Montag, 5. Juni 2017

The Good Samaritan

Hari ini saya teringat tentang satu perikop di dalam Alkitab mengenai “Orang Samaria yang Murah Hati (Luk. 10:25-37)”. Kisah ini pasti sudah tidak asing untuk teman-teman dan rekan-rekan Nasrani karena sudah sering diulang dalam kotbah gereja atau renungan harian. Entah kenapa saya merasa cuplikan perumpamaan ini perlu untuk diingat dan diresapi lagi maknanya, melihat situasi hangat yang terus-menerus terjadi di dalam dan luar negeri. Walaupun saya tidak pernah mendalami teologi dan ke gereja pun suka bolos, berikut sedikit pemahaman terbatas dan awam saya.

Ada dua inti pokok dalam perikop ini yang saya tangkap. Yang pertama adalah jawaban dari pertanyaan: Bagaimanakah cara untuk mendapat hidup kekal? Pertanyaan ini dijawab dengan kutipan:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Jelas.

Lalu, ada pertanyaan kedua: Dan siapakah sesamaku manusia?

Untuk menjawab pertanyaan kedua ini, Tuhan Yesus mengisahkan kisah seorang Samaria yang murah hati. Orang Samaria pada dasarnya dicap sebagai bangsa berdosa dan orang Yahudi memandang sebelah mata kepada mereka. Akan tetapi, suatu hari ada seorang Yahudi yang dirampok habis-habisan oleh para penyamun dalam perjalanannya dari Yerusalem ke Yerikho. Tubuhnya yang kepayahan dan penuh luka ditinggalkan begitu saja. Beberapa waktu kemudian lewat seorang Imam, lalu seorang Lewi. Keduanya memilih sisi jalan terjauh dan terus melanjutkan perjalanan masing-masing, tanpa menghiraukan saudara sebangsanya yang terkapar dan terluka. Hingga muncul seorang Samaria di jalan itu dan hatinya tergerak oleh belas kasihan. Ia membersihkan dan membalut luka si Yahudi, bahkan menghantarnya ke penginapan dan membayar semua biayanya.

Lalu Yesus balik bertanya, “Di antara ketiga orang itu, siapakah adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke dalam tangan penyamun ini?”

“Orang yang telah menunjukan belas kasihan kepadanya.”
Kasih itu universal. Kasih itu tidak mengenal perbedaan. Kasih itu milik semua. Kasih itu untuk semua.


Akhir-akhir ini banyak provokasi dan perseteruan yang terjadi di dunia ini. Ladang emas bagi media, tapi sedih melihatnya. Begitu mudahnya orang-orang sekarang menyerukan siap berperang dan berjibaku. Apakah luka berdarah bekas perang yang lalu-lalu sudah mulai pudar? Jutaan orang muda telah mati di medan perang untuk permasalahan yang tidak mereka mulai. Untuk apa? Bela negara katanya. Bela agama. Bela Tuhan.

Tuhan tidak lemah. Ia tidak minta dibela. Ia minta dikasihi dengan segenap jiwa, segenap kekuatan dan segenap akal budi. Ia minta kita, sebagai manusia, pun mengasihi sesama manusia. Ia tidak berkata sesama agama atau sesama warna kulit atau sesama kebangsaan. Sesama manusia.

Selemah itukah Tuhan hingga ia harus dibela dengan darah manusia?

Saya merasa manusia sekarang banyak yang salah atau gagal fokus. Dibutakan dengan simbol-simbol manusiawi dan heboh dengan jumlah pengikut, lalu lupa dengan tujuan beragama dan cara hidup berdampingan. Peraturan dibuat untuk menjamin hak setiap orang, itu pun kemudian digunakan untuk dasar menuntut hak sendiri, lupa bahwa tindakannya merugikan orang lain. Dimana letak kebenarannya? Apakah frekuensi meneriakan nama Tuhan menjamin kehidupan kekal? Saya malah berpikir, semakin sering seorang sebut nama Tuhan tanpa banyak pertimbangan, semakin tinggi kemungkinannya ia menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Dan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan jelas tidak dibenarkan. Salah fokus.

Tuhan pun meminta kita untuk mengasihinya dengan segenap akal budi. Banyak hal yang terjadi belakangan ini, tidaklah masuk di akal saya. Tapi, yah… siapalah saya hingga akal ini dijadikan standar. :P

Perikop lain menyatakan: „Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.“ (Yak. 2:17)

Perbuatan harusnya berjalan sejalan dengan iman. Jika iman kita mengajarkan kasih, kasihlah yang harus muncul dalam perbuatan. Apakah melawan kekerasan dengan kekerasan adalah rupa kasih? Apakah perang adalah jalan keluar? Apakah saling bunuh adalah kunci? Coba tanyakan ke diri sendiri dan dijawab dengan akal budi yang sudah dianugerahkan Tuhan.

Tidaklah mudah membalas kebencian dengan kasih. Seekor tikus yang dipojokan pun akan melawan dan menggigit. Tapi kita bukan tikus. Membalas benci dengan benci hanya akan memperbesar rasa benci itu sendiri. Jangan sampai tidak ada lagi tempat untuk secuil kasih.

Saya berharap seruan perang yang terdengar dari berbagai sudut tidaklah akan memprovokasi kita dan membuat kita pun berbalik meneriakan perang dan perlawanan. Perang tidaklah indah, kawan. Coba tanyakan pada para veteran, siapa yang ingin perang lagi? Mati di medan perang tidaklah keren, teman. Memang ada yang menjadi sejarah dan pahlawan dikenang sepanjang masa, namun berapa banyak yang terbujur dalam makam tak bernama dan terlupakan sejarah?

Saya melihat mereka yang mudah tersinggung dan terprovokasi adalah mereka yang dalam hatinya tidak tenang dan tidak aman. Mereka yang mudah iri adalah mereka yang tidak bersyukur. Dan mereka yang tidak berbelas kasih adalah mereka yang tidak merasakan kasih.

Melihat panasnya berita di media, aksi teror, bom, ancaman, dan lain sebagainya, sedih memang, tapi saya memilih untuk menghela napas dan menulis ajakan ini. Ajakan untuk memiliki belas kasih dan membuat mereka yang cepat panas pun turut merasakan kasih, hingga berbelas kasih ini menular dan meluas.

Mari mengingat untuk menjadi sesama manusia.

Semua sudah tertulis, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”



Berlin, 5 Juni 2017

Keine Kommentare:

Donate Now!