Sonntag, 26. Juni 2016

Entahlah

Ihiy, akhirnya ada mood nulis lagi. "Setelah" yah... setelah satu-satu urusan gue selesai. Uhyeah.
So, sambil diiringi Afgan di Spotify... here's a piece of my mind.

What is the one thing you could die for?

Pernah kah pertanyaan tersebut mampir di pikiran? It shows up in my mind sometimes.

Sejujurnya, ketika pertanyaan itu muncul di kepala dan gue nggak bisa jawab, I feel sad. I feel like I don't have sincerity.

Jangankan untuk sesama, buat keluarga dan teman terdekat pun gue nggak berani jawab bisa.

Nggak kebayang kalau gue hidup di jaman perang, yang setiap hari nyawa terancam. I really hope I wouldn't come into such situation, where I have to choose between mine and others' lives. Takutnya gue bikin keputusan yang bikin benci diri sendiri.



Iya, gue emang cenderung nyari aman. Gue comfort-zone seeker.

Emang ada orang yang suka tantangan. Bless them. Atau yang memang rela mati buat hal yang dipercayai. Bless them too.

Dan ada orang kayak gue, selama bisa aman tentram damai sejahtera, jauhkan diri dari sengketa. *tsahhh

Bener? Nggak juga. Once in a while akan datang keadaan dimana tiap orang harus ambil keputusan yang mana belok kanan mentok, belok kiri jurang. Yang artinya, apapun keputusannya, suatu kedamaian dan kesejahteraan yang ada akan terusik.

Tertulis di halaman pembuka Inferno-nya Dan Brown kata-kata dari Dante Alighieri: "The darkest places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis." Boom! Krass! Pertama baca rasanya kayak ditampar.

If that's the case, I'm pretty sure there is already a piece of darkest hell reserved for me.

Tapi apakah bersikap netral itu salah?

Ah, rasa-rasanya nggak juga.

Gue merasa banyak konflik di dunia ini itu gegara ada pihak-pihak yang terlalu kepo dalam mengurusi urusan orang lain. Like, if everyone just mind their own business without harming others, dunia damai cuy...

Akan tetapi, teteeeeuppp ajah yah... seandainya 99,99% dari 7 milyar orang di bumi ini respect others and mind their own business, sisanya yang 0,01% itu bisa bikin kerusakan yang lumayan. Bete nggak sih. Ada aja yang doyan jadi kompor. Ada yang doyan jadi sumbu gampang kebakar. Ada yang doyan jadi api. Berasa eksis.

Coba semua orang nggak cuman dicekokin kitab suci dan doktrin, tapi diimbangi juga dengan pendidikan moral dan tata krama, nggak akan ada perdebatan macam cewek diperkosa itu wajar kalau pakai baju seksi. Honestly, in my opinion, kalau kasus-kasus macam begitu, yang salah adalah tit*t yang nggak disekolahin. I mean, really... masih gitu harus didebatin, bahkan menyalahkan korban. It doesn't make sense. Terang aja banyak korban asusila yang memilih diam daripada menuntut. Takutnya nanti malah ikut dicari-cari kesalahan dan jadi dobel sakitnya.

"Mana ada kucing dikasih ikan nggak mau?" Lha... situ manusia apa kucing? Failed logic.

Mau perbandingannya semut sama gula atau lebah sama bunga juga sama aja.

Terlalu jauh melenceng.... Kembali ke topik "things to die for".

Paling galau itu kalau membahas berani mati untuk Tuhan. I mean, actually there's an absolute answer:  Of course we have to be ready to die for God. Wong Tuhan aja rela mati buat kita, masa kita nggak. Tapi, beneran deh... beranikah?

Kalau suatu saat entah karena apa kita harus tinggal di daerah dimana ada konflik agama, lalu hanya dengan mengakui agama lain kita bisa selamat, apakah yang akan kita lakukan? Siapa yang akan menyangkal dan siapa yang akan berani mengaku?

Yang menyangkal mungkin akan beralasan "I'll do much better and much more alive than dead" and they may do that. Yang berani mengakui dan akhirnya mati mungkin juga dikatakan bodoh. Terus siapa yang bener? Entahlah.

Dengan malu gue mengakui, bahwa ketika lapor pajak aja gue nggak ngaku ke gereja.

Itu baru masalah duit material. Apalagi kalau menyangkut nyawa dan kebebasan?

Kalau liat dari diri gue sendiri sih ya... gue masih bapuk banget. From many sides. Kadang sampai membuat gue nggak pengen beropini. Kayak ada yang bisikin gitu, "Siapa elo? Urus dulu tuh diri sendiri baru kepo!"



Belum lagi ada kata-kata, "Kalau bukan sekarang, kapan lagi?" Nah, kalau sekarang, gue mau apa? Entahlah.

These things are some of my darkest sides: gue nggak punya nyali jadi idealis. Susah men, ketika semua orang lain melakukan yang salah dan yang salah telah menjadi hal biasa.  

Keine Kommentare:

Donate Now!