Dienstag, 4. Juni 2013

Meet Helga and Sigi

Seperti yang sudah dijanjikan, dalam posting-an satu ini, gue akan cerita awal mula gue bertemu dengan Helga dan Sigi. :)
***
Sekitar pertengahan bulan Mei yang lalu, malam hari, gue dapet telepon mendadak dari seorang kawan dekat, Rendi. Rendi ini sudah seperti abang gue, kita pertama kenalan pas les bahasa Jerman di Goethe tahun 2011 yang lalu. Rendi sekarang tinggal di München, sementara gue di Lübeck. Jauhnya itu, jauh banget deh. Gue di ujung Utara, Abang di Selatan.
Isi percakapan telepon itu adalah sebagai berikut (biru: Abang Rendi; merah: gue)

"Dek, rumah lo deket Dresden nggak?"
"Beh, jauh banget, Bang."
"Ohh, jauh ya? Gue kira deket."
"Jauh, Bang. Gue 'kan udah pindah. Dulu waktu masi di Halle sih deket. Rumah Cici gue 'tuh masih di Halle."
"Oh iya, ya... Lo udah pindah. Emang sekarang lo tinggal di mana, Dek?"
"Lübeck, Bang. Di atas. Dresden 'kan Timur."
"Ada apaan di Lübeck, Dek?"
"Ehmm... Lübeck kota kecil sih, kalo dibanding München. Tapi, yang terkenal pantainya, Bang. Travemünde!"
"Oh, pantai ya? Gue lagi di Hamburg nih, sama temen."
"Hamburg?! Beh, deket dong, Bang, ke sini. Nggak nyampe sejam naik kereta."
"Eh iya? Deket ya? Gue ke sono deh besok."

Maka, jadilah petang dan pagi...

Besoknya, Abang dan Sonia, temannya dari Hamburg bertandang ke kota kecil bernama Lübeck ini. Mereka nginep di kamar gue dan hari pertama itu kita ngobrol seru sampe pagi :'). Maklum, udah nggak ketemu Abang lebih dari setahun. Cerita yang ngumpul banyak banget. Suka-duka sesama pendatang yang bahasa Jermannya belom lancar, sampai sekarang si Abang ngomong Jerman uda lebih jago daripada gue. Perjuangan masing-masing...

Di tambah gue nggak punya temen sebangsa di sini (karena populasi orang Indonesia di Lübeck minim sekali), bisa ngobrol bebas pakai bahasa ibu itu membahagiakan sekali.

Setelah begadang ngobrol nggak ada abisnya, esoknya kita paksain bangun pagi. Ke pantai!! Yeay! Sampai di pantai, ternyata airnya dingin sekali, matahari pun hilang timbul, ditambah angin yang dingin. Brrr... Jadinya, kita cuman foto-foto dan nonton sebuah acara tradisi yang kebetulan berlangsung hari itu.

Sore hari kami bertiga akhirnya memutuskan untuk kembali ke Lübeck dan mencari makan siang. Saat menunggu bus kembali ke Lübeck inilah, gue bertemu Helga dan Sigi. :')
***
Ada dua antrean masuk ke bus, yang pertama untuk mereka yang mau beli tiket dan yang kedua untuk para penumpang yang punya tiket mingguan, bulanan, atau semesteran kayak gue. Di sinilah gue pisah antrean dengan Rendi dan Sonia (dua turis ini harus beli tiket). Sedang fokus ngantre, gue tiba-tiba ditegur Oma-Oma. (Hijau: Helga).

"Are you from China?"
"Heh? Oh, Nein, nein. Ich komme aus Indonesien (Eh?? Bukan, bukan. Saya dari Indonesia)" << Gue jawab refleks pakai bahasa Jerman, udahannya baru kepikiran jangan-jangan Oma ini juga Turis dari luar Jerman -__-. Tapi, ternyata si Oma orang Jerman kok :'). Selanjutnya pakai Bahasa Indonesia aja ya..

" Wah, Indonesia? Jauh ya?"
"Iya, jauh sekali."

Dan bus pun tiba dan para penumpang mulai masuk satu per satu. Begitu gue sudah berada dalam bus, gue langsung nyelonong ke bagian belakang yang kosong, bermaksud menjaga tiga tempat kosong buat gue, Rendi dan Sonia, yang masih sibuk beli tiket.
Tiba-tiba ada orang yang gandeng gue dari belakang, ternyata si Oma.

"Mari, duduk dengan kami."
"Eh? Iya."

Gue pun mau nggak mau terdampar di tengah-tengah Oma-Opa yang asik ngobrol macem-macem. Gue juga sesekali ditanya, kadang pakai bahasa Inggris, kadang pakai bahasa Jerman. Gue pun menjawab terbata-bata dan campur-campur.

Oma yang ternyata bernama Helga ini ternyata orangnya überfreundlich, ramah banget. Seneng ngobrol, siapa aja diajak ngobrol. Jarang loh ada bule demikian ramah dan cerewet. Suaminya, Sigwald (panggilannya Sigi), duduk di depan gue. Sigi ini lebih kalem, tapi ramah dan baik hati juga. Sesekali dia ngeledekin istrinya yang sibuk ngobrol. Hehehe...

Dalam perjalanan bus selama sekitar satu jam itu, berikut hal-hal yang gue ketahui dari Helga dan Sigi.

  1. Helga ini mantan perawat dan punya dua anak perempuan yang sudah menikah, tapi tidak mempunyai anak. Kedua putrinya tinggal di luar kota, yang satu di Hamburg dan yang lain di Wina, Austria.
  2. Helga dan Sigi ini sudah pensiunan, tapi mereka berdua sangat aktif ikut kegiatan gereja, sukarela di panti jompo, berkebun, nonton konser, dan sebagainya.
  3. Helga nggak mau punya anak lelaki karena di Jerman beberapa tahun yang lalu masih ada wajib militer, dimana semua pemuda harus ikut serta. Helga nggak mau anaknya dilatih jadi pembunuh dan ikutan perang.
  4. Helga ini cinta banget sama perdamaian. Kalau denger pendapat-pendapat dan pemikirannya, menyentuh banget. :')
  5. Helga dan Sigi pernah punya anak asuh dari Cina yang kebetulan sekolah musik di Lübeck. Si anak asuh ini, kalau tidak salah, sekarang sedang program pertukaran ke AS.

Singkatnya, sebelum turun dari bus, Helga memberi gue kartu namanya. Dia bilang, kalau gue mau, bisa telepon mereka dan janjian untuk sekadar makan siang atau piknik lagi ke Travemünde.

"Anda baik sekali"
"Ah, tidak tidak. Kita semua ini 'kan anak Tuhan. Tidak peduli dari mana."

Gue tersentuh banget dengan kedua kakek-nenek ini :').
***
So, sejak itulah beberapa minggu sekali gue janjian main bareng Helga dan Sigi, dua orang Jerman terbaik dan teramah yang pernah gue temui. :)


Keine Kommentare:

Donate Now!