LATAR BELAKANG
Komunis telah dipandang
dengan sebelah mata oleh Bangsa Indonesia
setelah pemberontakannya di Madiun pada tahun 1948, peristiwa berdarah lain
yang mencoreng nama partai palu-arit tersebut. Selama beberapa tahun setelahnya
PKI hanyalah partai kecil yang punya sejarah hitam.
PKI yang sejak tahun 1951 dikepalai D. N. Aidit mulai
bangkit perlahan. Setelah
kegagalan pada tahun 1948, PKI bergerak dengan lebih berhati-hati dan
terencana, tanpa kekerasan. Partai ini menggunakan taktik menyusupkan berbagai
anggotanya ke badan partai-partai, organisasi-organisasi, bahkan angkatan
bersenjata. Lambat laun, PKI menjadi suatu kekuatan yang patut diperhitungkan
di negeri ini.
Hal
ini terbukti dari keberhasilan PKI masuk jajaran empat partai besar selama
pemilu 1955, bersama PNI, Masyumi, dan NU. Aidit pun boleh berbangga akan
keberhasilan gerakan ‘bawah tanah’-nya. Selain keberhasilannya dalam mengeruk
dukungan rakyat, PKI sendiri membangun hubungannya dengan orang nomor satu di
Indonesia saat itu, yaitu Presiden Soekarno.
Kemudian
Presiden Soekarno mengumumkan paham NASAKOM-nya pada 1959. Menyatukan paham
nasionalis, agama dan komunis merupakan mimpinya di masa itu. Kaum golongan
kiri mendapat lampu hijau dengan pengumuman ini karena, dengan demikian,
komunis menjadi salah satu paham yang diakui di negeri ini. Maka, dengan
dukungan dan perlindungan dari Presiden Soekarno, PKI semakin melebarkan
sayapnya dan menyingkirkan lawan-lawan politiknya.



