Mittwoch, 24. Mai 2017

Ssstt... Be Invisible

Sejak kemarin saya berusaha untuk tidak menonton video Ibu Veronica Tan yang menangis saat membacakan surat BTP. Teringat efek video Pak Djarot yang menangis di Balai Kota diiringi lagu Nyiur Melambai, saya pikir cukuplah sudah beban mental akibat cerita satu ini. Mau marah sudah tidak ada energi, mau berkomentar sepertinya nggak mempan karena yang rasanya perlu dididik sudah tuli dan buta hati dan pikirannya. Foto-foto screenshot dan cuplikan video yang sliweran di media sosial cuman saya scroll, paling baca caption untuk tau ada apa lagi ini (karena saya terlalu kepo untuk tidak tahu). So…

“Aku tidak ingin jadi pohon bambu, aku ingin jadi pohon Oak yang berani melawan angin “ -Soe Hok Gie

Waktu SMP akhir saya bermimpi untuk kuliah ke luar negeri. Alasannya hanya satu, karena keren. Kayaknya kece banget kalo punya embel-embel lulusan luar negeri dan punya kolega bule. Nggak ada pikiran untuk kembali membangun negeri, hanya mimpi untuk punya kehidupan yang lebih baik di LUAR negeri. 

Sampai di awal masa SMA saya mengenal sosok Soe Hok Gie. Awalnya juga hanya karena saya ngefans sama Nicholas Saputra, aktor yang memerankan Gie di layar lebar (Hehehehe... era ababil). Jadi saya baca catatan hariannya yang sudah dibukukan dan beberapa buku lain. Dari sana saya kagum, sekaligus malu. 

Dari baca-bacaan Gie sejak masa sekolah saja sudah sangat berbeda dengan apa yang saya baca: mainly novel cinta-cintaan, fantasi atau komik. Doi bacanya sudah genre filosofi, buku-buku yang membahas ideologi dan kumpulan puisi.

Gie juga keturunan Tionghoa, dari namanya saja sudah jelas. Tapi walau dia pro asimilasi, dia enggan meng-indonesiakan namanya. Saya melihat ini sebagai bukti bagaimana Gie berjuang tanpa melupakan asal-usul atau jati dirinya. Dia tidak munafik.

Memang nama saya dari lahir sudah tidak kecina-cinaan, tapi seperti yang sudah semakin diperjelas akhir-akhir ini, tampilan fisik lah yang jadi tolak ukur di Indonesia. Tidak satupun orang di keluarga saya masih berbahasa mandarin, kecuali beberapa yang memang belajar bahasa tersebut. Sudah juga beberapa generasi di Indonesia, tapi dimata banyak orang kami adalah cina. Saya tidak tersinggung dipanggil cina, karena itu ada di darah saya dan tidak akan bias hilang. Tapi saya sedih jikalau sebutan itu menjadi bentuk diskriminasi dan penjara mental.

Donnerstag, 4. Mai 2017

Things That Are Equally Important But Mostly Forgotten

Selama kira-kira 1,5 tahun saya masuk ke Kepengurusan PPI Jerman 2015-2017 dan sudah dibebastugaskan akhir April 2017 kemarin. Saya diberi tanggung jawab sebagai koordinator Divisi Humas dan Informasi. Tugas utama divisi ini pada dasarnya adalah menyebarluaskan informasi dan menjawab berbagai pertanyaan dari email dan media sosial lainnya. Pertanyaan yang paling sering adalah mengenai studi di Jerman: Bagaimana cara mendaftar, mencari universitas, berapa biaya hidup per bulan, dan lain sebagainya. Semuanya adalah hal-hal teknis, birokrasi dan administrasi.

Here’s what I’m going to say.

Ada BANYAK hal lain yang harus kalian beri perhatian khusus. Ini berlaku untuk semua yang tertarik untuk merantau dan studi di Jerman atau luar negeri lainnya. Satu yang paling penting buat saya adalah KEMANDIRIAN. Tolong coba direfleksikan sebelum heboh soal administrasi, UN atau lain-lainnya. Apakah Anda mampu mengurus diri Anda sendiri? Mandiri bukan hanya berarti makan dan mandi sendiri. NEIN. Berikut hal-hal yang menurut saya cukup penting untuk diperhatikan dan dilatih sebelum merantau ke negeri orang.
Donate Now!