Sonntag, 13. April 2014

Tangan-Tangan CIA Di Balik "GERAKAN 30 SEPTEMBER"

LATAR BELAKANG
            Komunis telah dipandang dengan sebelah mata oleh Bangsa Indonesia setelah pemberontakannya di Madiun pada tahun 1948, peristiwa berdarah lain yang mencoreng nama partai palu-arit tersebut. Selama beberapa tahun setelahnya PKI hanyalah partai kecil yang punya sejarah hitam.
PKI yang sejak tahun 1951 dikepalai D. N. Aidit mulai bangkit perlahan. Setelah kegagalan pada tahun 1948, PKI bergerak dengan lebih berhati-hati dan terencana, tanpa kekerasan. Partai ini menggunakan taktik menyusupkan berbagai anggotanya ke badan partai-partai, organisasi-organisasi, bahkan angkatan bersenjata. Lambat laun, PKI menjadi suatu kekuatan yang patut diperhitungkan di negeri ini.
            Hal ini terbukti dari keberhasilan PKI masuk jajaran empat partai besar selama pemilu 1955, bersama PNI, Masyumi, dan NU. Aidit pun boleh berbangga akan keberhasilan gerakan ‘bawah tanah’-nya. Selain keberhasilannya dalam mengeruk dukungan rakyat, PKI sendiri membangun hubungannya dengan orang nomor satu di Indonesia saat itu, yaitu Presiden Soekarno.
            Kemudian Presiden Soekarno mengumumkan paham NASAKOM-nya pada 1959. Menyatukan paham nasionalis, agama dan komunis merupakan mimpinya di masa itu. Kaum golongan kiri mendapat lampu hijau dengan pengumuman ini karena, dengan demikian, komunis menjadi salah satu paham yang diakui di negeri ini. Maka, dengan dukungan dan perlindungan dari Presiden Soekarno, PKI semakin melebarkan sayapnya dan menyingkirkan lawan-lawan politiknya.
            Pengaruh PKI yang semakin kuat di dalam negeri mulai memanaskan suhu politik antara Angkatan Darat, yang berpaham nasionalis, dengan kaum komunis. Apalagi jika melihat sikap Presiden Soekarno yang menganak-emaskan PKI demi propaganda NASAKOM-nya.  PKI sendiri selalu menggembar-gemborkan kecurangan dalam tubuh Angkatan Darat, para jenderal AD dituduh korupsi di tengah-tengah krisis dalam masyarakat Indonesia. AD juga disebut-sebut sebagai agen kapitalis dan kotra-revolusioner, sementara PKI dianggap sebagai ujung tonggak revolusi.
            Puncaknya adalah hadirnya Isu Dewan Jenderal, yaitu rumor yang mengatakan bahwa jenderal-jenderal AD membentuk suatu dewan yang akan melakukan pemberontakan untuk menjatuhkan Presiden Soekarno. Angkatan Darat tentu menampik isu tersebut. Namun, kehadiran puluhan ribu angkatan bersenjata di Jakarta menjelang ulang tahun ABRI tanggal 5 Oktober 1965 dan lemahnya tampuk kepemimpinan dengan adanya isu kesehatan Presiden Soekarno yang menurun, semakin menguatkan kecurigaan adanya Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta.
            PKI yang tengah berada di puncak kekuasaannya tentu tidak menginginkan kejatuhan tokoh yang selama ini menjadi tameng terkuatnya, maka dirancanglah Gerakan 30 September yang ditujukan untuk mencegah kudeta yang, konon, akan dilakukan oleh para jenderal AD.

KRONOLOGI GERAKAN 30 SEPTEMBER
            Rencana gerakan ini diserahkan kepada Sjam Kamaruzaman yang diangkat sebagai ketua Biro Khusus PKI oleh Aidit. Biro Khusus inilah yang menghubungi koneksinya di kalangan ABRI, seperti Brigjen Supardjo, Letnan Kolonel Untung dari Cakrabirawa, Kolonel Sunardi dari TNI AL, Marsekal Madya Omar Dhani dari TNI AU dan Kolonel Anwar dari Kepolisian.
            Diadakanlah beberapa pertemuan rahasia guna merancang gerakan ini di beberapa tempat yang berlainan. Sjam sendirilah yang beberapa kali memimpin jalannya rapat tersebut. Akhirnya, para pemimpin PKI menunjuk Letkol. Untung dari Cakrabirawa untuk memimpin gerakan yang diberi nama Gerakan 30 September. Agenda kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Menculik para jenderal pimpinan TNI-AD untuk melumpuhkan kekuatan ABRI.
  2. Menduduki gedung RRI.
  3. Memperkuat basis pertahanan PKI di Lubang Buaya yang terletak dekat markas besar TNI-AU.
  4. Membentuk Dewan Revolusi yang akan menggantikan pemerintah sipil.
  5. Mendemisionerkan Kabinet Dwikora dan membentuk pemerintah berdasarkan NASAKOM.
Di Lubang Buaya, malam hari tanggal 30 September 1965, telah berkumpul aktivis utama Gerakan 30 September ; Letkol Untung, Brigjen Supardjo, Kolonel Latief (AD). Letkol Heru Atmodjo, Mayor Sujono dan Mayor Gatot Sukrisno (AU), Aidit dan Sjam (PKI). Satu batalyon Cakrabirawa, batalyon Raider 454 Diponegoro, batalyon Raider 530 Brawijaya, dua peleton brigade Latief, pasukan darat AU, unsur-unsur Pemuda Rakyat dan Gerwani
Penculikan para Jenderal diawali dengan perintah untuk membawa ketujuh jederal hidup atau mati, yang disampaikan oleh Sjam. Rupanya perintah ini dilaksanakan oleh  pasukan Cakrabirawa dan sekelompok kecil Pemuda Rakyat, yang diserahi tugas menculik para jenderal dari rumahnya, dengan sungguh-sungguh.
Setelah mendapat instruksi di markas angkatan kelima PKI di Lubang Buaya, para pelaku penculikan mulai melaksanakan tugasnya. Mereka mendatangi rumah ketujuh jenderal pada dini hari (diasumsikan telah memasuki hari setelahnya, yaitu 1 Oktober 1965) dan menyatakan bahwa Presiden memanggil para jenderalnya. Ketujuh Jenderal itu adalah Letnan Jenderal Achmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto, Mayor Jenderal M. T. Harjono, Mayor Jenderal S. Parman, Brigadir Jenderal D. I. Pandjaitan, Brigadir Jenderal Soetojo Siswomihardjo, dan Jenderal A. H. Nasution.. Tiga orang jenderal, Yani, Harjono dan Panjaitan dibunuh di rumahnya karena melawan, sedangkan Parman, Soetojo, Soeprapto, dan Pierre Tendean (ajudan Nasution)  dalam keadaan hidup saat dibawa ke Lubang Buaya. Jenderal Nasution berhasil lolos dari penculikan dan hanya mengalami cedera pada kakinya setelah melompati tembok pembatas rumahnya di Menteng untuk melarikan diri. Sebagai gantinya, Ade Irma Nasution, putrinya menjadi korban penembakan.
Selanjutnya pada pukul 07.15 pagi tanggal 1 Oktober, pihak pemberontak mengumumkan melalui RRI bahwa Gerakan 30 September adalah suatu kelompok militer yang telah bertindak untuk melindungi Presiden Soekarno dari kudeta yang direncanakan oleh suatu dewan yang terdiri atas jendral-jendral yang korup dan menjadi kaki tangan CIA. Pada pukul sembilan pagi, Presiden Soekarno mengubah tujuan awalnya ke istana kepresidenan menjadi Halim, setelah menerima laporan adanya pasukan tak dikenal di Lapangan Merdeka. Sesampainya di Halim, Presiden bertemu Omar Dhani dan para anggota PKI lainnya.
Gerakan 30 September kembali menyiarkan pengumuman melalui RRI pada pukul sebelas siang. Isinya menyatakan bahwa telah dibentuk sebuah Dewan Revolusi yang akan menjadi “sumber segala kekuasaan dalam Republik Indonesia”.
Kurangnya persiapan dalam pelaksanaan kup ini mulai nampak ketika diketahui tiadanya perbekalan yang disiapkan oleh para pemimpin gerakan untuk dua batalyon pasukan yang menduduki Lapangan Merdeka. Pasukan-pasukan ini mulai kelelahan, kelaparan, serta kehausan. Jenderal Soeharto (yang mengambil alih komando AD sesaat setelah diketahui adanya serangan dari pihak PKI) pun mulai membujuk agar pasukan Brawijaya datang ke markas Kostrad.
Presiden Soekarno memanggil kedua jenderalnya, Umar dan Pranoto, untuk menghadapnya ke Halim. Permintaan ini ditolak oleh Soeharto dengan alasan keamanan. Maka, Presiden segera menyusun sebuah pernyataan yang akan menjadikannya pemegang komando atas AD. Namun, sebelum pernyataan itu berhasil disiarkan, batalyon Raiders Brawijaya bergabung ke Kostrad dan batalyon Raider Diponegoro mundur ke Halim, menjadikan Soeharto kembali menguasai pusat Jakarta tanpa tembakan peluru. RRI yang telah dikuasai kembali oleh AD, dilarang Soeharto menyiarkan pernyataan Presiden Soekarno tersebut.
Pada pukul setengah delapan malam, Soeharto kembali tidak mematuhi perintah Presiden Soekarno dengan melarang Pranoto datang menghadap ke Halim. Sebaliknya, beliau mengatakan kepada Bambang Widjanarko, yang diutus untuk menjemput Pranoto, agar Presiden segera meninggalkan Halim yang akan segera diserang dengan kekerasan. Hal ini menunjukan betapa pengaruh Soeharto mulai menguat, sementara Presiden Soekarno mulai kehilangan kekuasaannya perlahan-lahan.
Pada pukul 20.15, Dinas Penerangan AD mengumumkan melalui RRI bahwa suatu “gerakan kontra revolusi” telah menculik Yani dan 5 jendral lainnya. Pimpinan AD sementara waktu dipegang oleh Soeharto dan Presiden, serta Nasution, dalam keadaan aman. Beberapa jam setelah pengumuman tersebut, Presiden Soekarno meninggalkan Halim menuju Istana Bogor, para pembesar PKI segera menyembunyikan diri, dan sebelum tengah malam, pemberontakan yang gagal ini telah berakhir.


ANALISA
            Perang dingin antara Blok Barat (kapitalis) dan Blok Timur (komunis-sosisalis) terjadi setelah Perang Dunia II berakhir. Dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni-Soviet, menjadi pemimpin masing-masing blok. Perang pengaruh ini telah merambah hampir ke seluruh bagian dunia dan, bahkan, mencapai Asia. Perang Korea dan Perang Vietnam menjadi salah satu bukti betapa gigihnya usaha AS untuk meredam pengaruh komunis di dunia, terutama setelah berkuasanya Mao Zi Dong yang menjadikan RRC negara komunis yang besar.
            Indonesia merupakan negara muda yang perjuangan kemerdekaannya menjadi teladan banyak bangsa-bangsa lain. Lokasinya yang strategis dan kekayaan alamnya yang luar biasa menjadikan Indonesia negara baru yang memiliki banyak potensi untuk maju dan berkembang. Jika komunis berhasil menguasai Indonesia, bukan hanya jalur perdagangan strategis yang akan ditutup bagi AS atau sumber daya yang tidak dapat diolah pihak asing, tapi juga adanya kemungkinan negara-negara baru merdeka lainnya akan mengikuti jejak Indonesia menjadi komunis. Selain itu, posisi geografis Indonesia yang berada di’bawah’ AS dapat membahayakan jika terjadi serangan dari pihak komunis dimana Indonesia tentu akan menjadi sekutu Uni-Soviet yang berada di Utara AS.
            Berbagai alasan itulah yang menjadikan AS berusaha keras mencegah Indonesia jatuh ke arah kiri dan usaha itu haruslah diawali dengan kejatuhan Soekarno yang selalu menentang AS.
Presiden Soekarno mengumandangkan NEFO (New Emerging Forces) dengan mengadakan Konferensi Asia-Afrika pada 1965, yang kemudian melandasi berdirinya Gerakan Non-Blok pada 1961. Tujuan keduanya adalah mengupayakan dukungan bagi hak menentukan nasib sendiri, kemerdekaan nasional, kedaulatan dan integritas nasional negara-negara anggota yang pada umumnya merupakan negara-negara yang baru merdeka. Ia bersikap penuh permusuhan kepada negara-negara Barat, termasuk AS. Sebaliknya, beliau cenderung terlihat mendukung golongan Timur yang komunis dilihat dari propaganda NASAKOM-nya dan perlindungannya terhadap PKI di Indonesia. Soekarno menyatakan kebenciannya terhadap apa yang ia sebut OLDEFO (Old Emerging Forces) itu lebih terang-terangan setelah kemerdekaan Malaysia yang diberikan oleh Inggris. Ia bahkan menarik Indonesia keluar dari PBB ketika Malaysia bergabung pada tanggal 7 Januari 1965
Pemerintah Amerika Serikat tentu akan kesulitan jika terjun langsung ke kancah politik Indonesia mengingat banyak pihak yang memusuhinya. Oleh karenanya dibutuhkan antek-antek lokal untuk melangsungkan rencana ini. Dugaan ini didukung oleh adanya Dokumen Gilchrist yang menyebutkan adanya ”teman lokal kita” yang dipercaya sebagai Sjam Kamaruzaman. Selain itu, AS perlu menjamin bahwa pengganti Soekarno nanti haruslah seseorang yang memihaknya. Untuk itu, dipilihlah Soeharto, tokoh AD yang merupakan satu-satunya angkatan yang tidak anti-Amerika.
            Sjam adalah sosok misterius yang selama ini dipercaya bekerja sebagai double agent. Posisinya strategis di dua pihak, PKI dan AD. Sebagai Ketua Biro Khusus PKI, ia memiliki koneksi langsung ke pemimpin PKI, D.N. Aidit, dan sebagai seorang tentara, ia kerap kali terlihat mempimpin langsung rapat intern AD. AS melalui CIA sangat beruntung memiliki kaki tangan yang berpijak di dua kubu. Kesaksian Sjam di persidangan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) yang mengadili para pelaku kup juga mengundang tanda tanya karena Sjam, sebagai seseorang yang masuk jajaran tinggi PKI, menyatakan bahwa ia hanya melakukan apa yang diperintahkan Aidit selaku pemimpin PKI. Seluruh kesaksiannya seolah-olah memberatkan Aidit dan PKI yang seharusnya dibela olehnya. Jika ditilik dari kesaksiannya, dapat kita katakan bahwa perintah untuk “membawa para jenderal hidup atau mati” itu berasal dari Aidit, sebab Letkol. Untung selaku pemimpin kup bersaksi bahwa ia tidak pernah mengeluarkan perintah yang demikian. Yang dipersalahkan, yaitu Aidit, sendiri tidak dapat membuktikan atau menyangkal kesaksian Sjam tersebut. Ia ditembak mati di tempat saat pasukan suruhan Soeharto yang ditugaskan menumpas PKI menemukan tempat persembunyiannya.
            Soeharto adalah pihak lain yang diuntungkan dari peristiwa ini. G 30 S merupakan batu loncatan yang menghantarnya ke puncak kekuasaan. Keberhasilannya menumpas PKI pasca G 30 S menjadikannya pahlawan di kalangan masyarakat.  Namun, setelah kejatuhannya di tahun 1998, banyak kejanggalan yang mulai terungkap. Selain ditemukannya bukti pemalsuan hasil otopsi ketujuh korban Lubang Buaya, hal janggal lainnya adalah adanya kesaksian yang menyatakan Soeharto telah mengetahui rencana kup beberapa saat sebelum kejadian. Hal ini didukung dengan kenyataan bahwa Soeharto memiliki hubungan yang baik dengan Letkol. Untung dan Abdul Latief, dua tokoh penting pelaksana G 30 S. Abdul Latief sendiri bersaksi bahwa dirinyalah yang memberitahu Soeharto tentang rencana kup itu sehari sebelum kejadian, saat menjenguk putra Soeharto yang dirawat di RSAD Gatot Subroto karena tertumpah sup panas. Satu hal lagi yang mencurigakan adalah daftar jenderal yang akan diculik PKI. Sampai sekarang siapa pembuat daftar itu masih merupakan misteri, namun mengapa Soeharto yang notabene punya kedudukan di AD tidak masuk dalam daftar tersebut?
            PKI seringkali menghujat jenderal-jenderal AD yang korup, lantas mengapa Suprapto, S. Parman, M. T. Harjono, Soetojo, dan Nasution masuk daftar padahal mereka adalah tokoh AD yang terkenal membenci dan memberantas korupsi? Di lain pihak, Soeharto pernah terlibat kasus penyelundupan dengan alasan kesejahteraan anak buah semasa dirinya menjabat sebagai Panglima Diponegoro. Pengadilan tentang hal itu pun dibekukan atas kebesaran hati Presiden Soekarno.
            Setelah Soeharto berkuasa, ia mengubah tata pemerintahan Indonesia secara menyeluruh. Paham komunis dilarang, Indonesia kembali menjadi anggota PBB dan NASAKOM digantikan dengan REPELITA. Penanam modal asing berdatangan mengeruk sumber daya alam Indonesia dan mengisi kas negara. Bahkan hal-hal berbau Tionghoa yang identik dengan komunis dilarang, seperti pendidikan bahasa Mandarin, pertunjukan barongsai, dan sebagainya.
            PKI turut menerima dampaknya. Dilaporkan ribuan, bahkan ada yang menyebut jutaan, orang yang diduga anggota PKI menjadi korban pembantaian massa dengan dalih memberantas komunis. Pemerintah menyebarkan teror mengenai kejamnya komunisme melalui surat kabar, televisi, dan pendidikan. Bahkan, pemerintah membangun monumen peringatan di Lubang Buaya. Dalam sekejap, partai besar dengan jutaan dukungan rakyat berbalik menjadi partai yang dibenci semua orang. Namanya pun menjadi tabu dan menebarkan ketakutan. Kemudian, Gerakan 30 September selalu diakhiri dengan kata PKI.
            Selanjutnya Soeharto mendapat kekuasaannya yang baru setelah terbitnya Supersemar dan AS dapat mengakhiri kekhawatirannya akan situasi di Indonesia. Bahkan, AS kini dapat menanamkan modalnya dan mengeruk kekayaan alam Indonesia melalui perusahaan-perusahaan raksasanya seperti Caltex dan Freepot.
            Laporan Duta Besar AS pada masa itu, Marshall Green, ke Washington tertanggal 10 Agustus 1966 menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia menggunakan daftar nama para pembesar PKI milik AS untuk melakukan pembasmian PKI. Hubungan AS dengan AD telah lama terjalin melalui kerjasama persenjataan dan bantuan-bantuan AS kepada batalyon-batalyon AD, termasuk di dalamnya Batalyon Brawijaya dan Batalyon Diponegoro yang digunakan Soeharto untuk membasmi PKI.
            Dapatlah kita mengambil dugaan adanya sebuah skenario atas hubungan mutualisme antara Soeharto dan CIA.

KESIMPULAN
            Secara singkat dapat kita rumuskan skenario G 30 S, sebagai berikut:
1.      AS yang khawatir Indonesia akan menjadi komunis memerintahkan CIA memulai penyelidikan dan mencari cara untuk menggulingkan Soekarno sebagai langkah awal membersihkan Indonesia dari komunis.
2.      CIA merekrut Sjam yang memiliki kedudukan strategis di dua pihak dan diduga memiliki sifat oportunis. Atau dapat juga dikatakan bahwa Sjam sedari awal adalah agen CIA yang disusupkan ke Indonesia, mengingat kehidupannya yang misterius. Sjam kemudian merencanakan G 30 S yang kemungkinan besar dirancang untuk gagal.
3.      CIA turut menghubungi Soeharto, yang kemungkinan menyusun daftar nama-nama jenderal yang menjadi sasaran PKI (ketujuh jenderal ini adalah saingan Soeharto dalam merebut kekuasaan), dan merancang peralihan kekuasannya.
4.      Terjadilah G 30 S, Sjam menyelewengkan perintah dan Soeharto bertindak sebagai komandan yang meredakan pemberontakan. Ketenangan Soeharto dalam menghadapi pemberontakan ini adalah karena beliau sudah mengetahui rencana kup sebelumnya.
5.      Setelah pergolakan politik beberapa saat, Soekarno akhirnya turun panggung, dan kemudian Supersemar menjadikan Soeharto penggantinya. 
6.      Soeharto mengubah tatanan politik Indonesia yang menguntungkan bagi pihak asing, khususnya AS. PKI diberantas sehingga Indonesia bersih dari komunis dan AS tidak perlu lagi khawatir akan posisi Indonesia.
PKI sendiri menjadi pihak yang paling tidak mungkin menjadi perencana gerakan ini mengingat dampaknya yang menghancurkan. Selain itu agak janggal bila Aidit, yang selama masa pimpinannya PKI berhasil bangkit, menjadi begitu cerobohnya dalam merencanakan suatu gerakan. Jika taktik yang biasa dilakukannya adalah gerakan bawah tanah, sudah pasti ia adalah seorang yang teliti dan berhati-hati.
            Soeharto sendiri mungkin terlibat dalam skenario ini, namun ia bukanlah perancangnya. Hal ini dapat didukung dengan fakta bahwa Soeharto memiliki hubungan dekat dengan beberapa anggota PKI seperti Abdul Latief dan Letkol. Untung. Ia hanyalah pihak yang ditawari dan setuju untuk bekerja sama.
            Keberuntungan Soeharto berakhir pada 1998 saat kekuasaannya runtuh oleh, lagi-lagi, reformasi. Sementara AS tetap menjadi negara adidaya dengan memenangkan Perang Dingin yang ditandai dengan runtuhnya Uni-Soviet pada 1991. Hingga kini, perusahaan-perusahaan asal AS masih tetap mengeruk keuntungan dari Indonesia. Maka, kita dapat melihat pihak mana yang paling diuntungkan.


DAFTAR PUSTAKA

Alfian, Magdalia, dkk. 2006. Sejarah 2: untuk SMA dan MA Kelas XI Program Ilmu Pengetahuan Alam. Yakarta: Esis.
Arbrianto, Arief. 2007. Peran Soeharto dalam Peristiwa Gerakan 30 September 1965. [Online]. Tersedia: http://masawep.multiply.com/journal/item/41
Badrika, I Wayan. 2006. Sejarah 2: untuk SMA Kelas XI Program Ilmu Alam. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Dani, Omar. 2001. CIA Terlibat dan Soeharto Tangan yang Dipakai.... [Online]. Tersedia: http://www.tempo.co.id/harian/wawancara/waw-oemardhani.html
Giebels, Lambert J. 2005. Pembantaian yang Ditutup-tutupi: Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno. Yakarta: Grasindo.
Harsutejo. 2009. Soeharto dan Tujuh Jenderal Korban G 30 S. [Online]. Tersedia: http://madruhi.multiply.com/journal/item/127/Suharto_dan_Tujuh_Jenderal_Korban_G30S_2
Hilman. 2008. G 30 S/PKI Versi Dr. Soebandrio. [Online]. Tersedia: http://www.hilman.web.id/index.php?posting=blog&id=226
Keefer, Edward. C (Ed.). 2007. Dokumen CIA: Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G 30 S 1965. Jakarta: Hasta Mitra.
Mira. 2007. CIA Stalling State Departmen Histories. [Online]. Tersedia: http://dev.progind.net/modules/smartsection/item.php?itemid=106
Sulistyo, Herman. 2002. Lima Skenario G 30 S (dalam Palu Arit Ladang Tebu). [Online]. Tersedia: http://www.apakabar.ws/forums/viewtopic.php?f=1&t=1585&start=0
Sulistyo, Rj. 2009. Lewat Tengah Malam, 1 Oktober 1965. [Online]. Tersedia: http://umum.kompasiana.com/2009/10/02/lewat-tengah-malam-1-oktober-1965/
Rossa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto. Yakarta: Hasta Mitra.


Catatan:


Makalah ini ditulis sekitar tahun 2010-2011 (kurang-lebih 3 tahun lalu) dan ternyata di tahun 2014 ini, beberapa website yang dijadikan sumber sudah tidak eksis (ditutup atau dihapus). Karena itu, saya mohon maaf dan harap pengertiannya. Terima kasih.

2 Kommentare:

Anonym hat gesagt…

Link2nya di daftar pustaka mesti diperbarui tuh :D
Bole ikut share ngga?

Cherry

jmarceline hat gesagt…

Silahkan :)
Duh, kalo masalah link, udah 3th yang lalu itu *_* nanti kalo ada waktu baru diurus deh yah ;) Thanks btw buat infonya

Donate Now!