Samstag, 15. September 2012

Tujuh Warna Pelangi

Beberapa bule yang pernah ngobrol sama gue, mengungkapkan rasa heran mereka akan betapa berbedanya penampilan luar gue dan orang-orang Indonesia lain yang pernah mereka jumpai. Well, mayoritas indonesians di Halle ini adalah pribumi dan gue keturunan. Bukannya gue mau menekankan masalah pribumi atau non-pribumi yah... I just don't know how to describe the different look between me and my friends here. Banyak yang mengira gue ini dari Vietnam atau Cina. Kalau sudah begitu, gue akan harus menjelaskan, bahwa Indonesia negara tercinta ini memiliki begitu banyak keanekaragaman. Mulai dari alam, agama, bahasa, budaya, sampai tampilan luar penduduknya. 

Dan sebagian besar mereka kagum, karena dengan begitu banyak perbedaan, kita semua indonesians bisa jadi satu.


Tapi, begitu mereka tanya tentang masalah toleransi di negara kita, gue jadi step back sedikit dan menjawab hati-hati. Biasanya gue jawab dengan: "Sebagian besar bisa hidup rukun, tapi di beberapa bagian masih ada perselisihan."

Agak susah dan sensitif sih membahas hal-hal seperti ini. Tapi, terus terang, gue selalu tertarik dengan tema kontroversial multi-cultural ini. 

Gue selalu ingat kata-kata Pandji Pragiwaksono dalam Stand-Up Comedy-nya, bahwa orang Indonesia itu terlalu sensi. Gue setuju banget. Menurut gue banyak hal kecil yang sebenernya nggak perlu sampai menimbulkan perselisihan, bahkan kadang terlalu ekstrem sampai kepada perang suku. Kenapa kita ini begitu mudah diadu domba. Padahal, teknik adu domba itu sudah dipakai orang dari jaman dulu. Kenapa manusia itu nggak belajar dari pengalaman.

Coba deh, kita masing-masing belajar untuk membawa diri sendiri dengan lebih baik terlebih dulu, dan jangan memaksa orang untuk setuju dengan pendapat kita, kalau kita nggak yakin kapasitas kita mencukupi untuk memberi penilaian. Nggak perlulah kita saling tarik urat dalam diskusi. Namanya diskusi, tiap individu memiliki hal untuk berpendapat dan didengar. 

Cobalah jangan menutup mata dan telinga. Kita ini semua manusia dan semua bisa salah. Janganlah memperlakukan orang lain seakan-akan mereka nggak bisa berpikir sendiri. Gue rasa salah satu poin penting yang kita semua harus pelajari adalah menerima kesalahan diri sendiri. Jadi, kita bisa tahu kapan saat berhenti berdebat kalau ternyata kita memang salah. Jangan mau menang sendiri. 

Kemudian, janganlah memperlakukan orang lain dengan cara yang kita nggak mau orang lain lakukan kepada kita. Simple kan? Kalau nggak mau dipaksa, jangan memaksa. Kalau mau didengar, dengarkanlah pendapat orang lain. Tiap orang punya sudut pandang masing-masing, harusnya kita nggak main langsung tuduh. 

Gue anti banget sama orang yang mau menang sendiri. 

Gue ini dari dulu adalah tipe orang yang menghindar. Jadi, kalo sesuatu hal atau seseorang gue rasa gue nggak suka dari awal otomatis gue akan menghindarinya sebisa mungkin. Gue terlalu malas untuk buang energi ngurusin orang yang kepala batu. 

Lagipula, gue selalu berpegang pada keyakinan, kalau mencontohkan lebih baik daripada memberitahukan. Jadi, gue lebih memilih fokus memperbaiki diri gue sendiri dulu dan hidup dengan benar, daripada cari-cari kesalahan orang lain dan mengajarkan mereka tentang hidup yang benar. Gue juga selalu berusaha menyaring semua informasi yang gue dapat, dan mengolahnya ke berbagai sudut pandang. Selama informasi yang kita dapat itu dari manusia, kebenarannya belum bisa 100%.  

Tapi, banyak tuh yang ribut hanya karena sesuatu yang belum pasti. Buang-buang energi.

Banyak juga orang-orang yang mengeluh kaumnya tertindas dan kemudian membentuk gerakan perlawanan, yang akhirnya menelan korban tidak bersalah. Yang tertindas pun akhirnya menindas. Begitu terus, nggak ada akhirnya. 

Di Indonesia ini terlalu banyak hal yang ternodai. Mayoritas kekuasaan dipengaruhi uang dan dimiliki mereka yang tidak berotak. Sedangkan sebagian kecil manusia yang benar dan cerdas, suaranya tertutup riuh rendah bualan penguasa. Situasinya terlalu kotor, sampai-sampai sebagian besar masyarakatnya sendiri buang muka dan tidak mau kotor-kotoran. 

Terlalu banyak orang apatis, tapi gue nggak punya nyali untuk jadi idealis.

Gue punya mimpi tentang Indonesia. Indonesia yang akhirnya bisa mandiri mengolah kekayaan alamnya. Indonesia yang rakyatnya toleran dan rukun. Indonesia yang nggak memandang warna kulit dan bahasa. Indonesia yang lebih berpikirian luas dan berlapang dada. Indonesia yang dipimpin pemimpin yang benar. Terlalu utopia kan?

Ego manusia itu kadang mengerikan. Nggak habis pikir sama mereka yang ribut minta mobil dan fasilitas baru lainnya, sementara rakyat yang diwakili harus bertaruh nyawa gelantungan di kopaja sesak yang sudah butut. Mereka minta gedung baru miliaran rupiah, sementara banyak warga nggak punya rumah. Mereka minta kursi baru puluhan juta rupiah, padahal sebagian orang cukup bahagia dengan bisa berbaring melepas lelah sekejap sebelum kembali membanting tulang. Mereka bisa-bisanya tidur saat rapat. Dan mereka nggak malu dengan beritanya yang di mana-mana. 

Gue rasa banyak pemuda-pemudi Indonesia yang berpikir sama seperti gue. Kita semua hampir diambang putus asa kalau berpikir untuk mengubah negeri ini. Banyak juga sih yang peduli dan bertekad membangun bangsa, tapi gue nggak yakin kalau mereka semua itu bisa menjadi pemimpin yang sebagaimana mereka dan kita semua impikan saat ini. Sebagian mungkin, tapi tidak semua, pasti ada beberapa yang menjadi tikus-tikus baru. 

Kita semua bisa berencana akan masa depan bangsa ini. Tapi, kita semua harus yakin terlebih dahulu dan bekomitmen bahwa indahnya kekuasaan nggak akan mengubah visi dan misi kita. Kita semua ini kan masih muda, nggak berpengalaman, dan belum pernah mengecap kekuasaan yang begitu besarnya. Yakin nggak akan tergoda kalau sudah di puncak?

Oleh karena itu, balik lagi ke awal. Sebelum membangun bangsa ini, bangunlah diri sendiri dengan baik dan benar. Di setiap bangunan yang akan direnovasi, kita perlu arsitek yang handal dan bukan abal juga kan? Begitu pula dengan hal-hal besar yang kita impikan, harus dimulai dari yang terkecil. Ingin persatuan, janganlah memicu perselisihan. Jadikan keberagaman itu hal yang positif dan berpotensi. Bule-bule aja salut dengan keberagaman kita. Pelangi itu indah karena memiliki tujuh warna yang berbeda loh...

Akhir kata, it's always the dummies who fight the idiots. Kalau kita pintar, kita hanya akan berperang dalam perang yang pasti bisa dimenangkan. :)

Keine Kommentare:

Donate Now!