Ihiy, akhirnya ada mood nulis
lagi. "Setelah" yah... setelah satu-satu urusan gue selesai. Uhyeah.
So, sambil diiringi Afgan di
Spotify... here's a piece of my mind.
What is the one thing you could
die for?
Pernah kah pertanyaan tersebut
mampir di pikiran? It shows up in my mind sometimes.
Sejujurnya, ketika pertanyaan itu
muncul di kepala dan gue nggak bisa jawab, I feel sad. I feel like I don't have
sincerity.
Jangankan untuk sesama, buat
keluarga dan teman terdekat pun gue nggak berani jawab bisa.
Nggak kebayang kalau gue hidup di
jaman perang, yang setiap hari nyawa terancam. I really hope I wouldn't come
into such situation, where I have to choose between mine and others' lives.
Takutnya gue bikin keputusan yang bikin benci diri sendiri.
Iya, gue emang cenderung nyari
aman. Gue comfort-zone seeker.
Emang ada orang yang suka
tantangan. Bless them. Atau yang memang rela mati buat hal yang dipercayai.
Bless them too.
Dan ada orang kayak gue, selama
bisa aman tentram damai sejahtera, jauhkan diri dari sengketa. *tsahhh
Bener? Nggak juga. Once in a
while akan datang keadaan dimana tiap orang harus ambil keputusan yang mana
belok kanan mentok, belok kiri jurang. Yang artinya, apapun keputusannya, suatu
kedamaian dan kesejahteraan yang ada akan terusik.
Tertulis di halaman pembuka
Inferno-nya Dan Brown kata-kata dari Dante Alighieri: "The darkest places in hell are reserved for those who
maintain their neutrality in times of moral crisis." Boom! Krass!
Pertama baca rasanya kayak ditampar.
If that's the case, I'm pretty sure there is already
a piece of darkest hell reserved for me.
Tapi apakah bersikap netral itu salah?
Ah, rasa-rasanya nggak juga.
Gue merasa banyak konflik di dunia ini itu gegara
ada pihak-pihak yang terlalu kepo dalam mengurusi urusan orang lain. Like, if
everyone just mind their own business without harming others, dunia damai
cuy...
Akan tetapi, teteeeeuppp ajah yah... seandainya
99,99% dari 7 milyar orang di bumi ini respect others and mind their own business,
sisanya yang 0,01% itu bisa bikin kerusakan yang lumayan. Bete nggak sih. Ada
aja yang doyan jadi kompor. Ada yang doyan jadi sumbu gampang kebakar. Ada yang
doyan jadi api. Berasa eksis.
Coba semua orang nggak cuman dicekokin kitab suci
dan doktrin, tapi diimbangi juga dengan pendidikan moral dan tata krama, nggak
akan ada perdebatan macam cewek diperkosa itu wajar kalau pakai baju seksi.
Honestly, in my opinion, kalau kasus-kasus macam begitu, yang salah adalah
tit*t yang nggak disekolahin. I mean, really... masih gitu harus didebatin,
bahkan menyalahkan korban. It doesn't make sense. Terang aja banyak korban
asusila yang memilih diam daripada menuntut. Takutnya nanti malah ikut
dicari-cari kesalahan dan jadi dobel sakitnya.
"Mana ada kucing dikasih ikan nggak mau?"
Lha... situ manusia apa kucing? Failed logic.
Mau perbandingannya semut sama gula atau lebah sama
bunga juga sama aja.
Terlalu jauh melenceng.... Kembali ke topik
"things to die for".
Paling galau itu kalau membahas berani mati untuk
Tuhan. I mean, actually there's an absolute answer: Of course we have to be ready to die for God.
Wong Tuhan aja rela mati buat kita, masa kita nggak. Tapi, beneran deh...
beranikah?
Kalau suatu saat entah karena apa kita harus
tinggal di daerah dimana ada konflik agama, lalu hanya dengan mengakui agama
lain kita bisa selamat, apakah yang akan kita lakukan? Siapa yang akan
menyangkal dan siapa yang akan berani mengaku?
Yang menyangkal mungkin akan beralasan "I'll
do much better and much more alive than dead" and they may do that. Yang
berani mengakui dan akhirnya mati mungkin juga dikatakan bodoh. Terus siapa
yang bener? Entahlah.
Dengan malu gue mengakui, bahwa ketika lapor pajak
aja gue nggak ngaku ke gereja.
Itu baru masalah duit material. Apalagi kalau menyangkut
nyawa dan kebebasan?
Kalau liat dari diri gue sendiri sih ya... gue
masih bapuk banget. From many sides. Kadang sampai membuat gue nggak pengen
beropini. Kayak ada yang bisikin gitu, "Siapa elo? Urus dulu tuh diri
sendiri baru kepo!"
Belum lagi ada kata-kata, "Kalau bukan
sekarang, kapan lagi?" Nah, kalau sekarang, gue mau apa? Entahlah.
These things are some of my darkest sides: gue nggak punya nyali jadi idealis. Susah men, ketika semua orang lain melakukan yang salah dan yang salah telah menjadi hal biasa.

Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen