Oke.
Gue memutuskan untuk
mendedikasikan satu posting-an ini
untuk membeberkan failed points
dari membahas "Kau yang Berasal dari Bintang" (gue singkat KYBDB)
bikinan RCTI ini.
FYI, gue penggemar berat KDrama "You Who Came From The
Stars" (dari sini gue singkat jadi YWCFTS), yang juga sedang heboh di
Asia. Gue nonton serial ini fresh from
oven, alias selang satu hari dari jam penayangannya di Korea Selatan, dan
langsung jatuh cinta sejak episode pertama.
Kemudian beberapa hari
belakangan, gue mendengar desas-desus katanya penyinetronan Indonesia plagiat "beraksi" lagi. Katanya, RCTI membeli hak cerita YWCFTS dan membuat versi
Indonesia-nya, yaitu KYBDB. Awalnya gue pikir, hmmm kemajuan juga,
produser-produser ini mulai tau malu dan "ngerti" cara minta ijin hak cipta. Tapi kemudian, hari ini beredar berita kalau SBS (channel
TV Korsel yang menayangkan YWCFTS) melayangkan protes dan menuduh adanya
tindak plagiat oleh RCTI dengan KYBDB-nya. Waduh... Bagaimana ini??
![]() |
| See the difference? See what I meant? |
Karena terbukti KYBDB ternyata beneran plagiat belum punya
ijin resmi sebagai versi Indonesia dari YWCFTS, maka gue memutuskan untuk menghujat
melayangkan beberapa kritik sebagai pemirsa yang menonton komplit YWCFTS dan
episode pertama KYBDB. Karena gue nggak sanggup nonton KYBDB lebih dari satu
episode, Biar adil, gue hanya bahas episode pertama dari keduanya.
1. Kim Soo Hyun vs. Morgan dan Jun Ji Hyun vs. Nikita Willy
1. Kim Soo Hyun vs. Morgan dan Jun Ji Hyun vs. Nikita Willy
2. Pass Code untuk Pintu Apartment
Entahlah... Gue
rasa teknologi semacam ini belom nyampe ke Indonesia dan yang pasti dari
episode pertama KYBDB, kelihatan banget keypad-nya
palsu. I mean, pintunya pintu kayu biasa
gitu dan keypad-nya dari smartphone layar sentuh (yang nyasar
entah dari mana) ditempel begitu saja di daun pintu. Dilihat bagaimana pun, pintu dan keypad-nya nggak sinkron. Gue nggak ngerti, harus sebegitunyakah
meniru YWCFTS? Padahal gue rasa pakai kunci biasa pun nggak masalah, lebih pas
malah. Ini detail sepele, tapi cukup ngaruh buat gue.
3. Dialog
Gue sekarang mengerti dengan apa yang orang katakan tentang lost in translation. Dialognya Morgan-Nikita itusama persis plek-plek diterjemahin dari dialognya Kim Soo Hyun dan Jun Ji Hyun, tapi
efeknya beda. Waktu gue nonton YWCFTS, Do Min Joon itu strict dan geeky-nya
bikin dia makin cium- dan pelukable banget. Sedangkan ketika Morgan mengucapkan
dialog yang sama, perut gue mual kram karena ketawa dan pengin jambak rambut rasanya,
it's so lameeee... You know that feelings, that made your
fingers and toes cringed together. Brrrr...
4. Editing
3. Dialog
Gue sekarang mengerti dengan apa yang orang katakan tentang lost in translation. Dialognya Morgan-Nikita itu
4. Editing
*****
Gue sudah berulang kali kecewa dengan sinetron Indonesia
dan makin hari gue makin nggak ngerti, kenapa harus selalu meniru produk luar
terutama KDrama. Kalau memang beli hak cerita dan mau membuat versi
Indonesianya, ya toh, disesuaikan dengan Indonesia. Jangan main jiplak
plek-plek, seperti pintu rumah dengan pass
code, bahkan sampai kostum yang mirip-mirip sejenis. Toh, dialognya
diperbaharui sedikit dengan gaya bahasa yang lebih indah khas Indonesia, jangan
asal terjemahan. Toh, cara pengambilan gambarnya lebih bervariasi, jangan close up
maju-mudur doang. Toh, keluar masuk musik disesuaikan, volumenya dan timing-nya juga. Tau fungsi fade 'kan? Nah, itu bisa dipake. Kalau
mau jiplak, jiplaklah dengan terhormat dan berkelas.
Jujur, gue merasa harusnya para pembuat sinetron itu nggak
perlu curi ide dari negara tetangga. Coba deh para produser itu ke toko buku,
ada banyak novel-novel karya anak bangsa yang ceritanya bagus-bagus. Kenapa
nggak diadaptasi?
Motivasi para produser sinetron dan acara televisi lainnya
ini, masih jelas sekali, hanyalah uang dan keuntungan. Mereka meninggalkan
aspek seni dalam perfilman dan karya tulis, sayang sekali. Mereka tidak
memerhatikan detail-detail, yang kecil, tapi justru ketelitian akan detail kecilah
yang menjadi tolak ukur kualitas suatu karya. Mereka bukan berkarya, tapi
menghasilkan uang. Sayang sekali.
Setelas puas mengritik sinetron Indonesia yang lagi-lagi
mengecewakan (ini adalah kali pertama gue protes pakai tulisan, biasanya cuman
verbal), yang gue rasakan adalah miris. Miris karena barang jualan nggak mutu
seperti ini, masih laku dipasaran. Artinya bukan hanya produsen yang tamak yang
jadi masalah, tapi juga kualitas selera konsumennya yang juga masih rendah.
Bukan rahasia lagi, bahwa acara televisi yang memiliki rating tinggi, biasanya
bukan acara bermutu: sinetron ratusan episode yang ceritanya mirip dan itu-itu
saja; acara lawakan yang banyak menampilkan hinaan sebagai hal yang lucu,
daripada lelucon cerdas yang menghibur; rekayasa berita, terutama demi
kepentingan politik, dsb. Sedih nggak sih... Televisi sebagai sarana hiburan
yang utama, tapi kelihatannya tidak dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mendidik
rakyatnya, malah menjadi seperti bentuk pembodohan massal.
"Kau yang Berasal dari Bintang" bukanlah kasus
pertama dan juga, tampaknya, masih jauh untuk disebut sebagai yang terakhir.


Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen