Judulnya
tsahh... Hehehehe... Berikut adalah
pendapat gue, menanggapi berbagai postings
berbau pemilu di timeline.
***
Ajang pemilihan umum tahun ini
tampaknya cukup heboh, terutama di kalangan anak muda yang biasanya apatis
tentang persoalan politik bangsa. Nggak kelewatan juga para Student/innen di Jerman ini. Sejak
beberapa bulan belakangan, berbagai orang sibuk menge-post berbagai artikel tentang
pemilu di jejaring sosial seperti Facebook
dan Twitter.
Untuk para perantau seperti saya,
group FB PPI Jerman menjadi salah satu sumber utama tentang pemilu 2014.
Awalnya saya antusias juga karena tahun ini adalah kali pertama saya
berkesempatan untuk ikutan nyoblos.
Tapi, lama kelamaan saya emosi sendiri akan banyaknya postingan yang bias dan tidak akurat.
Sebagian orang membagi informasi
teknis tentang tata cara pemilu dan saran/anjuran memilih yang benar. Sebagian
lagi bertingkah seperti "agen" kampanye beberapa partai tertentu. Kelompok
kedua ini yang bikin saya naik darah.
Dimulai dengan share grafik presentase jumlah koruptor
dari setiap partai. Tentu saja partai idaman mereka berada di urutan paling
bawah. Kemudian data tersebut dibuktikan tidak akurat dan sumbernya tidak
terpercaya. Dilanjutkan dengan share segala
macam berita tentang partainya yang terlalu dibesar-besarkan. Terakhir
sedikit-sedikit mereka menjelek-jelekkan oposisi partainya.
Oleh karena itu, saking saya
sudah lama memendam pemikiran ini, saya mau nulis tentang pemilu juga. Berikut
adalah pendapat saya berkaitan dengan hal-hal berbau pemilu yang selalu
berkeliaran di timeline saya.
Partai
mengusung agama tertentu
Ini hal yang
sensitif. Saya pribadi tidak setuju kalau agama dikaitkan dengan politik,
apalagi Indonesia bukan negara berdasarkan agama tertentu. Agama itu suci,
sedangkan politik itu kotor.
"Bagiku sendiri politik adalah barang
yang paling kotor. Lumpur-lumpur kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak
dapat menghindar lagi, maka terjunlah." (Soe Hok Gie - Catatan Harian
Seorang Demonstran)
Politik adalah
ajang berebut posisi dan kekuasaan. Haruskah hal seperti itu dicampur dengan
agama yang jelas-jelas mengajarkan kasih dan berbagi? Tidak perlu munafik,
dalam praktik dan kenyataannya lebih sering terjadi agama dijadikan alasan
untuk perebutan kekuasaan (bahkan dengan perang dan kekerasan), daripada
terjadinya politik yang sifatnya mengalah dan mengasihi.