Sejak kemarin saya berusaha untuk
tidak menonton video Ibu Veronica Tan yang menangis saat membacakan surat BTP.
Teringat efek video Pak Djarot yang menangis di Balai Kota diiringi lagu Nyiur
Melambai, saya pikir cukuplah sudah beban mental akibat cerita satu ini. Mau
marah sudah tidak ada energi, mau berkomentar sepertinya nggak mempan karena
yang rasanya perlu dididik sudah tuli dan buta hati dan pikirannya. Foto-foto screenshot dan cuplikan video yang
sliweran di media sosial cuman saya scroll,
paling baca caption untuk tau ada apa lagi ini (karena saya terlalu kepo untuk
tidak tahu). So…
“Aku tidak ingin jadi pohon bambu, aku ingin jadi pohon Oak yang berani melawan angin “ -Soe Hok Gie
Waktu SMP akhir saya bermimpi untuk kuliah ke luar negeri. Alasannya hanya satu, karena keren. Kayaknya kece banget kalo punya embel-embel lulusan luar negeri dan punya kolega bule. Nggak ada pikiran untuk kembali membangun negeri, hanya mimpi untuk punya kehidupan yang lebih baik di LUAR negeri.
Sampai di awal masa SMA saya mengenal
sosok Soe Hok Gie. Awalnya juga hanya karena saya ngefans sama Nicholas
Saputra, aktor yang memerankan Gie di layar lebar (Hehehehe... era ababil).
Jadi saya baca catatan hariannya yang sudah dibukukan dan beberapa buku lain.
Dari sana saya kagum, sekaligus malu.
Dari baca-bacaan Gie sejak masa
sekolah saja sudah sangat berbeda dengan apa yang saya baca: mainly novel cinta-cintaan, fantasi atau
komik. Doi bacanya sudah genre filosofi, buku-buku yang membahas ideologi dan
kumpulan puisi.
Gie juga keturunan Tionghoa, dari
namanya saja sudah jelas. Tapi walau dia pro asimilasi, dia enggan
meng-indonesiakan namanya. Saya melihat ini sebagai bukti bagaimana Gie
berjuang tanpa melupakan asal-usul atau jati dirinya. Dia tidak munafik.
Memang nama saya dari lahir sudah
tidak kecina-cinaan, tapi seperti yang sudah semakin diperjelas akhir-akhir
ini, tampilan fisik lah yang jadi tolak ukur di Indonesia. Tidak satupun orang
di keluarga saya masih berbahasa mandarin, kecuali beberapa yang memang belajar
bahasa tersebut. Sudah juga beberapa generasi di Indonesia, tapi dimata banyak
orang kami adalah cina. Saya tidak tersinggung dipanggil cina, karena itu ada
di darah saya dan tidak akan bias hilang. Tapi saya sedih jikalau sebutan itu
menjadi bentuk diskriminasi dan penjara mental.
