Awalnya, gue dan Heni (she's my besties) menyadari setelah banyak bertukar cerita, bahwa kita sama-sama suka nongkrong dan mantengin 9gag.com. Dari situlah, kita suka bahas-bahas posting-an lucu di sana.
Kemudian ada satu masa di antara banyaknya masa kegalauan gue di sini, gue berpikiran untuk kuliah Germanistik (Sastra Jerman) dulu beberapa semester, untuk memantapkan kemampuan berbahasa gue. Baru setelah bahasa jerman yang susah amit-amit ini gue kuasai, gue apply lagi untuk baru benar-benar kuliah arsitektur. Pikiran ini gue utarakan ke Heni.
Respon pertama dia adalah sayang umur.
Iya, juga sih... Umur gue sudah tergolong lebih tua dari umur rata-rata teman seangkatan. Ditambah telat kuliah kurang lebih 2 tahun lagi karena persiapan studi ke Jerman dan Studienkolleg. Kalau gue kuliah Germanistik dulu, bisa-bisa teman-teman lain sudah punya gelar berendeng, gue baru mau kuliah. Wah, bener juga si Heni ini... Tapi, dalam hati, gue masih ingin banget fokus dan memperbaiki kemampuan bahasa ini, sebelum benar-benar terjun ke dunia perkuliahan. Jujur, bahasa jerman itu susaaaaaaaaahhhhh man! Nggak pake bohong.
Kemudian kita jadi sering membicarakan berbagai kemungkinan yang bisa kita ambil dalam rangka peningkatan kemampuan berbahasa ini. Tiba-tiba, Heni bilang, "Jes, lo lihat 9gag nggak kemarin?" Gue jawab, "Nggak, Hen. Kenapa?" Sambil tersendat-sendat menahan tawa, Heni cerita ke gue tentang posting-an yang dia lihat itu. Ini posting-annya:
![]() |
| "Möchten Sie Pommes dazu?", artinya "Anda mau tambah kentang goreng?". |
Sampai suatu masa kita berdua bener-bener galau dan terbeban akan bayangan masa depan. Heni, yang mau kuliah jurusan Maschinenbau atau teknik mesin, galau karena merasa kesusahan dengan pelajaran fisika. Padahal fisika dan teknik mesin itu seperti garam dan masakan. Sedangkan gue galau karena belum berpenghasilan alias belum dapat kerja sambilan (waktu itu). Itu semua ditambah dengan perasaan bahwa kemampuan bahasa kita masih cupu banget. Tiba-tiba jokes "Möchten Sie Pommes dazu?" ini nggak terlalu lucu lagi karena lambat laun, meme Yaoming bertopi McD itu kelihatan makin mirip sama kita. Oh, No.
Cita-cita kita mulai terasa ketinggian. Jalan kita terlihat, bukan berliku lagi, tapi ada jurang menganga di tengahnya. Kemungkinan yang terlihat makin kecil, jauh, dan kabur. Mann, das wäre nicht mehr lustig, wenn es wirklich passieren würde. Nggak lucu banget, kalau kita bener-bener cuman jadi kasir McD.
Sampai kemarin, setelah ulangan matematika yang jauh di luar "dugaan" (dalam artian negatif atau gampangnya susah banget banget), nggak sengaja kita bahas jokes kasir McD lulusan Germanistik lagi. Ternyata alasan Heni dan gue sama tentang kenapa kita tiba-tiba nggak nge-jokes hal itu lagi. Kita ketawa lagi, takjub betapa sejalannya pikiran kita, dan setelah membahas sedikit situasi semester dua ini, gue menambahkan, "Boro-boro, Hen, kita boleh jadi kasir yang konek langsung ke Kunden (re: customer). Jangan-jangan kita cuman jadi waitress yang ngomongnya:'Sind Sie fertig? (re: Anda sudah selesai?)' doang, terus bersihin meja."
Dan kita menertawakan kebodohan dan ke-liar-an imajinasi kita, sebelum kembali mengeluh tentang kenapa bahasa jerman itu susah banget, kenapa semester dua yang singkat ini level kesulitan semua pelajaran jadi beranak-pinak, kenapa kita terlalu nggak pede untuk berkomunikasi sama bule, kenapa kita malasnya minta ampun, dan kenapa onta-onta itu tetap berisik dan malah sekarang ada yang bawa-bawa brosur kedai döner (gue rasa kerabatnya ada yang buka usaha di sini).
Oh, God, Why?
Tapi, menertawakan masalah itu perlu dipelajari, loh. Hidup terlalu serius itu nggak fun dan nggak sehat. Ya, amit-amit banget sih kalo sampai kejadian beneran gue berkarier di McD. Kalau bisa buat part-time si oke, tapi kalau sampe karier.... It's a big NO. Yah, intinya, I need to keep working hard and give the best efforts.
Semoga semuanya berjalan lancar... AMIN.


Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen