Mittwoch, 30. April 2014

Kau yang Berasal dari Bintang (Really?)

Oke.

Gue memutuskan untuk mendedikasikan satu posting-an ini untuk membeberkan failed points dari membahas "Kau yang Berasal dari Bintang" (gue singkat KYBDB) bikinan RCTI ini.

FYI, gue penggemar berat KDrama "You Who Came From The Stars" (dari sini gue singkat jadi YWCFTS), yang juga sedang heboh di Asia. Gue nonton serial ini fresh from oven, alias selang satu hari dari jam penayangannya di Korea Selatan, dan langsung jatuh cinta sejak episode pertama.

Kemudian beberapa hari belakangan, gue mendengar desas-desus katanya penyinetronan Indonesia plagiat "beraksi" lagi. Katanya, RCTI membeli hak cerita YWCFTS dan membuat versi Indonesia-nya, yaitu KYBDB. Awalnya gue pikir, hmmm kemajuan juga, produser-produser ini mulai tau malu dan "ngerti" cara minta ijin hak cipta. Tapi kemudian, hari ini beredar berita kalau SBS (channel TV Korsel yang menayangkan YWCFTS) melayangkan protes dan menuduh adanya tindak plagiat oleh RCTI dengan KYBDB-nya. Waduh... Bagaimana ini??

See the difference? See what I meant?


Karena terbukti KYBDB ternyata beneran plagiat belum punya ijin resmi sebagai versi Indonesia dari YWCFTS, maka gue memutuskan untuk menghujat melayangkan beberapa kritik sebagai pemirsa yang menonton komplit YWCFTS dan episode pertama KYBDB. Karena gue nggak sanggup nonton KYBDB lebih dari satu episode, Biar adil, gue hanya bahas episode pertama dari keduanya.

1. Kim Soo Hyun vs. Morgan dan Jun Ji Hyun vs. Nikita Willy


ORANG BUTA MANA NYAMAIN KIM SOO HYUN SAMA MORGAN DAN JUN JI HYUN SAMA NIKITA WILLY??!! Gue nggak akan main fisik lah yah... Nggak baik. Cuman yah... yah... gimana ya... Morgan nggak jelek kok. Nikita Willy juga cakep kok. Gue rasa nggak adil membandingkan Morgan dan Nikita Willy dengan Kim Soo Hyun dan Jun Ji Hyun. Why? YA KALI, GILE AJA LO! Hmmm... levelnya beda ya... Kalau mau membandingkan 'kan harus cari yang selevel dong. FYI, Jun Ji Hyun di Korea itu mungkin levelnya minimal se-Dian Sastro di Indonesia.

Sonntag, 27. April 2014

In Too Deep - Genesis

I just found another song, that've stucked in my head since a couple of days. :)

****

In Too Deep - Genesis

All that time I was searching, nowhere to run to, it started me thinking,
Wondering what I could make of my life, and who'd be waiting,
Asking all kinds of questions, to myself, but never finding the answers,
Crying at the top of my voice, and no one listening,
All this time, I still remember everything you said
There's so much you promised, how could I ever forget.

Listen, you know I love you, but I just can't take this,
You know I love you, but I'm playing for keeps,
Although I need you, I'm not gonna make this,
You know I want to, but I'm in too deep.

So listen, listen to me,
Ooh you must believe me,
I can feel your eyes go thru me,
But I don't know why.



Sonntag, 13. April 2014

The Act of Killing a. k. a. Jagal - Apa yang Saya Ketahui tentang Peristiwa G30S

Gue menonton film dokumenter ini kira-kira dua minggu yang lalu, ketika gue (ternyata bisa juga) bosan dengan drama Korea dan film-film biasanya. Selama beberapa hari itu gue nongkrong di Youtube dan website sejenis untuk menonton sejumlah fim dokumenter atau talk show bermutu, seperti "Mata Nadjwa" dan "Kick Andy". Sampai kemudian gue menemukan film Jagal ini, full dan high definition. Mantap.

Sebenarnya gue sudah berusaha menonton film ini setelah membaca rekomendasi seorang kenalan, ditambah waktu gue buka website filmnya, ditulis kalau kita bisa mengunduh film yang bersangkutan secara gratis. Tapi ternyata, kesempatan download gratis itu hanya berlaku di Indonesia dan saat itu belum ada orang yang mengunggah film ini ke internet. Jadilah hasil pencarian gue waktu itu tidak membuahkan hasil: gue hanya bisa menemukan trailer-nya saja.

"Jagal" adalah sebuah film dokumenter mengenai pembantaian anggota PKI di tahun 1960-an, setelah kejadian Gerakan Tiga Puluh September (G30S) tahun 1965. G30S adalah sebuah momentum bersejarah yang menandai runtuhnya kekuasaan Presiden Soekarno (Orde Lama), yang kemudian beralih kepada Jenderal Soeharto (Orde Baru). Hal-hal lain yang identik dengan peristiwa G30S ini adalah pembunuhan 6 orang petinggi angkatan darat pada waktu itu dan seorang ajudannya, bernama Pierre Tendean. Ketujuh mayat itu ditemukan di Lubang Buaya, sebuah sumur tua di daerah Jakarta Timur.

Semasa gue sekolah, gue hanya pernah mendengar G30S, tapi tidak pernah tahu apa cerita sebenarnya. Nyokap gue pernah cerita, bahwa pada jaman beliau masih sekolah, setiap tanggal 30 September semua orang wajib untuk menonton film buatan pemerintah berjudul "Pengkhianatan G30S-PKI" sebagai peringatan akan kekejian komunisme. Waktu jaman gue sekolah, kebijakan itu (untungnya) sudah tidak diberlakukan lagi.

Tangan-Tangan CIA Di Balik "GERAKAN 30 SEPTEMBER"

LATAR BELAKANG
            Komunis telah dipandang dengan sebelah mata oleh Bangsa Indonesia setelah pemberontakannya di Madiun pada tahun 1948, peristiwa berdarah lain yang mencoreng nama partai palu-arit tersebut. Selama beberapa tahun setelahnya PKI hanyalah partai kecil yang punya sejarah hitam.
PKI yang sejak tahun 1951 dikepalai D. N. Aidit mulai bangkit perlahan. Setelah kegagalan pada tahun 1948, PKI bergerak dengan lebih berhati-hati dan terencana, tanpa kekerasan. Partai ini menggunakan taktik menyusupkan berbagai anggotanya ke badan partai-partai, organisasi-organisasi, bahkan angkatan bersenjata. Lambat laun, PKI menjadi suatu kekuatan yang patut diperhitungkan di negeri ini.
            Hal ini terbukti dari keberhasilan PKI masuk jajaran empat partai besar selama pemilu 1955, bersama PNI, Masyumi, dan NU. Aidit pun boleh berbangga akan keberhasilan gerakan ‘bawah tanah’-nya. Selain keberhasilannya dalam mengeruk dukungan rakyat, PKI sendiri membangun hubungannya dengan orang nomor satu di Indonesia saat itu, yaitu Presiden Soekarno.
            Kemudian Presiden Soekarno mengumumkan paham NASAKOM-nya pada 1959. Menyatukan paham nasionalis, agama dan komunis merupakan mimpinya di masa itu. Kaum golongan kiri mendapat lampu hijau dengan pengumuman ini karena, dengan demikian, komunis menjadi salah satu paham yang diakui di negeri ini. Maka, dengan dukungan dan perlindungan dari Presiden Soekarno, PKI semakin melebarkan sayapnya dan menyingkirkan lawan-lawan politiknya.

Dienstag, 1. April 2014

How It Broke My Heart

-Spoilers Alert-

"If it wasn't gonna happen with Robin, then it's just not gonna happen with anyone." -Barney Stinson (How I Met Your Mother Season 9 Finale, "Last Forever")

As you people may have already known, I'm a definite member of Barney Stinson's and his awesomeness' team. To be honest, through the second season I did like Ted-Robin couple very much but I was reminded by the "Aunt Robin" the Ted's kids said back in the season one (when they introduced Robin for the very first time), so I quickly erased all hope I have for Ted-Robin-ship.

Then they made an idea of Barney and Robin (read it like Batman and Robin, it's more fun; trust me!). I LOVE it. I LOVE it. I really really LOVE it. They just belong to each other; drinking scotch, smoking cigars, playing lasertag, etcetera. They are so perfect together for god's sake. Even when I watched the series again from season one, I find it really obvious that they were made for each other. This episode in season one (episode 14 Zip,Zip,Zip) , when Barney and Robin had their bromance started, that's when I realized they GOT to be together someday. 

Through all seasons, through all NINE seasons, I was deeeply touched by how Barney matured and changed for love. I mean, he IS Barney Stinson, who wrote The Bro Codes and The Playbook. THAT Barney Stinson. That man could fell in love so deeply, he proposed in the most romantic way ever since what Ross told Rachel in his parent's anniversary party (and it was only a plan and was never done, so yeah, Barney nails it!). I have watched that proposal episode like millions of times and still, it moves me. 

How cute they are together :'''3
Donate Now!