Hidup dan tumbuh sebagai kaum
minoritas di Indonesia, saya selalu di"ingatkan" untuk tidak cari
gara-gara. "Kita hidup yang aman-aman saja," kata orang tua saya. Pertama kali saya menyaksikan
penampilan Barongsai, saya tidak mengerti bahwa itu mungkin sangat berarti
untuk orang tua saya. Saya beruntung, lahir di Indonesia dan tidak pernah
dipertanyakan kewarganegaraannya. Kedua orang tua saya diwajibkan membuat surat
keterangan warga negara Indonesia, bahkan juga harus mengganti nama dengan nama
yang lebih Indonesia, padahal mereka lahir dan tumbuh besar di Indonesia.
Saya beruntung hidup, sekolah dan bergaul di Indonesia, dan tidak pernah
merasakan diskriminasi yang berlebihan. Saya tidak pernah punya masalah bergaul
dengan siapa saja, dari agama dan suku mana saja. Saya tentu mendengar
cerita-cerita. Mulai hal-hal kecil dari pungutan-pungutan liar sampai Mei '98. Walaupun
hal-hal itu tidak terjadi langsung kepada saya dan karenanya saya hanya bisa
berempati, tapi dalam hati, saya pun mengingatkan diri sendiri untuk tidak
mencari gara-gara.
Kemudian saya berkesempatan untuk
kuliah dan hidup di luar negeri. Paspor saya Indonesia. Setiap ada yang
bertanya mengenai asal-usul, saya selalu menjawab saya orang Indonesia. Saya
kangen makanan Indonesia, bicara bahasa Indonesia, ngumpul-ngumpul, dan lain
sebagainya. Banyak yang bertanya, kok saya tidak kelihatan seperti orang Indonesia
lain, kemudian saya menjelaskan bahwa orang Indonesia itu sangat beragam, kami
adalah bangsa yang heterogen. Beberapa dari mereka cukup terkejut ketika saya
menjelaskan bahwa saya tidak bisa menulis huruf kanji, karena bahasa Indonesia
menggunakan huruf Latin. Saya merasa sebagai agen kecil yang menceritakan
tentang Indonesia di negara lain. Ada rasa bangga ketika bule-bule ini takjub
akan keberagaman Indonesia dan bagaimana kita bersatu menjadi sebuah bangsa dan
negara. Baru ketika saya hidup di negara orang, saya menyadari bahwa ternyata saya
punya rasa nasionalis.
