LATAR BELAKANG
Komunis telah dipandang
dengan sebelah mata oleh Bangsa Indonesia
setelah pemberontakannya di Madiun pada tahun 1948, peristiwa berdarah lain
yang mencoreng nama partai palu-arit tersebut. Selama beberapa tahun setelahnya
PKI hanyalah partai kecil yang punya sejarah hitam.
PKI yang sejak tahun 1951 dikepalai D. N. Aidit mulai
bangkit perlahan. Setelah
kegagalan pada tahun 1948, PKI bergerak dengan lebih berhati-hati dan
terencana, tanpa kekerasan. Partai ini menggunakan taktik menyusupkan berbagai
anggotanya ke badan partai-partai, organisasi-organisasi, bahkan angkatan
bersenjata. Lambat laun, PKI menjadi suatu kekuatan yang patut diperhitungkan
di negeri ini.
Hal
ini terbukti dari keberhasilan PKI masuk jajaran empat partai besar selama
pemilu 1955, bersama PNI, Masyumi, dan NU. Aidit pun boleh berbangga akan
keberhasilan gerakan ‘bawah tanah’-nya. Selain keberhasilannya dalam mengeruk
dukungan rakyat, PKI sendiri membangun hubungannya dengan orang nomor satu di
Indonesia saat itu, yaitu Presiden Soekarno.
Kemudian
Presiden Soekarno mengumumkan paham NASAKOM-nya pada 1959. Menyatukan paham
nasionalis, agama dan komunis merupakan mimpinya di masa itu. Kaum golongan
kiri mendapat lampu hijau dengan pengumuman ini karena, dengan demikian,
komunis menjadi salah satu paham yang diakui di negeri ini. Maka, dengan
dukungan dan perlindungan dari Presiden Soekarno, PKI semakin melebarkan
sayapnya dan menyingkirkan lawan-lawan politiknya.
Pengaruh
PKI yang semakin kuat di dalam negeri mulai memanaskan suhu politik antara
Angkatan Darat, yang berpaham nasionalis, dengan kaum komunis. Apalagi jika
melihat sikap Presiden Soekarno yang menganak-emaskan PKI demi propaganda
NASAKOM-nya. PKI sendiri selalu
menggembar-gemborkan kecurangan dalam tubuh Angkatan Darat, para jenderal AD dituduh
korupsi di tengah-tengah krisis dalam masyarakat Indonesia. AD juga
disebut-sebut sebagai agen kapitalis dan kotra-revolusioner, sementara PKI
dianggap sebagai ujung tonggak revolusi.
Puncaknya
adalah hadirnya Isu Dewan Jenderal, yaitu rumor yang mengatakan bahwa
jenderal-jenderal AD membentuk suatu dewan yang akan melakukan pemberontakan
untuk menjatuhkan Presiden Soekarno. Angkatan Darat tentu menampik isu tersebut.
Namun, kehadiran puluhan ribu angkatan bersenjata di Jakarta menjelang ulang
tahun ABRI tanggal 5 Oktober 1965 dan lemahnya tampuk kepemimpinan dengan
adanya isu kesehatan Presiden Soekarno yang menurun, semakin menguatkan
kecurigaan adanya Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta.
PKI
yang tengah berada di puncak kekuasaannya tentu tidak menginginkan kejatuhan
tokoh yang selama ini menjadi tameng terkuatnya, maka dirancanglah Gerakan 30
September yang ditujukan untuk mencegah kudeta yang, konon, akan dilakukan oleh
para jenderal AD.
KRONOLOGI GERAKAN 30 SEPTEMBER
Rencana
gerakan ini diserahkan kepada Sjam Kamaruzaman yang diangkat sebagai ketua Biro
Khusus PKI oleh Aidit. Biro Khusus inilah yang menghubungi koneksinya di
kalangan ABRI, seperti Brigjen Supardjo, Letnan Kolonel Untung dari
Cakrabirawa, Kolonel Sunardi dari TNI AL, Marsekal Madya Omar Dhani dari TNI AU
dan Kolonel Anwar dari Kepolisian.
Diadakanlah
beberapa pertemuan rahasia guna merancang gerakan ini di beberapa tempat yang
berlainan. Sjam sendirilah yang beberapa kali memimpin jalannya rapat tersebut.
Akhirnya, para pemimpin PKI menunjuk Letkol. Untung
dari Cakrabirawa untuk memimpin gerakan yang diberi nama Gerakan 30 September. Agenda
kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:
- Menculik
para jenderal pimpinan TNI-AD untuk melumpuhkan kekuatan ABRI.
- Menduduki
gedung RRI.
- Memperkuat basis pertahanan PKI di Lubang Buaya yang terletak dekat markas besar TNI-AU.
- Membentuk Dewan Revolusi yang akan menggantikan pemerintah sipil.
- Mendemisionerkan Kabinet Dwikora dan membentuk pemerintah berdasarkan NASAKOM.
Di Lubang Buaya, malam hari tanggal 30 September 1965,
telah berkumpul aktivis utama Gerakan 30 September
; Letkol Untung, Brigjen Supardjo, Kolonel Latief (AD). Letkol Heru Atmodjo,
Mayor Sujono dan Mayor Gatot Sukrisno (AU), Aidit dan Sjam (PKI). Satu batalyon
Cakrabirawa, batalyon Raider 454 Diponegoro, batalyon Raider 530 Brawijaya, dua
peleton brigade Latief, pasukan darat AU, unsur-unsur Pemuda Rakyat dan Gerwani
Penculikan para Jenderal diawali dengan perintah untuk
membawa ketujuh jederal hidup atau mati, yang disampaikan oleh Sjam. Rupanya
perintah ini dilaksanakan oleh pasukan
Cakrabirawa dan sekelompok kecil Pemuda Rakyat, yang diserahi tugas menculik
para jenderal dari rumahnya, dengan sungguh-sungguh.
Setelah mendapat instruksi di markas angkatan kelima PKI
di Lubang Buaya, para pelaku penculikan mulai melaksanakan tugasnya. Mereka mendatangi rumah ketujuh jenderal
pada dini hari (diasumsikan telah memasuki hari setelahnya, yaitu 1 Oktober
1965) dan menyatakan bahwa Presiden memanggil para jenderalnya. Ketujuh Jenderal
itu adalah Letnan Jenderal Achmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto, Mayor
Jenderal M. T. Harjono, Mayor Jenderal S. Parman, Brigadir Jenderal D. I.
Pandjaitan, Brigadir Jenderal Soetojo Siswomihardjo, dan Jenderal A. H.
Nasution.. Tiga orang jenderal, Yani, Harjono dan
Panjaitan dibunuh di rumahnya karena melawan, sedangkan Parman, Soetojo,
Soeprapto, dan Pierre Tendean (ajudan Nasution)
dalam keadaan hidup saat dibawa ke Lubang Buaya. Jenderal
Nasution berhasil lolos dari penculikan dan hanya mengalami cedera pada kakinya
setelah melompati tembok pembatas rumahnya di Menteng untuk melarikan diri.
Sebagai gantinya, Ade Irma Nasution, putrinya menjadi korban penembakan.
Selanjutnya
pada pukul 07.15 pagi tanggal 1 Oktober, pihak pemberontak mengumumkan melalui
RRI bahwa Gerakan 30 September adalah suatu kelompok militer yang telah
bertindak untuk melindungi Presiden Soekarno dari kudeta yang direncanakan oleh
suatu dewan yang terdiri atas jendral-jendral yang korup dan menjadi kaki
tangan CIA. Pada pukul sembilan pagi, Presiden Soekarno mengubah tujuan awalnya
ke istana kepresidenan menjadi Halim, setelah menerima laporan adanya pasukan
tak dikenal di Lapangan Merdeka. Sesampainya di Halim, Presiden bertemu Omar
Dhani dan para anggota PKI lainnya.
Gerakan
30 September kembali menyiarkan pengumuman melalui RRI pada pukul sebelas
siang. Isinya menyatakan bahwa telah dibentuk sebuah Dewan Revolusi yang akan
menjadi “sumber segala kekuasaan dalam Republik Indonesia”.
Kurangnya
persiapan dalam pelaksanaan kup ini mulai nampak ketika diketahui tiadanya
perbekalan yang disiapkan oleh para pemimpin gerakan untuk dua batalyon pasukan
yang menduduki Lapangan Merdeka. Pasukan-pasukan ini mulai kelelahan,
kelaparan, serta kehausan. Jenderal Soeharto (yang mengambil alih komando AD
sesaat setelah diketahui adanya serangan dari pihak PKI) pun mulai membujuk
agar pasukan Brawijaya datang ke markas Kostrad.
Presiden
Soekarno memanggil kedua jenderalnya, Umar dan Pranoto, untuk menghadapnya ke
Halim. Permintaan ini ditolak oleh Soeharto dengan alasan keamanan. Maka,
Presiden segera menyusun sebuah pernyataan yang akan menjadikannya pemegang
komando atas AD. Namun, sebelum pernyataan itu berhasil disiarkan, batalyon
Raiders Brawijaya bergabung ke Kostrad dan batalyon Raider Diponegoro mundur ke
Halim, menjadikan Soeharto kembali menguasai pusat Jakarta tanpa tembakan
peluru. RRI yang telah dikuasai kembali oleh AD,
dilarang Soeharto menyiarkan pernyataan Presiden Soekarno tersebut.
Pada pukul setengah delapan
malam, Soeharto kembali tidak mematuhi perintah Presiden Soekarno dengan
melarang Pranoto datang menghadap ke Halim. Sebaliknya, beliau mengatakan
kepada Bambang Widjanarko, yang diutus untuk menjemput Pranoto, agar Presiden
segera meninggalkan Halim yang akan segera diserang dengan kekerasan. Hal ini
menunjukan betapa pengaruh Soeharto mulai menguat, sementara Presiden Soekarno
mulai kehilangan kekuasaannya perlahan-lahan.
Pada
pukul 20.15, Dinas Penerangan AD mengumumkan melalui RRI bahwa suatu “gerakan
kontra revolusi” telah menculik Yani dan 5 jendral lainnya. Pimpinan AD
sementara waktu dipegang oleh Soeharto dan Presiden, serta Nasution, dalam
keadaan aman. Beberapa jam setelah pengumuman tersebut, Presiden Soekarno
meninggalkan Halim menuju Istana Bogor, para pembesar PKI segera menyembunyikan
diri, dan sebelum tengah malam, pemberontakan yang gagal ini telah berakhir.
ANALISA
Perang dingin antara Blok Barat
(kapitalis) dan Blok Timur (komunis-sosisalis) terjadi setelah Perang Dunia II
berakhir. Dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni-Soviet, menjadi pemimpin
masing-masing blok. Perang pengaruh ini telah merambah hampir ke seluruh bagian
dunia dan, bahkan, mencapai Asia. Perang Korea dan Perang Vietnam menjadi salah
satu bukti betapa gigihnya usaha AS untuk meredam pengaruh komunis di dunia,
terutama setelah berkuasanya Mao Zi Dong yang menjadikan RRC negara komunis
yang besar.
Indonesia merupakan negara muda yang
perjuangan kemerdekaannya menjadi teladan banyak bangsa-bangsa lain. Lokasinya
yang strategis dan kekayaan alamnya yang luar biasa menjadikan Indonesia negara
baru yang memiliki banyak potensi untuk maju dan berkembang. Jika komunis
berhasil menguasai Indonesia, bukan hanya jalur perdagangan strategis yang akan
ditutup bagi AS atau sumber daya yang tidak dapat diolah pihak asing, tapi juga
adanya kemungkinan negara-negara baru merdeka lainnya akan mengikuti jejak
Indonesia menjadi komunis. Selain itu, posisi geografis Indonesia yang berada
di’bawah’ AS dapat membahayakan jika terjadi serangan dari pihak komunis dimana
Indonesia tentu akan menjadi sekutu Uni-Soviet yang berada di Utara AS.
Berbagai alasan itulah yang
menjadikan AS berusaha keras mencegah Indonesia jatuh ke arah kiri dan usaha
itu haruslah diawali dengan kejatuhan Soekarno yang selalu menentang AS.
Presiden
Soekarno mengumandangkan NEFO (New Emerging Forces) dengan mengadakan
Konferensi Asia-Afrika pada 1965, yang kemudian melandasi berdirinya Gerakan
Non-Blok pada 1961. Tujuan keduanya adalah mengupayakan dukungan bagi hak
menentukan nasib sendiri, kemerdekaan nasional, kedaulatan dan integritas
nasional negara-negara anggota yang pada umumnya merupakan negara-negara yang
baru merdeka. Ia bersikap penuh permusuhan kepada negara-negara Barat, termasuk
AS. Sebaliknya, beliau cenderung terlihat mendukung golongan Timur yang komunis
dilihat dari propaganda NASAKOM-nya dan perlindungannya terhadap PKI di
Indonesia. Soekarno menyatakan kebenciannya terhadap apa yang ia sebut OLDEFO
(Old Emerging Forces) itu lebih terang-terangan setelah kemerdekaan Malaysia
yang diberikan oleh Inggris. Ia bahkan menarik Indonesia keluar dari PBB ketika
Malaysia bergabung pada tanggal 7 Januari 1965
Pemerintah
Amerika Serikat tentu akan kesulitan jika terjun langsung ke kancah politik
Indonesia mengingat banyak pihak yang memusuhinya. Oleh karenanya dibutuhkan
antek-antek lokal untuk melangsungkan rencana ini. Dugaan ini didukung oleh
adanya Dokumen Gilchrist yang menyebutkan adanya ”teman lokal kita” yang
dipercaya sebagai Sjam Kamaruzaman. Selain itu, AS perlu menjamin bahwa
pengganti Soekarno nanti haruslah seseorang yang memihaknya. Untuk itu,
dipilihlah Soeharto, tokoh AD yang merupakan satu-satunya angkatan yang tidak
anti-Amerika.
Sjam adalah sosok misterius yang
selama ini dipercaya bekerja sebagai double agent. Posisinya strategis
di dua pihak, PKI dan AD. Sebagai Ketua Biro Khusus PKI, ia memiliki koneksi
langsung ke pemimpin PKI, D.N. Aidit, dan sebagai seorang tentara, ia kerap
kali terlihat mempimpin langsung rapat intern AD. AS
melalui CIA sangat beruntung memiliki kaki tangan yang berpijak di dua kubu.
Kesaksian Sjam di persidangan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) yang
mengadili para pelaku kup juga mengundang tanda tanya karena Sjam, sebagai
seseorang yang masuk jajaran tinggi PKI, menyatakan bahwa ia hanya melakukan
apa yang diperintahkan Aidit selaku pemimpin PKI. Seluruh kesaksiannya
seolah-olah memberatkan Aidit dan PKI yang seharusnya dibela olehnya. Jika
ditilik dari kesaksiannya, dapat kita katakan bahwa perintah untuk “membawa
para jenderal hidup atau mati” itu berasal dari Aidit, sebab Letkol. Untung
selaku pemimpin kup bersaksi bahwa ia tidak pernah mengeluarkan perintah yang
demikian. Yang dipersalahkan, yaitu Aidit, sendiri tidak dapat membuktikan atau
menyangkal kesaksian Sjam tersebut. Ia ditembak mati di tempat saat pasukan
suruhan Soeharto yang ditugaskan menumpas PKI menemukan tempat
persembunyiannya.
Soeharto
adalah pihak lain yang diuntungkan dari peristiwa ini. G 30 S merupakan batu
loncatan yang menghantarnya ke puncak kekuasaan. Keberhasilannya menumpas PKI
pasca G 30 S menjadikannya pahlawan di kalangan masyarakat. Namun, setelah kejatuhannya di tahun 1998,
banyak kejanggalan yang mulai terungkap. Selain ditemukannya bukti pemalsuan
hasil otopsi ketujuh korban Lubang Buaya, hal janggal lainnya adalah adanya
kesaksian yang menyatakan Soeharto telah mengetahui rencana kup beberapa saat
sebelum kejadian. Hal ini didukung dengan kenyataan bahwa Soeharto memiliki
hubungan yang baik dengan Letkol. Untung dan Abdul Latief, dua tokoh penting
pelaksana G 30 S. Abdul Latief sendiri bersaksi bahwa dirinyalah yang
memberitahu Soeharto tentang rencana kup itu sehari sebelum kejadian, saat
menjenguk putra Soeharto yang dirawat di RSAD Gatot Subroto karena tertumpah
sup panas. Satu hal lagi yang mencurigakan adalah daftar jenderal yang akan
diculik PKI. Sampai sekarang siapa pembuat daftar itu masih merupakan misteri,
namun mengapa Soeharto yang notabene punya kedudukan di AD tidak masuk dalam
daftar tersebut?
PKI
seringkali menghujat jenderal-jenderal AD yang korup, lantas mengapa Suprapto,
S. Parman, M. T. Harjono, Soetojo, dan Nasution masuk daftar padahal mereka
adalah tokoh AD yang terkenal membenci dan memberantas korupsi? Di lain pihak,
Soeharto pernah terlibat kasus penyelundupan dengan alasan kesejahteraan anak
buah semasa dirinya menjabat sebagai Panglima Diponegoro. Pengadilan
tentang hal itu pun dibekukan atas kebesaran hati Presiden Soekarno.
Setelah Soeharto berkuasa, ia
mengubah tata pemerintahan Indonesia secara menyeluruh. Paham komunis dilarang,
Indonesia kembali menjadi anggota PBB dan NASAKOM digantikan dengan REPELITA.
Penanam modal asing berdatangan mengeruk sumber daya alam Indonesia dan mengisi
kas negara. Bahkan hal-hal berbau Tionghoa yang identik dengan komunis
dilarang, seperti pendidikan bahasa Mandarin, pertunjukan barongsai, dan sebagainya.
PKI turut menerima dampaknya.
Dilaporkan ribuan, bahkan ada yang menyebut jutaan, orang yang diduga anggota
PKI menjadi korban pembantaian massa dengan dalih memberantas komunis.
Pemerintah menyebarkan teror mengenai kejamnya komunisme melalui surat kabar,
televisi, dan pendidikan. Bahkan, pemerintah membangun monumen peringatan di
Lubang Buaya. Dalam sekejap, partai besar dengan jutaan dukungan rakyat
berbalik menjadi partai yang dibenci semua orang. Namanya pun menjadi tabu dan
menebarkan ketakutan. Kemudian, Gerakan 30 September selalu diakhiri dengan
kata PKI.
Selanjutnya Soeharto mendapat kekuasaannya
yang baru setelah terbitnya Supersemar dan AS dapat mengakhiri kekhawatirannya
akan situasi di Indonesia. Bahkan, AS kini dapat menanamkan modalnya dan
mengeruk kekayaan alam Indonesia melalui perusahaan-perusahaan raksasanya
seperti Caltex dan Freepot.
Laporan Duta Besar AS pada masa itu,
Marshall Green, ke Washington tertanggal 10 Agustus 1966 menyebutkan bahwa
pemerintah Indonesia menggunakan daftar nama para pembesar PKI milik AS untuk
melakukan pembasmian PKI. Hubungan AS dengan AD telah lama terjalin melalui
kerjasama persenjataan dan bantuan-bantuan AS kepada batalyon-batalyon AD,
termasuk di dalamnya Batalyon Brawijaya dan Batalyon Diponegoro yang digunakan
Soeharto untuk membasmi PKI.
Dapatlah kita mengambil dugaan
adanya sebuah skenario atas hubungan mutualisme antara Soeharto dan CIA.
KESIMPULAN
Secara singkat
dapat kita rumuskan skenario G 30 S, sebagai berikut:
1. AS yang khawatir Indonesia akan menjadi komunis memerintahkan CIA
memulai penyelidikan dan mencari cara untuk menggulingkan Soekarno sebagai
langkah awal membersihkan Indonesia
dari komunis.
2. CIA merekrut Sjam yang memiliki
kedudukan strategis di dua pihak dan diduga memiliki sifat oportunis. Atau
dapat juga dikatakan bahwa Sjam sedari awal adalah agen CIA yang disusupkan ke Indonesia ,
mengingat kehidupannya yang misterius. Sjam kemudian merencanakan G 30 S yang
kemungkinan besar dirancang untuk gagal.
3. CIA turut menghubungi Soeharto, yang
kemungkinan menyusun daftar nama-nama jenderal yang menjadi sasaran PKI
(ketujuh jenderal ini adalah saingan Soeharto dalam merebut kekuasaan), dan
merancang peralihan kekuasannya.
4. Terjadilah G 30 S, Sjam menyelewengkan
perintah dan Soeharto bertindak sebagai komandan yang meredakan pemberontakan.
Ketenangan Soeharto dalam menghadapi pemberontakan ini adalah karena beliau
sudah mengetahui rencana kup sebelumnya.
5. Setelah pergolakan politik beberapa
saat, Soekarno akhirnya turun panggung, dan kemudian Supersemar menjadikan
Soeharto penggantinya.
6.
Soeharto mengubah tatanan politik Indonesia yang menguntungkan bagi
pihak asing, khususnya AS. PKI diberantas sehingga Indonesia bersih
dari komunis dan AS tidak perlu lagi khawatir akan posisi Indonesia.
PKI sendiri menjadi pihak yang paling tidak
mungkin menjadi perencana gerakan ini mengingat dampaknya yang menghancurkan.
Selain itu agak janggal bila Aidit, yang selama masa pimpinannya PKI berhasil
bangkit, menjadi begitu cerobohnya dalam merencanakan suatu gerakan. Jika
taktik yang biasa dilakukannya adalah gerakan bawah tanah, sudah pasti ia
adalah seorang yang teliti dan berhati-hati.
Soeharto sendiri mungkin terlibat dalam
skenario ini, namun ia bukanlah perancangnya. Hal ini dapat didukung dengan
fakta bahwa Soeharto memiliki hubungan dekat dengan beberapa anggota PKI
seperti Abdul Latief dan Letkol. Untung. Ia hanyalah pihak yang ditawari dan
setuju untuk bekerja sama.
Keberuntungan Soeharto berakhir pada
1998 saat kekuasaannya runtuh oleh, lagi-lagi, reformasi. Sementara AS tetap
menjadi negara adidaya dengan memenangkan Perang Dingin yang ditandai dengan
runtuhnya Uni-Soviet pada 1991. Hingga kini, perusahaan-perusahaan asal AS
masih tetap mengeruk keuntungan dari Indonesia. Maka, kita dapat melihat pihak
mana yang paling diuntungkan.
DAFTAR PUSTAKA
Alfian, Magdalia, dkk. 2006. Sejarah 2: untuk
SMA dan MA Kelas XI Program Ilmu Pengetahuan Alam. Yakarta: Esis.
Arbrianto, Arief. 2007. Peran Soeharto dalam Peristiwa Gerakan 30 September 1965. [Online]. Tersedia: http://masawep.multiply.com/journal/item/41
Badrika, I Wayan. 2006. Sejarah 2: untuk SMA Kelas XI Program Ilmu Alam. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Dani, Omar. 2001. CIA Terlibat dan Soeharto
Tangan yang Dipakai.... [Online]. Tersedia: http://www.tempo.co.id/harian/wawancara/waw-oemardhani.html
Giebels,
Lambert J. 2005. Pembantaian yang Ditutup-tutupi: Peristiwa Fatal di Sekitar
Kejatuhan Bung Karno. Yakarta:
Grasindo.
Harsutejo. 2009. Soeharto dan Tujuh Jenderal Korban G 30 S.
[Online]. Tersedia: http://madruhi.multiply.com/journal/item/127/Suharto_dan_Tujuh_Jenderal_Korban_G30S_2
Hilman. 2008. G 30 S/PKI Versi Dr. Soebandrio.
[Online]. Tersedia: http://www.hilman.web.id/index.php?posting=blog&id=226
Keefer, Edward. C (Ed.). 2007. Dokumen CIA:
Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G 30 S 1965. Jakarta: Hasta
Mitra.
Mira. 2007. CIA Stalling State
Departmen Histories. [Online]. Tersedia: http://dev.progind.net/modules/smartsection/item.php?itemid=106
Sulistyo, Herman. 2002. Lima
Skenario G 30 S (dalam Palu Arit Ladang Tebu). [Online]. Tersedia:
http://www.apakabar.ws/forums/viewtopic.php?f=1&t=1585&start=0
Sulistyo, Rj.
2009. Lewat Tengah Malam, 1 Oktober 1965. [Online]. Tersedia: http://umum.kompasiana.com/2009/10/02/lewat-tengah-malam-1-oktober-1965/
Rossa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massal:
Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto. Yakarta: Hasta Mitra.Catatan:
Makalah ini ditulis sekitar tahun 2010-2011 (kurang-lebih 3 tahun lalu) dan ternyata di tahun 2014 ini, beberapa website yang dijadikan sumber sudah tidak eksis (ditutup atau dihapus). Karena itu, saya mohon maaf dan harap pengertiannya. Terima kasih.

2 Kommentare:
Link2nya di daftar pustaka mesti diperbarui tuh :D
Bole ikut share ngga?
Cherry
Silahkan :)
Duh, kalo masalah link, udah 3th yang lalu itu *_* nanti kalo ada waktu baru diurus deh yah ;) Thanks btw buat infonya
Kommentar veröffentlichen