Freitag, 25. Juli 2014

And The 7th President of Indonesia is... JOKO WIDODO!

Sebenernya, gue udah ogah nulis tentang Pemilu lagi. Toh, udah ketahuan siapa yang menang tanggal 22 Juli kemarin: JOKO WIDODO. (Yay! Selamat bertugas, Pak!) xDDD

Terserah sih kalau masih ada pihak yang belum mau menerima kekalahan dan masih mau menggugat sana-sini; mau digugat ke MK atau sampai pengadilan akhirat pun, TERSERAH.

Akan tetapi, berita akhir-akhir ini mulai bikin emosi lagi. Intinya tetap sama sih... Gue nggak ngerti jalan pikir "mereka". Yang membuat susah adalah gue ini 100% dukung Jokowi, jadi segala opini gue pasti berpihak. Jadi, tanpa maksud mengarahkan atau menggurui siapa pun, tulisan ini murni unek-unek gue aja.

Pertama nih ya, kalau mereka fitnah Jokowi, kemudian para pendukung Jokowi mengklarifikasi, dibilang Jokowi nggak suka dikritik. Tapi, kalau gantian Prabowo yang, katakanlah cuman dipertanyakan kejelasan masalah penculikan aktivis 1998 dan kenapa nggak ada kelanjutan hukumnya, dibilang mengungkit-ungkit masa lalu dan fitnah juga. Jadi, kesimpulannya kalau mereka tebar fitnah ke Jokowi, itu kritik; kalau rakyat mempertanyakan kebersihan riwayat hidup Prabowo, itu fitnah.


Kedua, kalau ada yang berusaha membuka pikiran mereka dengan memberikan sumber-sumber berita dari berbagai media, semua yang bersifat positif bagi Jokowi, disebut berpihak dan dibayar. Tapi, sumber yang mereka jadikan acuan juga situs-situs model VOA.Islam dan media seperti TVOne. Bahkan RRI dan KPU pun dituduh main kotor, ketika mereka menyatakan Prabowo kalah dalam Pemilu 2014.

Ketiga, mereka sok jadi korban dan menjadi sisi yang berlapang dada. I really don't get that. Selama ini kecurangan-kecurangan yang terungkap sifatnya menguntungkan Prabowo kok... Tiba-tiba jadi Jokowi yang dibilang curang? Eh, tapi nanti mereka pasti bilang begini: "Media sekarang udah begitu berpihak dan nggak bisa dipercaya. Hati-hati loh... Banyak kecurangan Jokowi yang nggak diekspos, yang disebar cuman negatifnya Prabowo." Nah, itu dia... Kalau ada kecurangan dari pihak Jokowi yang "terlewat" dan nggak diekspos media dan orang-orang itu tahu, YA DIEKSPOS DONG!!! Biar semua orang tahu. Kenapa mereka malah diam-diam sok adem-ayem padahal di belakangnya tebar-tebar fitnah. You know what's the word for that? MUNAFIK.

Jujur, awalnya gue ragu pas tahu Jokowi dicapreskan. Dalam otak gue: cepet amat?! Tapi, kemudian hanya ada 2 capres dan titik balik yang membuat gue memilih Jokowi adalah ketika gue menonton Mata Nadjwa edisi 28 Mei 2014: Jokowi atau Prabowo. I saw the people who support them. Gue melihat Pak Anies, lalu melihat Fadli Zon. Really? Ada orang yang lebih milih Fadli Zon ketimbang Anies Baswedan? Are you people that blind? Lalu gue melihat Fahri Hamzah, Abdul Rizal Bakrie, Ahmad Yani, dan terakhir FPI pun merapat ke Prabowo. Gue nggak ada masalah sama Prabowo. Gue yakin, visi-misi beliau memang oke. Masalah HAM, karena nggak ada bukti baik dia bersalah atau tidak (karena nggak ditindak lanjuti #tanyakenapa) gue udah sisihkan dari dulu.

Tugas presiden itu berat. Presiden butuh menteri-menteri profesional dan jujur dan bersih untuk membantunya mengelola negara. Gue nggak yakin orang-orang yang gue sebutkan di atas pantas duduk di pemerintahan. Dan gue nggak yakin Prabowo sanggup tangani semua masalah Indonesia sendirian, sekuat apa pun dia. Jadi dari awal, lebih daripada menolak Prabowo, gue menolak orang-orang yang mendukungnya itu untuk memiliki kekuasaan di Indonesia. Yang membuat penilaian gue ke Prabowo turun adalah apa yang terjadi setelah Pemilu tanggal 9 Juli 2014. You'd all know what I mean.

Terlepas dari segala fitnah yang diarahkan ke Jokowi, satu isu yang mengganggu hati gue adalah: Kalau Jokowi jadi presiden, Jakarta akan dipimpin kafir (Ahok).

Gue sebagai Tionghoa dan Katolik tentu nggak punya masalah kalau Pak Basuki pimpin Jakarta, apalagi beliau terbukti mampu dan berkualitas. Gue juga nggak terlalu paham arti "kafir" yang heboh disuarakan sana-sini. Tapi, di agama gue, salah satu dari dua hukum kasih adalah: "Kasihilah sesamamu manusia, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri." Sesamamu manusia, bukannya sama agama atau suku atau ras... Gue bersyukur ajaran itu tertanam di diri gue, makanya gue nggak bisa mengerti sama orang-orang yang memandang orang lain yang berbeda dari dirinya sebagai lebih rendah. Yang lebih nggak ngerti lagi, kalau berdasarkan argumen tersebut, berarti menurut mereka Jakarta jauh lebih penting daripada Indonesia secara keseluruhan dong? How come?

Terakhir, gue cuman mau bilang buat "mereka" yang merasa jadi korban kecurangan KPU... Jangan sok jadi sisi netral dan objektif. Kita semua sudah nggak netral dan objektif, nggak perlu deh pura-pura melihat semua dari jauh. Gue capek dan enek melihat tulisan yang pura-pura nerimo, tapi direndengi kata-kata lanjutan yang sama sekali tidak menunjukan kerelaan. Intinya, jangan munafik lah...


#salam3jari

Keine Kommentare:

Donate Now!