarnya memang pinter, ganteng dan asik, tapi kalau ditambah 'sok' langsung turun derajatnya jadi kasta paling rendah dalam penilaian saya. Yang betulan pintar saja hilang pesonanya kalau sok, apalagi yang sok pintar, tapi, well, sebenarnya bego. Ditambah nggak mau kalah. Wah, sudahlah itu... Harga mati ill-feel sejagad raya.

Untuk mereka yang kampanye dengan tidak sehat, alias isi kampanyenya hanya kritikan, sindiran, bahkan ejekkan ke lawannya, ada yang mau saya tanyakan.

Apa yang sudah Anda lakukan bagi bangsa ini?

Bukan yang 'partai' Anda lakukan, tapi ANDA. Perubahan besar itu selalu dimulai dari diri kita sendiri. Kalau kalian mengeluh soal macet dan banjir di Jakarta, kemudian merasa gubernur baru DKI itu nggak becus dan tidak tepati janji, sudahkan Anda melakukan sesuatu untuk menanggulangi banjir dan macet itu? Dari yang simple saja deh, seperti buang sampah pada tempatnya dan naik angkutan umum. Pernah dan maukah Anda desak-desakkan naik bus umum, supaya mobil di jalan berkurang dan macet bisa dicegah?

Mittwoch, 26. März 2014

Cuap-Cuap Pemilu 2014: Pemikiran yang Terpendam

Judulnya tsahh... Hehehehe... Berikut adalah pendapat gue, menanggapi berbagai postings berbau pemilu di timeline.  
***
Ajang pemilihan umum tahun ini tampaknya cukup heboh, terutama di kalangan anak muda yang biasanya apatis tentang persoalan politik bangsa. Nggak kelewatan juga para Student/innen di Jerman ini. Sejak beberapa bulan belakangan, berbagai orang sibuk menge-post  berbagai artikel tentang pemilu di jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.

Untuk para perantau seperti saya, group FB PPI Jerman menjadi salah satu sumber utama tentang pemilu 2014. Awalnya saya antusias juga karena tahun ini adalah kali pertama saya berkesempatan untuk ikutan nyoblos. Tapi, lama kelamaan saya emosi sendiri akan banyaknya postingan yang bias dan tidak akurat.

Sebagian orang membagi informasi teknis tentang tata cara pemilu dan saran/anjuran memilih yang benar. Sebagian lagi bertingkah seperti "agen" kampanye beberapa partai tertentu. Kelompok kedua ini yang bikin saya naik darah.

Dimulai dengan share grafik presentase jumlah koruptor dari setiap partai. Tentu saja partai idaman mereka berada di urutan paling bawah. Kemudian data tersebut dibuktikan tidak akurat dan sumbernya tidak terpercaya. Dilanjutkan dengan share segala macam berita tentang partainya yang terlalu dibesar-besarkan. Terakhir sedikit-sedikit mereka menjelek-jelekkan oposisi partainya.

Oleh karena itu, saking saya sudah lama memendam pemikiran ini, saya mau nulis tentang pemilu juga. Berikut adalah pendapat saya berkaitan dengan hal-hal berbau pemilu yang selalu berkeliaran di timeline saya.

Partai mengusung agama tertentu
Ini hal yang sensitif. Saya pribadi tidak setuju kalau agama dikaitkan dengan politik, apalagi Indonesia bukan negara berdasarkan agama tertentu. Agama itu suci, sedangkan politik itu kotor.

"Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindar lagi, maka terjunlah." (Soe Hok Gie - Catatan Harian Seorang Demonstran)

Politik adalah ajang berebut posisi dan kekuasaan. Haruskah hal seperti itu dicampur dengan agama yang jelas-jelas mengajarkan kasih dan berbagi? Tidak perlu munafik, dalam praktik dan kenyataannya lebih sering terjadi agama dijadikan alasan untuk perebutan kekuasaan (bahkan dengan perang dan kekerasan), daripada terjadinya politik yang sifatnya mengalah dan mengasihi.

Freitag, 1. November 2013

New Release: Ein Wunder

Hai, Temans! :))

Gue bikin satu blog baru. Yuk, mari dilihat, tinggal klik tab di atas. ^^



Apa itu "Ein Wunder"? 


Ein Wunder artinya mukjizat dalam bahasa Jerman.

Gue berencana untuk share setiap mukjizat yang gue terima setiap hari, sekecil atau sesepele apapun itu. Gue percaya, sebenernya kita memperoleh mukjizat setiap harinya. Tapi tekadang kita nggak menyadari mukjizat-mukjizat dan berkat kecil, yang kelihatan sepele.

Maka, gue ingin mengingatkan kita semua untuk terus bersyukur atas setiap hal yang kita terima. Gue pun masih belajar untuk selalu bersyukur. :) Dengan bersyukur, kita akan hidup lebih positif dan optimis.

Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.
-Kolose 4: 2

Sekedar info, gue akan menulis dalam bahasa Inggris di Ein Wunder, tujuannya untuk tetap melatih bahasa Inggris gue yang mulai semaput. Selain itu, gue juga berharap sharing cerita gue bisa mencangkup publik lebih luas. :D

Ein Wunder hanya akan berisi cerita-cerita pendek tentang berkat yang gue terima dalam kehidupan sehari-hari. Jadi jangan takut, gue nggak bakal se-random di "Ujung Pena" :P. Hal-hal random dan kegalauan gue, akan tetap gue tulis di "Ujung Pena". Yep, I'm trying to manage two blogs at the same time

Semoga semuanya berjalan lancar dan nggak putus di tengah jalan (seperti kehidupan cintaku *eehhh*). Huehehehe... 

Terakhir, gue berharap tulisan-tulisan iseng ini tetap bermanfaat dan dapat menginspirasi orang lain. :D AMIN! 

Montag, 21. Oktober 2013

My Addiction to 2013 Korean Dramas ♥

As I've mentioned in the last post, I'd like to make another review-list about my most recent favourite korean dramas (you can read my last reviews here).

This time, it's not easy though, because there are many great dramas this year, great stories, great actors/actresses and not to mention, some new talents and come-backs. I've watched so many dramas and it'll be a loooooong list, if I put everything I've seen these past ten months. Also, I watched some old dramas, which aired 1-3 years ago instead of 2013, and some of them made to the list.

So, I decided to review just the best five in my personal opinion :). Enjoy.

-Not in order *SPOILER ALERT*


     1. King of Baking, Kim Tak Gu (a.k.a. Bread, Love and Dreams) - 2010

    Episodes: 30


    This one is exceptional. I've heard about it since years ago, but never made myself to watch it. Reason: they are new actors I've never seen before and, at the time, I was into other things (2008-2011 is the time of my hiatus periods as kdrama-addict, I may say). Besides, I thought it would be a drama with cliche from kitchen-setting drama: some used-to-be-famous bakery, which almost broke down; the boss would be some cold-genious baker, who ended up with one of his ordinary workers; love triangle; unrecuited love; and so on.

    I was NEVER so wrong before.

    It took me 3 years to finally touch its first episode. What makes me decided to watch it, you ask? It's Joo Won! Well, to be honest, earlier this year I almost watch KTG after I finished "Flower Boy Next Door" (another drama with Yoon Shi Yoon and Park Shin Hye as the leads). Yes, Yoon Shi Yoon almost became the reason I watch KTG. But his charms wasn't enough to make me take down all its 30 episodes.

    Later, when I'm already owned by Joo Won and I've watched everything of his but this one, I finally clicked the 'play'-button. I thought, I have even seen all 58 episodes of "Ojakgyo Brothers" for Joo Won, why couldn't I watch a 30 episodes drama, which was his first work on TV and was so famous, it became his 'small' breakthrough. Actually, I was a little bit afraid, that I might hate him after watching KTG because he's supposed to be the bad man. But again, I was wrong! xD

    It is actually a story about life itself with breads and baking on the background, of course.
    Donate Now!