Nggak tau kenapa, ya... beberapa
bulan terakhir gue laris jadi teman curcol. Tema curcolnya? Apalagi kalo bukan
perpacaran dan cinta-cintaan.
Di satu sisi gue dengan senang
hati mau mendengarkan cerita mereka dan memberikan saran sebisa gue. Hal ini
didukung 10% oleh kadar kekepoan gue yang lumayan tinggi, sisanya, yah simply
gue seneng bisa berguna dikit buat temen-temen gue.
Di sisi lain, gue bertanya-tanya
sendiri... Mengapa kawan-kawan ini mencari saran ke gue, jomblowati yang
hubungan pertama dan terakhirnya habis dimakan jarak dan kandas di tengah jalan?
WHY? WARUM?! Diriku juga masih belajar soal cinta-cintaan, yo masnya,
mbaknya... Tapi, tetep, gue seneng kalau ada yang curcol ke gue, apa pun
temanya. ;D #kepo #bukalapak
Jadi, begini... Berdasarkan
kisah-kisah yang gue dengar dari sesi-sesi curcol ini, inti kegalauan
teman-teman gue adalah: hati vs. otak; perasaan vs. logika.
"Kalau dia begitu terus gue nggak
sanggup."
"Ya udah, lu selesain aja."
"Tapi, gue masih sayang..."
"..."
Kira-kira
begitu.
.jpg)




