Posts mit dem Label Pemilu 2014 werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label Pemilu 2014 werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Freitag, 25. Juli 2014

And The 7th President of Indonesia is... JOKO WIDODO!

Sebenernya, gue udah ogah nulis tentang Pemilu lagi. Toh, udah ketahuan siapa yang menang tanggal 22 Juli kemarin: JOKO WIDODO. (Yay! Selamat bertugas, Pak!) xDDD

Terserah sih kalau masih ada pihak yang belum mau menerima kekalahan dan masih mau menggugat sana-sini; mau digugat ke MK atau sampai pengadilan akhirat pun, TERSERAH.

Akan tetapi, berita akhir-akhir ini mulai bikin emosi lagi. Intinya tetap sama sih... Gue nggak ngerti jalan pikir "mereka". Yang membuat susah adalah gue ini 100% dukung Jokowi, jadi segala opini gue pasti berpihak. Jadi, tanpa maksud mengarahkan atau menggurui siapa pun, tulisan ini murni unek-unek gue aja.

Pertama nih ya, kalau mereka fitnah Jokowi, kemudian para pendukung Jokowi mengklarifikasi, dibilang Jokowi nggak suka dikritik. Tapi, kalau gantian Prabowo yang, katakanlah cuman dipertanyakan kejelasan masalah penculikan aktivis 1998 dan kenapa nggak ada kelanjutan hukumnya, dibilang mengungkit-ungkit masa lalu dan fitnah juga. Jadi, kesimpulannya kalau mereka tebar fitnah ke Jokowi, itu kritik; kalau rakyat mempertanyakan kebersihan riwayat hidup Prabowo, itu fitnah.

Mittwoch, 16. Juli 2014

Sementara itu... (Pasca Pencoblosan Pilpres 2014)

Keduanya mungkin terlalu cepat mengklaim kemenangan, tapi hal ini ada hikmahnya karena memunculkan sifat asli seseorang ketika menghadapi kekalahan, bukan ketika masa kampanye.

Jokowi mengklaim kemenangan berdasarkan hasil quick count 8 lembaga survey dengan pengalaman dan kredibilitas diakui, termasuk RRI yang sejak puluhan tahun beroperasi (hasil quick count RRI saat Pilpres 2009 dan Pileg 2014 tidak jauh beda dengan KPU).

Tanggapan Prabowo di BBC tentang hasil quick count yang memenangkan Jokowi:

"Those institutions that you mentioned, they are all very partisan, they have openly supported Joko Widodo for the last may be one year. And They are actually parts of the Joko Widodo campaign supporters, so they are not completely objective, and I think they are part of this grand design to manipulate perception."

Prabowo mengklaim kemenangan berdasarkan hasil quick count 4 lembaga survey yang kredibilitasnya diragukan, menolak diaudit, dan ternyata dimiliki oleh anggota tim suksesnya sendiri. Sekarang beliau mengaku tetap unggul berdasarkan "real count" yang dilakukan timnya.

Tau, kalau hasil quick count belum tentu sama dengan real count KPU.

Paham, kalau "mungkin" 8 lembaga survey itu memang partisan Jokowi.

Lantas apa yang membuat klaim Prabowo berbeda dengan Jokowi? Toh, quick count yang beliau jadikan acuan pun ternyata partisan dirinya.

Prabowo menolak wawancara media yang dianggap mendukung Jokowi, bahkan menyebut Jakarta Post brengsek. Itu baru tidak didukung, belum difitnah. Bagaimana dengan Tabloid Obor tiba-tiba terbit dan isinya fitnahan terhadap Jokowi?

Prabowo, tentang Jokowi di BBC :

"I think my rival is a product of PR campaign; completely the other side; he is actually a tool of the oligarch and I don’t think that’s the correct picture. He is not a man of the people. He claims to be humble but that’s just an act. In my opinion that’s just an act."

Jokowi, tentang Prabowo di Mata Nadjwa:

"Pak Prabowo adalah seorang patriot dan negarawan".

Logika dan nurani saya gagal memahami cara dan sikap kubu sebelah.

Donnerstag, 26. Juni 2014

Mohon Penjelasan dari Pendukung Prahara

Kali ini saya ingin sedikit membantu timses Prabowo-Hatta untuk meyakinkan para pemilih, khususnya para swing-voters. Caranya gampang, cukup dengan menjawab dengan sejelas-jelasnya beberapa pertanyaan berikut ini, yang sedari dulu dipertanyakan tapi belum juga terjawab dengan memuaskan. Apabila semua pertanyaan ini dapat dijawab oleh timses Prabowo-Hatta dengan disertai bukti-bukti yang nyata dan dapat dipercaya, niscaya banyak orang yang selama ini masih ragu, akan semakin mantap memilih nomor urut satu ini. Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya, atau dengan kata lain hanya dijawab dengan alasan-alasan dan penjelasan yang selama ini sudah beredar di khalayak ramai (yang mana saya rasa masih kurang memuaskan dan tidak menjawab rasa ingin tahu saya) tanpa pembuktian atau perkembangan baru, mohon maaf, karena kalau demikian adanya, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa calon Anda tidak pantas jadi pemimpin, setegas dan semahal apapun kudanya.

Samstag, 21. Juni 2014

Kuasa yang Lebih Besar

Setiap manusia punya satu kekosongan dalam diri yang berusaha mereka isi dan penuhi dalam hidup. Sebagian orang percaya, harta dan kekayaan adalah jawaban, maka mereka hidup untuk uang. Sebagian yang lain mengejar kekuasaan, ambisi dan tekad mungkin mampu membuat manusia menghalalkan segala cara. Yang lain percaya bahwa pasangan hidup adalah satu bagian yang hilang dan menyebabkan rasa kosong itu. Maka, manusia akan mendedikasikan hidupnya untuk mencari yang hilang, yang akan membuat hidupnya komplit dan penuh. Tapi ketika seorang manusia telah temukan harta, kuasa, dan cinta, ia akan menyadari, bahwa ada satu kekosongan yang tidak bisa diisi dengan apapun di dunia ini, bahwa ada satu kuasa besar yang manusia tidak dapat miliki atau mengerti. Kuasa itu adalah milik Tuhan.

Kuasa Tuhan adalah maha dan cara kerjanya misterius. Ada satu analogi yang pernah saya dengar waktu sekolah dulu. Mengatakan bahwa dunia ini tercipta lewat suatu kebetulan, adalah seperti seorang tukang jam yang membredel sebuah jam dan memasukannya dalam sebuah kotak. Tukang jam ini kemudian mengocok kotak tersebut, berharap ketika ia membuka kembali kotak tersebut, setiap bagian jam  itu akan terpasang pada tempatnya dan menjadi sebuah jam yang utuh dan fungsional. Berapa persenkah peluang yang ada untuk hal itu dapat terjadi? Nihil. Mustahil.

Mulai dari bagaimana sebuah atom menjadi unsur kemudian benda, hingga setiap meter jarak antara bumi dan matahari. Dari jumlah kaki pada serangga, hingga jumlah helai rambut pada manusia. Dari setiap daun yang berfotosintesis, hingga tiap butir pasir di pantai. Ada kekuatan di luar kemampuan manusia yang mampu merencanakan dan membuat semuanya mungkin untuk terjadi. Ia adalah Sang Pencipta. Tidak peduli berapa banyak maha pencipta yang keeksisannya diklaim manusia, saya percaya bahwa Tuhan ada.

Dienstag, 10. Juni 2014

Which Side Are You?

Semangat Pemilu 2014 lagi-lagi memanaskan media sosial. Kali ini Jokowi-JK vs. Prabowo-Hatta. Sejauh ingatan saya, baru kali ini pemilu begitu hebohnya dan mengundang banyak perhatian dari banyak kalangan. Yang mengejutkan dan menurut saya positif adalah bahwa para anak muda Indonesia pun sangat bersemangat merayakan pesta demokrasi ini. Kadang ketika saya melihat berbagai link artikel tentang Jokowi atau Prabowo yang dishare setiap hari di Facebook, saya sampai berpikir, apa kabar Pak Beye di istana? (Imajinasi saya selalu menggambarkan beliau mencoret dinding dengan turus-turus menghitung sisa harinya di istana.)

Pertanyaannya, siapa yang Anda pilih? Saya sudah memantapkan hati:



I stand on the right side.

Walaupun ada banyak tulisan lain tentang "Mengapa Jokowi?" yang lebih bermutu, saya tetap memutuskan untuk menuliskan pendapat dan alasan-alasan saya. Kalau boleh jujur, ingin rasanya ikutan jadi sukarelawan di tim sukses Pak Joko Widodo, sayangnya situasi, kondisi dan lokasi tidak memungkinkan. Makadari itu, tulisan ini merupakan bentuk dukungan saya untuk kesuksesan beliau.

Saya kembali akan menulis pendapat tentang beberapa berita yang saya dapat, baca, dan memenuhi timeline berkenaan tentang Pilpres 9 Juli mendatang.

So, here we go...



WARNING!! : Tulisan ini bias dan berpihak. Bagi yang juga sudah memantapkan hati dan berada di sisi yang sama dengan saya, semoga semakin mantap pilihannya. Bagi yang sudah memantapkan hati, tapi berdiri di sisi lain, semoga goyah hatinya tidak apa kalau memutuskan untuk tidak baca, atau kalau membaca dan mau menanggapi, monggo... asal dengan cara-cara yang rasional dan beradab. Bagi yang hatinya masih berada di dua pilihan, semoga tulisan ini bisa membantu Anda sekalian memantapkan hati.


1. The men behind

Lebih daripada segala isu HAM yang selalu dijadikan amunisi untuk menyerang kubu Prabowo-Hatta, saya lebih menaruh perhatian kepada tokoh-tokoh pendukung mereka (baca: Prabowo-Hatta Didukung Tokoh Bermasalah) . Kalau boleh jujur lagi, saya bahkan masih lebih tidak mengerti lagi mengapa beberapa dari mereka itu masih berkeliaran bebas memberikan dukungan dan bukannya di penjara.

Sonntag, 13. April 2014

The Act of Killing a. k. a. Jagal - Apa yang Saya Ketahui tentang Peristiwa G30S

Gue menonton film dokumenter ini kira-kira dua minggu yang lalu, ketika gue (ternyata bisa juga) bosan dengan drama Korea dan film-film biasanya. Selama beberapa hari itu gue nongkrong di Youtube dan website sejenis untuk menonton sejumlah fim dokumenter atau talk show bermutu, seperti "Mata Nadjwa" dan "Kick Andy". Sampai kemudian gue menemukan film Jagal ini, full dan high definition. Mantap.

Sebenarnya gue sudah berusaha menonton film ini setelah membaca rekomendasi seorang kenalan, ditambah waktu gue buka website filmnya, ditulis kalau kita bisa mengunduh film yang bersangkutan secara gratis. Tapi ternyata, kesempatan download gratis itu hanya berlaku di Indonesia dan saat itu belum ada orang yang mengunggah film ini ke internet. Jadilah hasil pencarian gue waktu itu tidak membuahkan hasil: gue hanya bisa menemukan trailer-nya saja.

"Jagal" adalah sebuah film dokumenter mengenai pembantaian anggota PKI di tahun 1960-an, setelah kejadian Gerakan Tiga Puluh September (G30S) tahun 1965. G30S adalah sebuah momentum bersejarah yang menandai runtuhnya kekuasaan Presiden Soekarno (Orde Lama), yang kemudian beralih kepada Jenderal Soeharto (Orde Baru). Hal-hal lain yang identik dengan peristiwa G30S ini adalah pembunuhan 6 orang petinggi angkatan darat pada waktu itu dan seorang ajudannya, bernama Pierre Tendean. Ketujuh mayat itu ditemukan di Lubang Buaya, sebuah sumur tua di daerah Jakarta Timur.

Semasa gue sekolah, gue hanya pernah mendengar G30S, tapi tidak pernah tahu apa cerita sebenarnya. Nyokap gue pernah cerita, bahwa pada jaman beliau masih sekolah, setiap tanggal 30 September semua orang wajib untuk menonton film buatan pemerintah berjudul "Pengkhianatan G30S-PKI" sebagai peringatan akan kekejian komunisme. Waktu jaman gue sekolah, kebijakan itu (untungnya) sudah tidak diberlakukan lagi.

Tangan-Tangan CIA Di Balik "GERAKAN 30 SEPTEMBER"

LATAR BELAKANG
            Komunis telah dipandang dengan sebelah mata oleh Bangsa Indonesia setelah pemberontakannya di Madiun pada tahun 1948, peristiwa berdarah lain yang mencoreng nama partai palu-arit tersebut. Selama beberapa tahun setelahnya PKI hanyalah partai kecil yang punya sejarah hitam.
PKI yang sejak tahun 1951 dikepalai D. N. Aidit mulai bangkit perlahan. Setelah kegagalan pada tahun 1948, PKI bergerak dengan lebih berhati-hati dan terencana, tanpa kekerasan. Partai ini menggunakan taktik menyusupkan berbagai anggotanya ke badan partai-partai, organisasi-organisasi, bahkan angkatan bersenjata. Lambat laun, PKI menjadi suatu kekuatan yang patut diperhitungkan di negeri ini.
            Hal ini terbukti dari keberhasilan PKI masuk jajaran empat partai besar selama pemilu 1955, bersama PNI, Masyumi, dan NU. Aidit pun boleh berbangga akan keberhasilan gerakan ‘bawah tanah’-nya. Selain keberhasilannya dalam mengeruk dukungan rakyat, PKI sendiri membangun hubungannya dengan orang nomor satu di Indonesia saat itu, yaitu Presiden Soekarno.
            Kemudian Presiden Soekarno mengumumkan paham NASAKOM-nya pada 1959. Menyatukan paham nasionalis, agama dan komunis merupakan mimpinya di masa itu. Kaum golongan kiri mendapat lampu hijau dengan pengumuman ini karena, dengan demikian, komunis menjadi salah satu paham yang diakui di negeri ini. Maka, dengan dukungan dan perlindungan dari Presiden Soekarno, PKI semakin melebarkan sayapnya dan menyingkirkan lawan-lawan politiknya.

Donnerstag, 27. März 2014

Sudahkah Anda Berperan sebagaimana Mestinya Peran Anda?

Melanjutkan tulisan saya kemarin. Ternyata oh, ternyata unek-unek ini  belum hilang juga.

Dari dulu saya paling anti sama orang-orang yang sok-sokkan. Sok pinter, sok ganteng, sok asik. Walaupun mungkin mereka sebenarnya memang pinter, ganteng dan asik, tapi kalau ditambah 'sok' langsung turun derajatnya jadi kasta paling rendah dalam penilaian saya. Yang betulan pintar saja hilang pesonanya kalau sok, apalagi yang sok pintar, tapi, well, sebenarnya bego. Ditambah nggak mau kalah. Wah, sudahlah itu... Harga mati ill-feel sejagad raya.

Untuk mereka yang kampanye dengan tidak sehat, alias isi kampanyenya hanya kritikan, sindiran, bahkan ejekkan ke lawannya, ada yang mau saya tanyakan.

Apa yang sudah Anda lakukan bagi bangsa ini?

Bukan yang 'partai' Anda lakukan, tapi ANDA. Perubahan besar itu selalu dimulai dari diri kita sendiri. Kalau kalian mengeluh soal macet dan banjir di Jakarta, kemudian merasa gubernur baru DKI itu nggak becus dan tidak tepati janji, sudahkan Anda melakukan sesuatu untuk menanggulangi banjir dan macet itu? Dari yang simple saja deh, seperti buang sampah pada tempatnya dan naik angkutan umum. Pernah dan maukah Anda desak-desakkan naik bus umum, supaya mobil di jalan berkurang dan macet bisa dicegah?

Mittwoch, 26. März 2014

Cuap-Cuap Pemilu 2014: Pemikiran yang Terpendam

Judulnya tsahh... Hehehehe... Berikut adalah pendapat gue, menanggapi berbagai postings berbau pemilu di timeline.  
***
Ajang pemilihan umum tahun ini tampaknya cukup heboh, terutama di kalangan anak muda yang biasanya apatis tentang persoalan politik bangsa. Nggak kelewatan juga para Student/innen di Jerman ini. Sejak beberapa bulan belakangan, berbagai orang sibuk menge-post  berbagai artikel tentang pemilu di jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.

Untuk para perantau seperti saya, group FB PPI Jerman menjadi salah satu sumber utama tentang pemilu 2014. Awalnya saya antusias juga karena tahun ini adalah kali pertama saya berkesempatan untuk ikutan nyoblos. Tapi, lama kelamaan saya emosi sendiri akan banyaknya postingan yang bias dan tidak akurat.

Sebagian orang membagi informasi teknis tentang tata cara pemilu dan saran/anjuran memilih yang benar. Sebagian lagi bertingkah seperti "agen" kampanye beberapa partai tertentu. Kelompok kedua ini yang bikin saya naik darah.

Dimulai dengan share grafik presentase jumlah koruptor dari setiap partai. Tentu saja partai idaman mereka berada di urutan paling bawah. Kemudian data tersebut dibuktikan tidak akurat dan sumbernya tidak terpercaya. Dilanjutkan dengan share segala macam berita tentang partainya yang terlalu dibesar-besarkan. Terakhir sedikit-sedikit mereka menjelek-jelekkan oposisi partainya.

Oleh karena itu, saking saya sudah lama memendam pemikiran ini, saya mau nulis tentang pemilu juga. Berikut adalah pendapat saya berkaitan dengan hal-hal berbau pemilu yang selalu berkeliaran di timeline saya.

Partai mengusung agama tertentu
Ini hal yang sensitif. Saya pribadi tidak setuju kalau agama dikaitkan dengan politik, apalagi Indonesia bukan negara berdasarkan agama tertentu. Agama itu suci, sedangkan politik itu kotor.

"Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindar lagi, maka terjunlah." (Soe Hok Gie - Catatan Harian Seorang Demonstran)

Politik adalah ajang berebut posisi dan kekuasaan. Haruskah hal seperti itu dicampur dengan agama yang jelas-jelas mengajarkan kasih dan berbagi? Tidak perlu munafik, dalam praktik dan kenyataannya lebih sering terjadi agama dijadikan alasan untuk perebutan kekuasaan (bahkan dengan perang dan kekerasan), daripada terjadinya politik yang sifatnya mengalah dan mengasihi.
Donate Now!