Mittwoch, 26. März 2014

Cuap-Cuap Pemilu 2014: Pemikiran yang Terpendam

Judulnya tsahh... Hehehehe... Berikut adalah pendapat gue, menanggapi berbagai postings berbau pemilu di timeline.  
***
Ajang pemilihan umum tahun ini tampaknya cukup heboh, terutama di kalangan anak muda yang biasanya apatis tentang persoalan politik bangsa. Nggak kelewatan juga para Student/innen di Jerman ini. Sejak beberapa bulan belakangan, berbagai orang sibuk menge-post  berbagai artikel tentang pemilu di jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.

Untuk para perantau seperti saya, group FB PPI Jerman menjadi salah satu sumber utama tentang pemilu 2014. Awalnya saya antusias juga karena tahun ini adalah kali pertama saya berkesempatan untuk ikutan nyoblos. Tapi, lama kelamaan saya emosi sendiri akan banyaknya postingan yang bias dan tidak akurat.

Sebagian orang membagi informasi teknis tentang tata cara pemilu dan saran/anjuran memilih yang benar. Sebagian lagi bertingkah seperti "agen" kampanye beberapa partai tertentu. Kelompok kedua ini yang bikin saya naik darah.

Dimulai dengan share grafik presentase jumlah koruptor dari setiap partai. Tentu saja partai idaman mereka berada di urutan paling bawah. Kemudian data tersebut dibuktikan tidak akurat dan sumbernya tidak terpercaya. Dilanjutkan dengan share segala macam berita tentang partainya yang terlalu dibesar-besarkan. Terakhir sedikit-sedikit mereka menjelek-jelekkan oposisi partainya.

Oleh karena itu, saking saya sudah lama memendam pemikiran ini, saya mau nulis tentang pemilu juga. Berikut adalah pendapat saya berkaitan dengan hal-hal berbau pemilu yang selalu berkeliaran di timeline saya.

Partai mengusung agama tertentu
Ini hal yang sensitif. Saya pribadi tidak setuju kalau agama dikaitkan dengan politik, apalagi Indonesia bukan negara berdasarkan agama tertentu. Agama itu suci, sedangkan politik itu kotor.

"Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindar lagi, maka terjunlah." (Soe Hok Gie - Catatan Harian Seorang Demonstran)

Politik adalah ajang berebut posisi dan kekuasaan. Haruskah hal seperti itu dicampur dengan agama yang jelas-jelas mengajarkan kasih dan berbagi? Tidak perlu munafik, dalam praktik dan kenyataannya lebih sering terjadi agama dijadikan alasan untuk perebutan kekuasaan (bahkan dengan perang dan kekerasan), daripada terjadinya politik yang sifatnya mengalah dan mengasihi.


Agama itu adalah masalah pribadi manusia dengan Tuhan. Kalau semua orang beragama menjalankan aturan agamanya masing-masing dengan tepat, saya yakin dunia ini akan damai sejak dahulu kala. Agama mana yang mengajarkan membunuh atau mencuri atau berbuat jahat? Yang jadi masalah adalah ketika seorang agama A memaksa seorang agama B untuk pindah ke agamanya. Kenapa? Karena ia yakin agamanya yang paling benar. Lalu apakah pemeluk agama B merasa agamanya tidak benar? Justru karena ia juga merasa agamanyalah yang paling benar, maka ia meyakininya. Begitu seterusnya, kalau mau dilanjutkan, tidak akan selesai.

Pembunuh, koruptor, pencuri, dan penjahat-penjahat lain yang beragama tidak boleh dijadikan patokan untuk mengeneralisasikan seluruh pemeluk agama yang sama dengan penjahat itu. Yang jahat adalah manusianya, bukan agamanya.

Indonesia adalah negara multikultural. Agama yang diakui ada 6 (termasuk Konghuchu), suku dan bahasa daerahnya ratusan (atau ribuan?), budayanya juga beragam. Kenapa orang-orang ini suka lupa dengan Bhinneka Tunggal Ika? Capek saya. Kalau mau tinggal di negara berdasar agama tertentu, silahkan pindah, jangan tinggal di Indonesia.


Menjelek-jelekan lawan
Ini adalah hal yang paling absurd, bodoh, dan kekanakan, yang seharusnya tidak boleh hadir di atas panggung kampanye pemilu tahun 2014. Jaman begini masa masih main jelek-jelekkan?

Oleh karena itu, daripada terpengaruh berita-berita sepele yang tujuannya hanya untuk "mengharumkan" nama partai, saya menghimbau teman-teman semua untuk mengenal SETIAP calon dengan menyaksikan debat-debat dan wawancara mereka yang banyak ditayangkan televisi (atau dalam kasus saya youtube). Dari sana bisa kelihatan mana yang banyak bicara, tapi tidak ada isinya. Kadang ada yang terkesan nggak suka dikritik dan mengalihkan tanggung jawab dengan menyebut pihak lain (lihat: "Mata Nadjwa" episode Rapor DPR). Menerima kritik dan memberi kritik membangun menurut saya adalah kualitas yang harus dimiliki setiap orang, terutama para pemimpin bangsa. Mengkritik dan menjelek-jelekkan itu beda loh.

Memberi kritik tujuannya membangun, sehingga yang dikritik berkembang menjadi lebih baik. Menjelek-jelekkan tujuannya adalah untuk menjatuhkan. Kemenangan yang diperoleh dengan menjatuhkan lawannya, menurut saya tidak benar. Kemenangan harusnya diperoleh karena si pemenang adalah yang terbaik, bukan karena ia berhasil menjatuhkan lawannya.  Meraih kemenangan dengan menjelek-jelekan atau menjatuhkan lawan hanyalah untuk pecundang, yang sebenarnya mungkin tidak yakin akan kelayakan dirinya sendiri. Jadi, janganlah termakan opini yang sifatnya menjelek-jelekkan.

Apalagi kalau kritik negatif itu berbau SARA. Wow! It's absolutely a no-no! SARA adalah hal basi dan ketinggalan jaman untuk diangkat sebagai senjata. Mereka yang menggunakan SARA sebagai senjata, sebenarnya juga adalah pecundang yang paling lemah.

Saya jadi ingat perkataan ayah saya dulu, "Fanatik itu nggak bener, apapun itu." Semakin saya merasakan hidup, semakin terasa benar omongan itu. Fanatisme gampangnya adalah rasa suka yang berlebihan dan segala sesuatu yang berlebihan adalah tidak baik. Fanatisme bisa menjadikan seseorang bias. Fanatisme bisa menjadikan seseorang 'buta' akan sisi negatif idolanya. Hidup sebagai fanatik adalah bagaikan katak dalam tempurung yang hanya melihat dunia sebatas bagian dalam tempurungnya, sempit.

Informasi yang para 'juru kampanye' fanatik ini berikan kadang tidak akurat dan berat sebelah. Semua yang baik-baik dan hampir baik, bahkan yang biasa saja, disebarluaskan tidak peduli bahwa sebenarnya semua orang sudah tahu belangnya. Semua informasi tersebut bisa dipastikan tidak objektif, maka WASPADALAH, WASPADALAH!!

Untuk mereka-mereka ini, saya cuman ingin bilang: "BRISIK LO! Nih, gue kasih tangan"

Pencalonan Jokowi
Berita terakhir yang paling sering saya lihat, tentu saja, adalah masalah pencalonan Jokowi menjadi capres. Saya pribadi agak ragu kalau gubernur baru DKI itu maju mencalonkan diri tahun ini. Kalau beliau mencalonkan diri untuk pemilu 2019, mungkin saya dengan sepenuh hati jadi pendukungnya. Kenapa saya ragu? Karena menurut saya semuanya begitu cepat untuk Jokowi dan takutnya yang 'instant' itu banyak efek sampingnya. Tapi, kemudian banyak yang berkomentar bahwa pencalonan Jokowi ini tepat. Katanya banyak program Jokowi-Ahok untuk Jakarta Baru tidak bisa terlaksana akibat peraturan-peraturan pemerintah pusat yang menghambat. Kalau Jokowi yang memimpin pemerintah pusat, alias jadi presiden, masalah ini tentu akan bisa diselesaikan. Jadi, menurut pendukungnya, pencalonan Jokowi akan membantu Indonesia DAN Jakarta.  Saya menemukan kebenaran dalam argumentasi tersebut, tapi tetap dalam lubuk hati terdalam, saya masih tidak yakin. Apalagi disebut-sebut Jokowi belum punya program (mungkin karena resmi dicalonkan baru-baru ini?).

Kemudian mulai muncul pihak-pihak yang menjatuhkan Jokowi. Lama-lama saya kasihan juga sama Pak Jokowi karena setiap hari yang dibahas adalah "Jokowi tidak tepati janji". Apakah mereka lupa bahwa banyak politikus lain yang tidak tepati janji? Apakah mereka-mereka sendiri itu SELALU menepati janjinya? Jokowi baru satu tahun lebih menduduki jabatan gubernur, tentu belum semua programnya terlaksana. Kalau program untuk 5 tahun belum selesai semua dalam waktu 1 tahun, apakah itu namanya "tidak tepati janji"? Heran saya sama orang-orang ini, bagaimana logikanya?

Yang jadi capres bukan hanya Jokowi, tapi kenapa mereka-mereka ini hebohnya ke Jokowiiiiii terus? Yang dicari salah dan jeleknya Jokowiiiii terus. Mereka tidak mendukung Jokowi, tapi paling update tentang Jokowi. Apakah gara-gara itu mereka cuman tahu yang bagus-bagus saja dari partai pilihannya, karena kurang browsing tentang partainya dan keasyikan mencari keburukan Jokowi? Jangan-jangan mereka merasa terancam dengan pencalonan Jokowi... Hmmmm... Yakin, mau pilih partai kepo dan nggak pedean?

Demikianlah cuap-cuap saya tentang pemilu 2014. Sebenarnya lebih ke curcol kali ya? Hehehehe... Maklum, sudah lama hati ini memendam kekesalan akibat postings nggak mutu yang memenuhi timeline. Pendapat saya ini tidak ditujukan bagi siapa pun, tapi saya berharap semoga tulisan ini bisa jadi pembuka pikiran bagi para pemilih. Kita para awam politik, haruslah berpikir objektif dan tidak dipengaruhi pihak-pihak tertentu. Tulisan saya ini juga sifatnya hanya opini dan pendapat, oleh karena itu bukan tidak mungkin ada fakta atau data yang tidak tepat. Saya mohon maaf terlebih dahulu :)

Terakhir, cerdaslah dalam memilih dan karena banyak hal yang bisa membuat kita terlihat bodoh, cerdaslah dalam menyebarluaskan informasi.

Sekian dan terima kasih.

Lübeck, 26 Maret 2014





Keine Kommentare:

Donate Now!