Sebenernya, gue udah ogah nulis
tentang Pemilu lagi. Toh, udah ketahuan siapa yang menang tanggal 22 Juli
kemarin: JOKO WIDODO. (Yay! Selamat bertugas, Pak!) xDDD
Terserah sih kalau masih ada
pihak yang belum mau menerima kekalahan dan masih mau menggugat sana-sini; mau
digugat ke MK atau sampai pengadilan akhirat pun, TERSERAH.
Akan tetapi, berita akhir-akhir
ini mulai bikin emosi lagi. Intinya tetap sama sih... Gue nggak ngerti jalan
pikir "mereka". Yang membuat susah adalah gue ini 100% dukung Jokowi,
jadi segala opini gue pasti berpihak. Jadi, tanpa maksud mengarahkan atau
menggurui siapa pun, tulisan ini murni unek-unek gue aja.
Pertama nih ya, kalau mereka
fitnah Jokowi, kemudian para pendukung Jokowi mengklarifikasi, dibilang Jokowi
nggak suka dikritik. Tapi, kalau gantian Prabowo yang, katakanlah cuman dipertanyakan
kejelasan masalah penculikan aktivis 1998 dan kenapa nggak ada kelanjutan hukumnya,
dibilang mengungkit-ungkit masa lalu dan fitnah juga. Jadi, kesimpulannya kalau
mereka tebar fitnah ke Jokowi, itu kritik; kalau rakyat mempertanyakan
kebersihan riwayat hidup Prabowo, itu fitnah.
Kedua, kalau ada yang berusaha
membuka pikiran mereka dengan memberikan sumber-sumber berita dari berbagai
media, semua yang bersifat positif bagi Jokowi, disebut berpihak dan dibayar.
Tapi, sumber yang mereka jadikan acuan juga situs-situs model VOA.Islam dan
media seperti TVOne. Bahkan RRI dan KPU pun dituduh main kotor, ketika mereka
menyatakan Prabowo kalah dalam Pemilu 2014.
Ketiga, mereka sok jadi korban
dan menjadi sisi yang berlapang dada. I really don't get that. Selama ini
kecurangan-kecurangan yang terungkap sifatnya menguntungkan Prabowo kok...
Tiba-tiba jadi Jokowi yang dibilang curang? Eh, tapi nanti mereka pasti bilang
begini: "Media sekarang udah begitu berpihak dan nggak bisa dipercaya. Hati-hati loh... Banyak kecurangan
Jokowi yang nggak diekspos, yang disebar cuman negatifnya Prabowo." Nah,
itu dia... Kalau ada kecurangan dari pihak Jokowi yang "terlewat" dan
nggak diekspos media dan orang-orang itu tahu, YA DIEKSPOS DONG!!! Biar semua
orang tahu. Kenapa mereka malah diam-diam sok adem-ayem padahal di belakangnya
tebar-tebar fitnah. You know what's the word for that? MUNAFIK.
Jujur, awalnya gue ragu pas tahu
Jokowi dicapreskan. Dalam otak gue: cepet amat?! Tapi, kemudian hanya ada 2
capres dan titik balik yang membuat gue memilih Jokowi adalah ketika gue
menonton Mata Nadjwa edisi 28 Mei 2014: Jokowi atau Prabowo. I saw the people
who support them. Gue melihat Pak Anies, lalu melihat Fadli Zon. Really? Ada
orang yang lebih milih Fadli Zon ketimbang Anies Baswedan? Are you people that
blind? Lalu gue melihat Fahri Hamzah, Abdul Rizal Bakrie, Ahmad Yani, dan
terakhir FPI pun merapat ke Prabowo. Gue nggak ada masalah sama Prabowo. Gue
yakin, visi-misi beliau memang oke. Masalah HAM, karena nggak ada bukti baik
dia bersalah atau tidak (karena nggak ditindak lanjuti #tanyakenapa) gue udah
sisihkan dari dulu.
Tugas presiden itu berat.
Presiden butuh menteri-menteri profesional dan jujur dan bersih untuk
membantunya mengelola negara. Gue nggak yakin orang-orang yang gue sebutkan di
atas pantas duduk di pemerintahan. Dan gue nggak yakin Prabowo sanggup tangani
semua masalah Indonesia sendirian, sekuat apa pun dia. Jadi dari awal, lebih
daripada menolak Prabowo, gue menolak orang-orang yang mendukungnya itu untuk
memiliki kekuasaan di Indonesia. Yang membuat penilaian gue ke Prabowo turun
adalah apa yang terjadi setelah Pemilu tanggal 9 Juli 2014. You'd all know what
I mean.
Terlepas dari segala fitnah yang
diarahkan ke Jokowi, satu isu yang mengganggu hati gue adalah: Kalau Jokowi
jadi presiden, Jakarta akan dipimpin kafir (Ahok).
Gue sebagai Tionghoa dan Katolik
tentu nggak punya masalah kalau Pak Basuki pimpin Jakarta, apalagi beliau
terbukti mampu dan berkualitas. Gue juga nggak terlalu paham arti "kafir"
yang heboh disuarakan sana-sini. Tapi, di agama gue, salah satu dari dua hukum
kasih adalah: "Kasihilah sesamamu
manusia, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri." Sesamamu manusia, bukannya sama agama
atau suku atau ras... Gue bersyukur ajaran itu tertanam di diri gue, makanya
gue nggak bisa mengerti sama orang-orang yang memandang orang lain yang berbeda
dari dirinya sebagai lebih rendah. Yang lebih nggak ngerti lagi, kalau
berdasarkan argumen tersebut, berarti menurut mereka Jakarta jauh lebih penting
daripada Indonesia secara keseluruhan dong? How come?
Terakhir, gue cuman mau bilang
buat "mereka" yang merasa jadi korban kecurangan KPU... Jangan sok
jadi sisi netral dan objektif. Kita semua sudah nggak netral dan objektif,
nggak perlu deh pura-pura melihat semua dari jauh. Gue capek dan enek melihat
tulisan yang pura-pura nerimo, tapi
direndengi kata-kata lanjutan yang sama sekali tidak menunjukan kerelaan.
Intinya, jangan munafik lah...
#salam3jari

Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen