Posts mit dem Label Essays werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label Essays werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Donnerstag, 4. Mai 2017

Things That Are Equally Important But Mostly Forgotten

Selama kira-kira 1,5 tahun saya masuk ke Kepengurusan PPI Jerman 2015-2017 dan sudah dibebastugaskan akhir April 2017 kemarin. Saya diberi tanggung jawab sebagai koordinator Divisi Humas dan Informasi. Tugas utama divisi ini pada dasarnya adalah menyebarluaskan informasi dan menjawab berbagai pertanyaan dari email dan media sosial lainnya. Pertanyaan yang paling sering adalah mengenai studi di Jerman: Bagaimana cara mendaftar, mencari universitas, berapa biaya hidup per bulan, dan lain sebagainya. Semuanya adalah hal-hal teknis, birokrasi dan administrasi.

Here’s what I’m going to say.

Ada BANYAK hal lain yang harus kalian beri perhatian khusus. Ini berlaku untuk semua yang tertarik untuk merantau dan studi di Jerman atau luar negeri lainnya. Satu yang paling penting buat saya adalah KEMANDIRIAN. Tolong coba direfleksikan sebelum heboh soal administrasi, UN atau lain-lainnya. Apakah Anda mampu mengurus diri Anda sendiri? Mandiri bukan hanya berarti makan dan mandi sendiri. NEIN. Berikut hal-hal yang menurut saya cukup penting untuk diperhatikan dan dilatih sebelum merantau ke negeri orang.

Sonntag, 13. April 2014

Tangan-Tangan CIA Di Balik "GERAKAN 30 SEPTEMBER"

LATAR BELAKANG
            Komunis telah dipandang dengan sebelah mata oleh Bangsa Indonesia setelah pemberontakannya di Madiun pada tahun 1948, peristiwa berdarah lain yang mencoreng nama partai palu-arit tersebut. Selama beberapa tahun setelahnya PKI hanyalah partai kecil yang punya sejarah hitam.
PKI yang sejak tahun 1951 dikepalai D. N. Aidit mulai bangkit perlahan. Setelah kegagalan pada tahun 1948, PKI bergerak dengan lebih berhati-hati dan terencana, tanpa kekerasan. Partai ini menggunakan taktik menyusupkan berbagai anggotanya ke badan partai-partai, organisasi-organisasi, bahkan angkatan bersenjata. Lambat laun, PKI menjadi suatu kekuatan yang patut diperhitungkan di negeri ini.
            Hal ini terbukti dari keberhasilan PKI masuk jajaran empat partai besar selama pemilu 1955, bersama PNI, Masyumi, dan NU. Aidit pun boleh berbangga akan keberhasilan gerakan ‘bawah tanah’-nya. Selain keberhasilannya dalam mengeruk dukungan rakyat, PKI sendiri membangun hubungannya dengan orang nomor satu di Indonesia saat itu, yaitu Presiden Soekarno.
            Kemudian Presiden Soekarno mengumumkan paham NASAKOM-nya pada 1959. Menyatukan paham nasionalis, agama dan komunis merupakan mimpinya di masa itu. Kaum golongan kiri mendapat lampu hijau dengan pengumuman ini karena, dengan demikian, komunis menjadi salah satu paham yang diakui di negeri ini. Maka, dengan dukungan dan perlindungan dari Presiden Soekarno, PKI semakin melebarkan sayapnya dan menyingkirkan lawan-lawan politiknya.
Donate Now!