Sonntag, 13. April 2014

The Act of Killing a. k. a. Jagal - Apa yang Saya Ketahui tentang Peristiwa G30S

Gue menonton film dokumenter ini kira-kira dua minggu yang lalu, ketika gue (ternyata bisa juga) bosan dengan drama Korea dan film-film biasanya. Selama beberapa hari itu gue nongkrong di Youtube dan website sejenis untuk menonton sejumlah fim dokumenter atau talk show bermutu, seperti "Mata Nadjwa" dan "Kick Andy". Sampai kemudian gue menemukan film Jagal ini, full dan high definition. Mantap.

Sebenarnya gue sudah berusaha menonton film ini setelah membaca rekomendasi seorang kenalan, ditambah waktu gue buka website filmnya, ditulis kalau kita bisa mengunduh film yang bersangkutan secara gratis. Tapi ternyata, kesempatan download gratis itu hanya berlaku di Indonesia dan saat itu belum ada orang yang mengunggah film ini ke internet. Jadilah hasil pencarian gue waktu itu tidak membuahkan hasil: gue hanya bisa menemukan trailer-nya saja.

"Jagal" adalah sebuah film dokumenter mengenai pembantaian anggota PKI di tahun 1960-an, setelah kejadian Gerakan Tiga Puluh September (G30S) tahun 1965. G30S adalah sebuah momentum bersejarah yang menandai runtuhnya kekuasaan Presiden Soekarno (Orde Lama), yang kemudian beralih kepada Jenderal Soeharto (Orde Baru). Hal-hal lain yang identik dengan peristiwa G30S ini adalah pembunuhan 6 orang petinggi angkatan darat pada waktu itu dan seorang ajudannya, bernama Pierre Tendean. Ketujuh mayat itu ditemukan di Lubang Buaya, sebuah sumur tua di daerah Jakarta Timur.

Semasa gue sekolah, gue hanya pernah mendengar G30S, tapi tidak pernah tahu apa cerita sebenarnya. Nyokap gue pernah cerita, bahwa pada jaman beliau masih sekolah, setiap tanggal 30 September semua orang wajib untuk menonton film buatan pemerintah berjudul "Pengkhianatan G30S-PKI" sebagai peringatan akan kekejian komunisme. Waktu jaman gue sekolah, kebijakan itu (untungnya) sudah tidak diberlakukan lagi.


Sampai ketika gue SMA kelas 11, diadakanlah acara field trip ke Lubang Buaya. Di sana kita dijelaskan olah bapak-bapak pemandu tentang apa itu Gerakan Tiga Puluh September. Di daerah Lubang Buaya, ada rumah-rumah kecil sederhana dengan beberapa diorama yang menggambarkan kegiatan-kegiatan PKI di markas mereka (Lubang Buaya dulunya adalah markas PKI), termasuk diorama penyiksaan para jenderal oleh PKI. Kemudian ada sumur tua berdiameter 70cm yang  menjadi tempat ketujuh mayat dibuang. Gue masih ingat, di bagian dalam dinding sumurnya diberi semacam percikan cat warna merah, mungkin maksudnya untuk menggambarkan darah.

Di sana didirikan sebuah tugu peringatan: ketujuh pahlawan revolusi (para Jenderal dan Pierre Tendean yang jadi korban PKI) berdiri gagah di atas sebuah dinding relief yang menggambarkan betapa besar jasa-jasa Presiden Soeharto terhadap bangsa Indonesia (menurut gue, relief ini amat sangat tidak "nyambung" dengan peristiwa G30S, ceritanya lebih seperti bentuk narsisisme Soeharto sendiri). Tidak jauh dari sumur itu, ada sebuang bangunan Museum Pengkhianatan PKI. Di dalamnya ada banyak benda-benda peninggalan para korban (pakaian berbercak darah, dokumen hasil visum, dsb). Gue juga ingat apa kata para bapak-bapak pemandu di sana. Mereka menceritakan kronologis pemberontakan PKI ini dan betapa sadisnya mereka ketika membunuh para jenderal. Diceritakan para anggota Gerwani (komunitas perempuan PKI) bernyanyi-nyanyi dan menari bugil ketika akan menyiksa korbannya. Dikatakan juga bahwa para korban Lubang Buaya ini kemaluannya dikebiri dan disayat dengan silet.

Ini monumen di Lubang Buaya dengan ketujuh pahlawan revolusi.


Menerima informasi demikian untuk pertama kalinya, gue merasa benci sekali dengan PKI. Gue nggak habis pikir, kenapa manusia bisa jadi sekejam itu. Gue tidak mengerti betul apa itu paham komunis, tapi pada saat itu yang gue tahu adalah komunis sama dengan kejam dan sadis.

Beberapa bulan kemudian gue berkenalan dengan Soe Hok Gie lewat Catatan Harian Seorang Demonstran. Melalui tulisan-tulisannya, gue menemukan versi lain dari cerita pengkhianatan PKI ini, bahwa ternyata apa yang terjadi terhadap seluruh anggota PKI, yang jumlahnya jutaan itu, setelah kejadian G30S tidak kalah sadis dan mengerikan. Gie sendiri memilih topik pembantaian PKI sebagai skripsinya (yang dibukukan dan gue temukan di perpustakaan sekolah :D). Pada saat ini, gue menyadari bahwa jutaan orang dijadikan tahanan politik, bahkan tidak sedikit yang dibunuh, hanya karena menjadi anggota PKI atau "dituduh" menjadi anggota PKI.

Di tahun terakhir masa SMA, gue mendapat tugas dari guru sejarah untuk membuat makalah mengenai siapa "dalang" dari peristiwa G30S. Teori yang beredar saat ini, menyatakan bahwa dalang sesungguhnya adalah: memang PKI; Presiden Soekarno; Jenderal Soeharto; atau CIA. Pertama kali mendengar tentang keterlibatan CIA, membuat gue bingung juga, kok jadi bawa-bawa Amerika? Tapi kemudian gue kebagian membuat makalah tentang keterlibatan CIA dalam peristiwa G30S (guru sejarah gue membuat undian untuk memilih siapa membahas apa). Dari hasil membaca berbagai buku, gue berkesimpulan bahwa dalang sesungguhnya kemungkinan besar adalah Jenderal Soeharto DAN CIA. (Makalah gue bisa dibaca disini)

Kembali ke film "Jagal". (Silahkan ditonton di bawah ini).


"Jagal" dilarang tayang di Indonesia, tapi film ini cukup sukses di luar negeri, bahkan dinominasikan untuk Academy Awards

Film ini membuka mata gue dan, jujur, bikin hati nyeri. Gue nggak habis pikir, bagaimana orang-orang itu masih bisa bebas berkeliaran dan hidup seperti "jagoan". Muaknya luar biasa. Kembali gue dihadapkan pada pertanyaan, kok bisa manusia jadi sekejam itu? Gue mengerti bahwa pada masanya, PKI dan komunisme dianggap penjahat dan berbahaya. Tapi, mereka itu semua masih manusia. Apakah masuk akal, jika ribuan bahkan jutaan manusia diasingkan, dipenjarakan, bahkan disiksa dan dibunuh tanpa pengadilan layak, hanya karena tangan-tangan yang menunjuk mereka sebagai komunis? Itu nggak masuk dalam logika gue.

Ditambah lagi, tidak semua jutaan anggota PKI itu ikut-ikutan memberontak dan membunuh para jenderal. Sebagian besar dari mereka hanya buruh dan petani, rakyat kecil yang ikutan masuk PKI karena dijanjikan kemakmuran. Apa bedanya dengan masyarakat kecil sekarang yang senang-senang ikut kampanye partai karena diberi kaos, makan siang, dan dangdutan? Hanya saja bendera-bendera partai itu kini tidak lagi berlambang palu-arit. Mereka-mereka itu kemungkinan besar tidak mengerti politik dan apa komunis itu. Mereka cuman tahu, kalau partai ini "mungkin" dapat mengenyangkan perut mereka.

Dan yang paling membuat perut gue muak dan hati gue sakit adalah kenyataan bahwa para pelaku pelanggaran HAM ini merasa "bangga" akan jasanya memberantas PKI. PKI itu isinya masih manusia, bukan hama yang harus diberantas. Apapun alasannya, membunuh bagi gue adalah salah. Walaupun mungkin di masa yang akan datang nanti terbukti bahwa memang benar PKI adalah dalang G30S, membunuh dan membantai bukanlah jalan keluar dan keadilan.

Gue akui memang masih ada banyak masalah di bumi Indonesia ini: korupsi, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Tapi, gue rasa masalah tentang hak asasi manusia juga tidak boleh diabaikan. Mungkin sekarang-sekarang ini masalah hak asasi terkesampingkan dengan problem-problem lainnya yang marak di media, namun kita tidak boleh lupa. 

Gue ulangi: KITA TIDAK BOLEH LUPA


Walaupun mungkin ketika pengadilan tinggi pelanggaran HAM yang akan mengadili kasus pembantai PKI ini dilaksanakan, para pelaku kejahatan HAM itu sudah kembali ke liang lahat, gue merasa peristiwa ini tetap harus diluruskan dan diceritakan sebagaimana adanya. Kebenaran itu harus diungkapkan. Jangan lagi taruh PKI di belakang G30S, hapus semua tulisan yang mengatakan bahwa para jenderal itu dikebiri, dan lain sebagainya.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa hasil visum yang menyatakan pengebirian dan lain sebagainya itu adalah buatan petinggi Orde Baru. Jadi, bisa dibilang apa yang gue dengar dari bapak-bapak pemandu di Lubang Buaya beberapa tahun yang lalu hanyalah dongeng rekaan belaka, termasuk segala isi Museum Pengkhianatan PKI di sana. 


Gue rasa rakyat Indonesia harus menjadi lebih dewasa dan mencontoh Jerman, yang juga menanggung aib karena Nazi. Para pemuda Jerman belajar tentang sejarah kelam bangsa mereka saat masih duduk di bangku sekolah. Walaupun kisah holocaust oleh Nazi itu bisa dibilang mengerikan dan mencoreng nama bangsa mereka, tapi mereka menolak lupa. Dengan menolak lupa, mereka berusaha mencegah hal yang sama untuk terulang lagi, bukan malah menumbuhkan rasa benci terhadap bangsanya sendiri. 

Sedangkan para pelajar di Indonesia dibuta-tulikan oleh sejarah yang ditulis ulang demi kepentingan sebagian pihak. Tidak heran, masih begitu banyak pelanggaran HAM yang terjadi di bumi Indonesia, karena mereka tidak belajar dari sejarah yang sebenarnya. 



Tambahan:




Kalau masih ada waktu, mari ditonton dan dibaca juga :)





* Part selanjutnya bisa dilihat di tab related videos :)



















Kalau mau tahu lebih banyak lagi, tinggal Google. Ada banyak sekali kisah-kisah yang berkaitan dengan peristiwa ini. :)

Keine Kommentare:

Donate Now!