Posts mit dem Label Hopes werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label Hopes werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Montag, 12. August 2019

Long Distance Relationship


Ada dua macam reaksi yang muncul dari lawan bicara, ketika gue berkata, "Yeah, pacar gue tinggal di Hamburg. Kita LDR-an.“:

      1.) "Awww… that must be so hard for you“-pity look,

Dan

2.) "Aww… you poor gurl, he’s definitely cheating on you“-pity look.

Yes, long distance relationship is hard. Many times it's sucks too. It needs another level of trust, effort and comitment.

But honestly, infidelity is the least thing we concern about.

Whether it is a bad-chosen word or false intonation interpretating the written chats, disagreements mostly start with miscommunication and bad-mood rather than distrust.

So, for those who did the 2.), I’m sorry if you only know that kind of men or women.

LDR memang bukan untuk semua orang.

We’re lucky enough to be able to meet each other at least once a month, to live in the same time zone and that nowadays, with the modern technology and internet, we can communicate much more easier. Distance has been reduced into a single tap on the smartphone.

Tapi, menurut gue, alasan macam „Gue orangnya nggak bisa LDR“, kasarnya berarti „You are not worthy my efforts and hardwork,“ Lebih halusnya mungkin berarti yang bersangkutan tidak memprioritaskan hubungan yang membutuhkan extra effort dan waktu. Toh masih banyak orang lain yang hidup dekat dengan kita, kenapa pula cari yang hidup di seberang pulau.

You see, siapa sih yang lebih memilih untuk menjalani hubungan jarak jauh? Semua yang menjalani LDR, ya karena terpaksa. Karena cinta saja tidak bikin kenyang. Karena tatap muka tidak bayar tagihan. Dan karena-karena yang lainnya.



We choose to stay in the relationship although it has to be long distance. Because despite the hardships, our loved ones are worth the wait and effort. So, it basically depends on who you’re going to have an LDR with.

IMHO, everyone shouldn’t settle for someone you don’t think you can have an LDR with. You don’t have to do the long distance but just imagine, would you go as far as long distance to the greater future with your significant other?

Don’t get me wrong.


I’m not saying relationships beside LDR are easy.

Every relationship needs efforts and has its own problems.

Pertanyaannya, seberapa jauh mau berusaha untuk urusan cinta-cintaan ini? Apakah yang diperjuangkan itu sebanding dengan usahanya? Apakah susahnya akan terbayar dengan rasa bahagianya?

Menurut gue, mau LDR atau pacaran sama tetangga, kalau isi hubungannya hanya berantem dan bikin sakit hati, buat apa? Life is already hard without such drama.

LDR mengajarkan gue untuk mengatur waktu. I tried to finish my assigment before the weekend, when we supposed to finally meet. Then I could enjoy our date time without any burdens (I’m still learning though, as I’m a procrastinating sloth). Most of the times, the fun we had on our dates is enough to made me forget about the homework. LOL.

We plan our date, so no time wasted on „what are we gonna eat?“. Though sometimes we choose to stay-in and watch Netflix instead.

We also agree upon the importance of maintaining a hobby.

Me and my do-nothing-laying-around-time and he with his games and Gundam.

Gue selalu bilang terserah mau hobi apa, asal affordable (mau koleksi Lambo pun silahkan, asal nggak perlu pakai ngutang), dan paling penting: bukan main cewek. LOL.

Kita pun bukan tipe yang melarang-larang berlebihan, apalagi sampai cek-cek hape dan sebagainya. I was not and will never be. Mostly karena capeeekkk boookkk kalau pacaran harus begitu. Capek hati, capek pikiran. Toh kalau memang sudah ada niat nggak jujur, dipantau seperti apa pun akan selalu ada celah.

Luckily, I’ve known a good deal of my boyfriend before we’re deciding to take our friendship to another level of relationship. We’d been good friends for years, he’s still my very best friend. Di awal banget kita bisa dengan terbuka membicarakan dan menjelaskan batasan apa yang harus dijaga, punya ekspektasi apa, gaya pacaran, dan sebagainya. It helps a lot. Apalagi ternyata harus LDR.

We never make a schedule for Video-call or such. But we still call each other almost everyday. Not because it’s scheduled but because we want to. And I think there’s a big difference there.

I also try not to force anything to him. I sometime still nag though. LOL. Instead, I ask him to explain if something doesn’t quite right for me. We try not to make this relationship as „terpaksa“ because it’ll make all the fun go away.

Actually the key to a long-distance relationship is just like any other relationships: healthy communication.

LDR memang bukan untuk semua orang. LDR hanya untuk mereka yang sudah berpikir dewasa dan mau berusaha lebih.

Anyway, I was gonna say:

Don’t pity LDR-Couples.

Instead, give them support and hope the best for them.

Because we don’t mean to stay long distance forever. It’s just a phase for a greater future together. Everyone has his own journey and long distance is ours.

And if possible, don’t  judge and say things like, „LDR kok ketemu melulu?“.

Isn’t it good, that despite the long distance we still could manage to see each other?

Memang kadang terpikir, „Look at all of that money I spent on bus-tickets!“

Tapi, gue memilih untuk bersyukur karena walau demikian, I still live comfortably and enough.


Berlin, 12 Agustus 2019

Montag, 5. Juni 2017

The Good Samaritan

Hari ini saya teringat tentang satu perikop di dalam Alkitab mengenai “Orang Samaria yang Murah Hati (Luk. 10:25-37)”. Kisah ini pasti sudah tidak asing untuk teman-teman dan rekan-rekan Nasrani karena sudah sering diulang dalam kotbah gereja atau renungan harian. Entah kenapa saya merasa cuplikan perumpamaan ini perlu untuk diingat dan diresapi lagi maknanya, melihat situasi hangat yang terus-menerus terjadi di dalam dan luar negeri. Walaupun saya tidak pernah mendalami teologi dan ke gereja pun suka bolos, berikut sedikit pemahaman terbatas dan awam saya.

Ada dua inti pokok dalam perikop ini yang saya tangkap. Yang pertama adalah jawaban dari pertanyaan: Bagaimanakah cara untuk mendapat hidup kekal? Pertanyaan ini dijawab dengan kutipan:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Jelas.

Lalu, ada pertanyaan kedua: Dan siapakah sesamaku manusia?

Untuk menjawab pertanyaan kedua ini, Tuhan Yesus mengisahkan kisah seorang Samaria yang murah hati. Orang Samaria pada dasarnya dicap sebagai bangsa berdosa dan orang Yahudi memandang sebelah mata kepada mereka. Akan tetapi, suatu hari ada seorang Yahudi yang dirampok habis-habisan oleh para penyamun dalam perjalanannya dari Yerusalem ke Yerikho. Tubuhnya yang kepayahan dan penuh luka ditinggalkan begitu saja. Beberapa waktu kemudian lewat seorang Imam, lalu seorang Lewi. Keduanya memilih sisi jalan terjauh dan terus melanjutkan perjalanan masing-masing, tanpa menghiraukan saudara sebangsanya yang terkapar dan terluka. Hingga muncul seorang Samaria di jalan itu dan hatinya tergerak oleh belas kasihan. Ia membersihkan dan membalut luka si Yahudi, bahkan menghantarnya ke penginapan dan membayar semua biayanya.

Lalu Yesus balik bertanya, “Di antara ketiga orang itu, siapakah adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke dalam tangan penyamun ini?”

“Orang yang telah menunjukan belas kasihan kepadanya.”
Kasih itu universal. Kasih itu tidak mengenal perbedaan. Kasih itu milik semua. Kasih itu untuk semua.

Mittwoch, 24. Mai 2017

Ssstt... Be Invisible

Sejak kemarin saya berusaha untuk tidak menonton video Ibu Veronica Tan yang menangis saat membacakan surat BTP. Teringat efek video Pak Djarot yang menangis di Balai Kota diiringi lagu Nyiur Melambai, saya pikir cukuplah sudah beban mental akibat cerita satu ini. Mau marah sudah tidak ada energi, mau berkomentar sepertinya nggak mempan karena yang rasanya perlu dididik sudah tuli dan buta hati dan pikirannya. Foto-foto screenshot dan cuplikan video yang sliweran di media sosial cuman saya scroll, paling baca caption untuk tau ada apa lagi ini (karena saya terlalu kepo untuk tidak tahu). So…

“Aku tidak ingin jadi pohon bambu, aku ingin jadi pohon Oak yang berani melawan angin “ -Soe Hok Gie

Waktu SMP akhir saya bermimpi untuk kuliah ke luar negeri. Alasannya hanya satu, karena keren. Kayaknya kece banget kalo punya embel-embel lulusan luar negeri dan punya kolega bule. Nggak ada pikiran untuk kembali membangun negeri, hanya mimpi untuk punya kehidupan yang lebih baik di LUAR negeri. 

Sampai di awal masa SMA saya mengenal sosok Soe Hok Gie. Awalnya juga hanya karena saya ngefans sama Nicholas Saputra, aktor yang memerankan Gie di layar lebar (Hehehehe... era ababil). Jadi saya baca catatan hariannya yang sudah dibukukan dan beberapa buku lain. Dari sana saya kagum, sekaligus malu. 

Dari baca-bacaan Gie sejak masa sekolah saja sudah sangat berbeda dengan apa yang saya baca: mainly novel cinta-cintaan, fantasi atau komik. Doi bacanya sudah genre filosofi, buku-buku yang membahas ideologi dan kumpulan puisi.

Gie juga keturunan Tionghoa, dari namanya saja sudah jelas. Tapi walau dia pro asimilasi, dia enggan meng-indonesiakan namanya. Saya melihat ini sebagai bukti bagaimana Gie berjuang tanpa melupakan asal-usul atau jati dirinya. Dia tidak munafik.

Memang nama saya dari lahir sudah tidak kecina-cinaan, tapi seperti yang sudah semakin diperjelas akhir-akhir ini, tampilan fisik lah yang jadi tolak ukur di Indonesia. Tidak satupun orang di keluarga saya masih berbahasa mandarin, kecuali beberapa yang memang belajar bahasa tersebut. Sudah juga beberapa generasi di Indonesia, tapi dimata banyak orang kami adalah cina. Saya tidak tersinggung dipanggil cina, karena itu ada di darah saya dan tidak akan bias hilang. Tapi saya sedih jikalau sebutan itu menjadi bentuk diskriminasi dan penjara mental.

Sonntag, 26. Juni 2016

Entahlah

Ihiy, akhirnya ada mood nulis lagi. "Setelah" yah... setelah satu-satu urusan gue selesai. Uhyeah.
So, sambil diiringi Afgan di Spotify... here's a piece of my mind.

What is the one thing you could die for?

Pernah kah pertanyaan tersebut mampir di pikiran? It shows up in my mind sometimes.

Sejujurnya, ketika pertanyaan itu muncul di kepala dan gue nggak bisa jawab, I feel sad. I feel like I don't have sincerity.

Jangankan untuk sesama, buat keluarga dan teman terdekat pun gue nggak berani jawab bisa.

Nggak kebayang kalau gue hidup di jaman perang, yang setiap hari nyawa terancam. I really hope I wouldn't come into such situation, where I have to choose between mine and others' lives. Takutnya gue bikin keputusan yang bikin benci diri sendiri.

Sonntag, 16. März 2014

Hari Ini Lagi

Akhirnya, hari ini lagi.

Sebenernya pengen merenungkan perjalanan hidup 21 tahun gue ini. Penyesalan-penyesalan, kesusahan, senang-senangnya, achievements... Semua. Tapi, kalau demikian kok rasanya gue bakal galau ya? Jadi, gue bakal nyampah aja semaunya, nggak pakai tema, dll.

Beberapa hari sebelumnya, gue ingin memberi hadiah buat diri sendiri. Hal ini biasa gue lakukan tiap ulang tahun, tapi tahun ini agak beda. Dibandingkan benda material, hadiah yang ingin gue beri untuk gue sendiri adalah something new yang nggak pernah gue lakukan sebelumnya, yaitu belajar dandan.

Silahkan tertawa.

Keluarga gue mayoritas perempuan. Sepupu-sepupu gue jago dandan, gue pakai eyeliner sendiri aja baru pertama kali seumur hidup. Jujur gue nggak pernah merasa perlu-perlu amat dandan. I mean, mau ke mana dan ngapain gue pake dandan-dandan segala? Apalagi kalau udah mulai kuliah, makan dan tidur aja cari waktunya mengais-ngais tanah.

Jadi, kenapa SEKARANG gue belajar dandan?

Dienstag, 12. November 2013

To: Mom ♥

She is angry on almost every morning because it's so hard to wake me up.

Yet, she prepares breakfast and my lunch every day at dawn.

She never forgets telling me to be careful on my way to school every morning.

She asks me to do so many chores, that I often get angry, forget the fact that she's done much more.

She often feels annoyed and says she's too tired.

Yet, she wakes up before the sunrise, goes to work with public buses, and faces horrible traffics every day.

She annoys me by asking too many questions and getting worries too easily.

Yet, she's the best listener.

She tells me I'm beautiful, when I feel not.

She tells me I can, when I think I can't.

She tells me I'm the strongest, when I just want to give up.

She tells me not to worry, when my heart is full with fear and uncertainty.

And I know, actually, she's worried and afraid too.

She works so hard, not to fulfill her own dreams, but mine to be achieved.

She knows I'm busy, so she only sends short messages asking how I'm doing.

She cares but she doesn't want to bother me.

She's never absent to say my name in every of her prayers.

She chooses lonely life for me to have a better opportunity in life.

She's the happiest person, when I cried for the first time, despite of all pains she got for almost ten months 
and while giving birth to me.

She's my Mom. ^^

Thank you, God.
And thank you, Mama.

I love you.


Mimpi

Selama ini kalau ada yang bertanya ke gue, kenapa gue pilih jurusan arsitektur, jawaban gue adalah karena gue suka seni dan karena gue kuliah di Jerman, gue merasa sayang banget kalau ilmu teknik-nya nggak 'dicuri'. Jadilah satu-satunya bidang teknik yang menyentuh seni hanya arsitektur. Puji Tuhan sampai detik ini gue masih bisa kuliah dengan bahagia, walaupun tugasnya menakutkan dan sering membuat hati mau menyerah.

Impian gue adalah, kalau gue sudah jadi arsitek yang punya pengalaman dan kalau gue sudah punya modal, ada tiga hal yang harus gue bangun sendiri: rumah untuk Mama, gereja, dan bakery/cafe.

Udah, itu saja.

Dienstag, 4. Juni 2013

Meet Helga and Sigi

Seperti yang sudah dijanjikan, dalam posting-an satu ini, gue akan cerita awal mula gue bertemu dengan Helga dan Sigi. :)
***
Sekitar pertengahan bulan Mei yang lalu, malam hari, gue dapet telepon mendadak dari seorang kawan dekat, Rendi. Rendi ini sudah seperti abang gue, kita pertama kenalan pas les bahasa Jerman di Goethe tahun 2011 yang lalu. Rendi sekarang tinggal di München, sementara gue di Lübeck. Jauhnya itu, jauh banget deh. Gue di ujung Utara, Abang di Selatan.
Isi percakapan telepon itu adalah sebagai berikut (biru: Abang Rendi; merah: gue)

"Dek, rumah lo deket Dresden nggak?"
"Beh, jauh banget, Bang."
"Ohh, jauh ya? Gue kira deket."
"Jauh, Bang. Gue 'kan udah pindah. Dulu waktu masi di Halle sih deket. Rumah Cici gue 'tuh masih di Halle."

Sonntag, 7. April 2013

The Point When Everyone Wants To Become Robin Scherbatsky

“I love everything about her. And I’m not a guy who says that lightly, I’m a guy whose faked love his entire life. 

I thought love was just something that idiots thought they felt. But this woman has a hold on my heart that I could not break if I wanted to. 

And there have been times that I wanted to.

 It has been overwhelming and humbling and even painful at times, but I could not stop loving her any more than I could stop breathing.

 I am hopelessly, irretrievably in love with her, more than she knows.” 

-Barney Stinson (HIMYM 8 Ep. 6, Spiltsville)


Just re-watched every episode I like from How I Met Your Mother.... And still, I like Barney the best :'D Well, bad boys FTW xD 



Samstag, 12. Januar 2013

Applications Submitted!!

Beberapa updates mengenai kegiatan gue belakangan ini (berhubung gue absen nulis berminggu-minggu)


23-29 Desember 2012 


Gue di Berlin dong!! Ikut acara Natalan KMKI di sana, sekalian liburan. Cukup menyenangkan, menambah berat badan, dan menguras dompet. Tapi, gue seneng banget kok :DD

Gue ketemu Dunkin Donuts!!!! Maigat, akhirnya! 

Brandenburger Tor, Christmas Eve.

Dienstag, 25. September 2012

Dresden 2011

Kemampuan meng-edit foto gue berkembang doooonnngg :DD 

Berikut ini hasil editan terbaru gue, objeknya adalah bangunan di Dresden yang gue foto tahun lalu :D 


Ini dia background baru Ujung Pena xD. Ini di Dresden, tapi gue lupa nama bangunannya. 

Gue + Programming = 'unidentified'

Posting-an 9GAG ini gue dan Heni temukan di tengah-tengah kelas Informatik. 

Sekedar info, gue yang gaptek luar biasa ini harus belajar programming selama 6 jam seminggu dan 4 dari 6 jam itu dimaraton tiap hari Selasa sebagai mata pelajaran terakhir. Sungguh menyedihkan. 

Posting-an ini begitu mengungkapkan isi hati gue. Hahahahaha... 


Sonntag, 23. September 2012

Belajar Mengedit Foto

Biasanya, kalau edit-edit foto, gue pake program Photoscape yang gratisan. Tapi program tersebut hanya sebatas ubah-ubah warna gitu. Gue pengen bisa Adobe Photoshop, sayangnya nggak punya programnya karena nggak gratis (nasib perantau kere). 

Hasil browsing di Google, gue nemu program namanya GIMP. Kalo liat dari previewnya, kayaknya mirip-mirip Adobe gitu deh, tapi dia versi gratisnya. Mungkin kayak Microsoft Office dan Open Office gitu kali ya..

Samstag, 15. September 2012

Tujuh Warna Pelangi

Beberapa bule yang pernah ngobrol sama gue, mengungkapkan rasa heran mereka akan betapa berbedanya penampilan luar gue dan orang-orang Indonesia lain yang pernah mereka jumpai. Well, mayoritas indonesians di Halle ini adalah pribumi dan gue keturunan. Bukannya gue mau menekankan masalah pribumi atau non-pribumi yah... I just don't know how to describe the different look between me and my friends here. Banyak yang mengira gue ini dari Vietnam atau Cina. Kalau sudah begitu, gue akan harus menjelaskan, bahwa Indonesia negara tercinta ini memiliki begitu banyak keanekaragaman. Mulai dari alam, agama, bahasa, budaya, sampai tampilan luar penduduknya. 

Dan sebagian besar mereka kagum, karena dengan begitu banyak perbedaan, kita semua indonesians bisa jadi satu.


The Jokes

Cerita ini berawal dari berbulan-bulan yang lalu, tapi beberapa hari belakangan ini kisah tersebut kembali muncul ke permukaan dan berkembang. Maklum, imajinasi kami memang liar :P

Awalnya, gue dan Heni (she's my besties) menyadari setelah banyak bertukar cerita, bahwa kita sama-sama suka nongkrong dan mantengin 9gag.com. Dari situlah, kita suka bahas-bahas posting-an lucu di sana. 

Kemudian ada satu masa di antara banyaknya masa kegalauan gue di sini, gue berpikiran untuk kuliah Germanistik (Sastra Jerman) dulu beberapa semester, untuk memantapkan kemampuan berbahasa gue. Baru setelah bahasa jerman yang susah amit-amit ini gue kuasai, gue apply lagi untuk baru benar-benar kuliah arsitektur. Pikiran ini gue utarakan ke Heni. 

Respon pertama dia adalah sayang umur. 

Mittwoch, 18. Juli 2012

Bitte Hör Nicht Auf Zu Träumen - Xavier Naidoo


Bitte hör nicht auf zu träumen,
von einer besseren Welt.
Fangen wir an aufzuräumen,
bau sie auf wie sie dir gefällt.
Bitte hör nicht auf zu träumen,
von einer besseren Welt.
Fangen wir an aufzuräumen,
bau sie auf wie sie dir gefällt

Donnerstag, 8. März 2012

Joseph Vincent – If You Stay Lyrics


Joseph Vincent – If You Stay Lyrics
I was standing on the other side
watching you leave and I,
couldn’t see you go

Montag, 22. März 2010

Renungan Seorang Pelajar

Gue pribadi ingin menjadi seorang mahasiswa. MAHASISWA. Bukan sekadar dapat gelar S1 atau S2 atau S3. Gue pengen mengalami proses memperoleh S-S itu dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan jadi mahasiswa. Kalau mau gelar doang, beli ijazah lebih gampang. Lebih murah pula. Sepertinya, gue baru paham akan semangat belajar.

Kalau semua orang berpikir: "Sekolah untuk cari duit", nggak heran kalau banyak yang beli ijazah.

Donnerstag, 11. März 2010

Ketika Kalor Bertemu NaCl

Akhirnya....
Mid-Test selesai juga. Yippie!! Sebenernya, besok masih ada Komputer, tapi berhubung nggak bakal gue pelajarin juga, so...

Nah, mau cerita soal MID kali ini. Seperti biasa, ada tiga mata pelajaran yang mahadasyat. Let me introduce:

KIMIA FISIKA MATEMATIKA

Freitag, 19. Februar 2010

What Would You Do, If Today is Your Last Day?

YAP, itu versi keren dari pertanyaan nomor 10 ulangan agama baru-baru ini. Selain membuat kita semua dapat bonus nilai 20 (karena nggak ada benar atau salah dari jawaban untutk pertanyaan seperti ini), pertanyaan ini juga membuat kita semua berhenti sejenak, memutar-mutar pen, sebelum akhirnya menulis dan menyatakan apa yang akan kita lakukan seandainya hari ini adalah hari terkhir kita di dunia ini.

Kemarin, sebelum pembacaan skor ulangan, Miss Femmy berbaik hati membacakan jawaban ke-26 anak di kelas gue untuk nomor sepuluh itu.
Donate Now!