Sebelum Aku Menghilang
Oleh: Jessica Marceline
“ Bagaimana keadaan pasien ini, Sus?”
“ Entahlah, Dok. Belum ada kemajuan.”
“ Hmmm… Baiklah, tolong beritahu saya kalau keluarganya sudah datang.”
“Baik, Dok.”
Suara-suara asing itu menganggu tidurku. Entah sudah berapa lama aku terbaring di sini. Kucoba untuk membuka kedua mataku, putih. Putih dimana-mana. Kudengar suara langkah kaki orang-orang berlalu-lalang. Kemudian aku mencoba untuk duduk. Usahaku yang pertama hampir gagal karena rasa pening luar biasa yang menyerang. Ada apa ini?
Aku berhasil duduk dengan cukup tegak setelah rasa pening itu mereda. Sambil tetap memegang kepalaku yang berdenyut pelan, kuamati sekitar tempat aku terbaring. Aku berada di sebuah kamar berukuran sedang yang asing bagiku. Didekorasi serba putih dan dengan sedikit perabotan. Kamar ini tampak bersih terawat, namun bagiku, kamar ini tampak dingin dan sedih. Bagaikan saksi bisu atas berbagai kepedihan dan kesedihan yang terjadi di sini.
Aroma khas yang tercium olehku memberitahukan bahwa aku berada di rumah sakit. Apa yang membuat aku berada di sini? Dengan kepala yang mulai berdenyut kembali, aku mencoba mengingat apa yang menyebabkanku berada di sini.
Akh! Sakit di kepalaku tidak tertahankan. Rasanya seperti dihantam jutaan kali dengan martil besar. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih.
Akhirnya, setelah merebahkan diri beberapa saat untuk meredam sakit di kepalaku, aku memutuskan untuk bangkit. Rasa pening kembali menyerang ketika kakiku menyentuh lantai rumah sakit yang dingin. Untuk menopang tubuhku, aku berpegangan pada ranjang besi tempatku berbaring sebelumnya. Dan aku pun mulai berjalan perlahan menuju pintu, untuk keluar dari kamar ini.
Sakit di kepalaku mulai mereda ketika aku mencapai pintu, kelihatannya jalur peredaran darah dalam tubuhku yang, tampaknya, terbaring cukup lama mulai kembali normal. Aku pun menggapai pegangan pintu dan mendorongnya terbuka. Keheningan dan kesendirianku di kamar itu seketika redup oleh suara-suara langkah kaki para perawat dan dokter yang bertugas.
Aku berhenti sejenak di ambang pintu untuk mengamati keadaan sekitar. Koridor dipenuhi berbagai aktivitas yang biasa kita jumpai di rumah sakit. Ada seorang perawat yang sedang menuntun seorang lanjut usia yang baru kembali dari toilet. Ada seorang dokter muda yang berjalan cepat melewatiku dengan kepala menunduk, sibuk membaca status pasien yang ditanganinya. Ada juga seorang perempuan muda yang duduk sendirian di kursi tunggu. Mata perempuan itu menerawang dan untuk sejenak aku terpaku dalam matanya yang hitam dan dalam. Mata itu kosong, menatap ke dalamnya bagaikan menatap ke dalam sumur, yang bagian dalamnya tidak tersentuh cahaya. Mata kosong seperti itu tidaklah cocok untuk paras wajahnya yang penuh kehangatan.
Ah! Apa yang kupikirkan! Siapa pula perempuan itu? Aku masih harus mencari tahu alasan keberadaanku di sini, bukannya malah sibuk memikirkan masalah orang lain! Siapa peduli apa yang terjadi dengan matanya??
Maka aku pun mengalihkan tatapanku ke ujung koridor. Di sana aku melihat sebuah meja besar dimana ada beberapa perawat dibaliknya. Meja informasi! Di sanalah biasanya semua informasi pasien di koridor ini tercantum, tempat para penjenguk mencari tahu di kamar manakah kerabatnya dirawat. Dengan perasaan lebih ringan karena mengetahui adanya setitik cahaya di depan, aku melangkah perlahan ke arah meja informasi tersebut.
Sesampainya di meja tersebut, terlihat olehku betapa sibuknya ketiga perawat yang berada di baliknya. Perawat yang berada paling kanan sedang sibuk berbicara melalui telepon, sesekali ia mengangguk dan mencatat apa yang didengarnya. Seorang perawat yang lain sedang melayani salah satu keluarga pasien yang banyak bertanya mengenai masalah administrasi. Perawat itu mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan sang ayah dan memberikan respon dengan sopan di tengah ributnya suara tangis si balita dalam gendongan sang ibu.
Perawat yang ketiga, yang berada tepat di depanku, sedang sibuk mencatat sesuatu dalam sebuah buku besar. Tidak seperti kedua rekannya, ia tidak tampak terlalu sibuk. Dengan tenangnya ia mengecek beberapa hal baik dalam bukunya maupun dalam jadwal-jadwal yang banyak tertempel di sisi mejanya. Aku memutuskan untuk bertanya padanya.
“ Permisi, Sus,”
Tidak ada respon yang berarti. Perawat itu tetap sibuk membalik-balik banyak kertas, mencatat, dan bersenandung ringan.
“ Permisi, Sus!” Ulangku dengan lebih keras. Tapi, si perawat tetap tidak memberikan respon yang seharusnya. Ia tampak seperti tidak mendengarku sama sekali, padahal aku yakin suaraku cukup keras untuk didengar semua orang di koridor ini. Aku terpaku sejenak.
Aneh. Situasi ini sangat aneh. Ada apa sebenarnya?? Perasaan tidak enak mulai menghantuiku. Aku melambai-lambaikan tanganku ke depan wajah si perawat. Tetap, ia tidak bereaksi. Aku bergerak ke samping, menghampiri si ibu yang menggendong balitanya yang menangis dan menepuk bahunya. Tak terjadi apa pun. Si ibu tidak merasakan tepukan pelanku di bahunya. Aku pun menepuk bahunya sekali lagi dengan lebih keras. Si ibu tidak menoleh, ia tetap sibuk menenangkan anaknya yang rewel. Dengan rasa seperti terhantam di perut, aku mencoba satu hal terakhir untuk memastikan hipótesis tidak masuk akal yang ada di otakku.
“ WOI!!!! SEMUANYAA!!!!” Teriakku sekuat tenaga ke arah semua orang di sana. Tidak terjadi apapun. Ketiga perawat tetap sibuk, si balita tetap menangis dan si ibu menenangkannya, semuanya tetap seperti semula. Tanpa gangguan, tanpa interupsi teriakanku.
Hal yang sama terjadi berulang kali ketika aku kembali berteriak, mencari perhatian.
Tiba-tiba tubuhku menjadi lemas. Kenyataan bahwa aku tidak dihiraukan, bahwa aku seperti tidak tampak dan tidak terdengar, serta tidak dirasakan kehadirannya, membuatku serasa tertimpa timbunan pasir beratus-ratus ton. Terkubur, hilang. Lenyap.
Apa yang sebenarnya terjadi??
Dengan berjuta pertanyaan yang menggantung di kepalaku, aku terpaku di tengah-tengah kesibukan aktivitas rumah sakit. Puluhan orang melewatiku, bahkan hampir menabrakku, tanpa pernah melihat atau mendengarku. Lalu aku merasakan tepukan pelan di bahuku. Bagaikan setetes air dingin yang menetes ke tengkuk, tepukan itu membuatku tersentak. Dengan segera aku berbalik, untuk menjumpai siapa gerangan yang dapat melihatku??
Di sana, dengan satu tangan menyentuh bahuku dan tangan yang satu memegang tongkatnya, seorang perempuan menatapku dengan matanya yang tak bercahaya. Ia adalah perempuan yang tadi kuperhatikan, yang memiliki mata gelap dan kosong. Aku terdiam sejenak. Menyadari tongkat yang dibawanya, aku jadi tahu bahwa perempuan ini tidak dapat melihat. Ini menjelaskan mengapa sorot matanya begitu kosong dan tidak bercahaya, tapi kesadaran ini juga membuatku terpuruk kembali. Tetap saja, tidak ada yang dapat melihatku sekarang.
Wajah si perempuan sedikit muram. Ia menurunkan tangannya dari bahuku dan berkata, “ Maaf, bisa tolong Anda menjaga ketenangan di sini? Ini rumah sakit, bukan pasar. Teriakan Anda tadi sangat mengganggu.”
Aku tidak dapat berkata apa-apa. Wanita ini mendengarku. Secercah harapan membuncah di hati.
“ Kau bisa mendengarku?”
“ Tentu saja bisa. Saya buta, tapi tidak tuli. Siapa yang tidak mendengar teriakan seperti itu? Saya sendiri heran mengapa tidak ada yang menegur Anda.”
“ Oh… yah, memang tidak ada orang lain yang dapat mendengarku. Bahkan sepertinya tidak ada yang bisa melihatku.”
“ Apa yang Anda bicarakan?”
Aku terdiam sejenak. Apa yang harus kujelaskan padanya? Bahwa aku tidak terlihat? Bahwa aku tidak lain dari udara kosong? Yang benar saja!
“ Hmm… lupakan-lupakan. Anggap aku tidak pernah berbicara seperti itu. Ngomong-ngomong, siapa namamu? Aku Andre.”
“Anna.”
“ Oh, ya… Salam kenal.”
“ Salam kenal.”
Terjadi suatu keheningan ganjil di antara kami. Akhirnya aku memutuskan untuk mengantarnya kembali ke tempat duduknya di ruang tunggu. Setelah Anna duduk kembali di tempatnya semula, aku menjatuhkan diri ke kursi di sampingnya dan memulai percakapan.
“ Hmmm…. Apa yang membuatmu datang ke rumah sakit? Hmmm… maksudku, apakah kau sakit? Atau menjenguk seseorang?” Bah, pertanyaan macam apa itu?
“ Tidak, aku tidak sakit dan aku tidak menjenguk siapa-siapa. Aku ke sini hanya untuk memeriksakan mataku.“
“ Ohh…. Begitu…”
Hening lagi.
“ Kalau kau sendiri? Apa yang membuatmu berada di sini?” Anna bertanya padaku. Aku terdiam sejenak. Mengapa aku bisa berada di sini? Itulah yang ingin kucari tahu sebelum mengetahui bahwa aku ‘tembus pandang’. Dan kepanikan karena kenyataan ini membuatku melupakan tujuan semula.
“ Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang membuatku berada di sini.” Aku tidak tahu harus berkata apa.
“ Maksudnya?”
“ Entahlah… Aku tiba-tiba terbangun di salah-satu kamar rumah sakit ini dengan kepala pening dan sekujur tubuh sakit. Aku tidak bisa mengingat mengapa aku ada si sini. “
“ Mengapa kau tidak bertanya di meja informasi?”
“ Yah…. Sudah sebenarnya. Tapi, para perawat di sana tidak menghiraukanku. Itu sebabnya..”
“ Kau berteriak. Yah, aku mengerti,” potongnya.
“ Tapi, mengapa mereka tidak menghiraukanmu?” lanjutnya. Aku terdiam sesaat. Apa yang harus aku katakan?
“ Hmmm… Entahlah….”
Terjadi keheningan untuk kesekian kalinya. Situasi canggung ini akhirnya dipecahkan oleh panggilan seorang perawat kepada Anna. Ia pun masuk ke dalam ruang praktek.
Aku memutuskan untuk tidak ikut ke dalam. Kepalaku tidak lagi sesakit sebelumnya, tapi tetap terasa berat oleh banyaknya pertanyaan yang muncul. Akhirnya, aku memutuskan untuk duduk dan memikirkan semuanya dari awal. Aku pun duduk termenung dan sesekali kembali mencoba menarik perhatian beberapa orang. Tetap tidak berhasil.
Tak lama kemudian, Anna keluar dari ruang periksa. Wajahnya berseri, namun ada sedikit mendung membayang di sana. Mungkin karena sorot matanya yang kosong, entahlah.
“ Bagaimana? Apa kata dokter?” Tanyaku, begitu ia sudah duduk kembali.
“ Katanya, ada seorang pasien yang berpotensi untuk menjadi donor mata bagiku,” jawabnya.
“ Wah, selamat kalau begitu! Kau akan segera melihat betapa indahnya dunia ini!” Wajah Anna semakin mendung, aku menjadi bingung dan merasa bersalah. Apakah aku telah salah berkata-kata?
“ Uhmm…. Ada masalah?” Tanyaku. Anna terdiam sejenak, menghela napas panjang, dan berkata,
“ Untuk dapat mendonorkan mata, seseorang harus meninggal terlebih dahulu. Yah, kau mengerti kan?” Aku mengangguk-anggukkan kepala, namun menyadari bahwa ia tidak dapat melihatku, aku menjawab,
“ Ya. Tapi, apa yang kau pusingkan kalau si pendonor telah merelakan matanya?”
“Masalahnya, pendonor itu belumlah meninggal. Ia masih dirawat di rumah sakit ini, walaupun, kata dokter, orang itu sudah tidak ada harapan untuk hidup.”
“ Memangnya, apa penyebab kondisi orang itu sedemikian parahnya?”
“ Kecelakaan motor. Kudengar orang itu seusia denganku. Biasa, anak muda jaman sekarang. Kurang menghargai hidup.”
“ Ya…. Memang….” Aku tak bisa banyak bicara. Sebagai pengendara motor, aku beranggapan memacu kecepatan adalah tantangan yang mengasyikan. Berbahaya dan terkesan sembrono memang, tapi apalah artinya tantangan tanpa resiko?
Kelihatannya masih ada yang mengganjal di hati Anna. Wajahnya tak kunjung berseri lagi.
“ Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?” Aku berusaha memperbaiki suasana hatinya.
“ Entahlah. Aku ingin menjenguknya sekali. Bagaimana pun, jika aku bisa melihat lagi, itu berarti dia tidak hanya kehilangan matanya. Tapi, juga nyawanya. “ Aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa menatap matanya yang kosong. Ah, betapa indahnya jika mata itu dapat bercahaya lagi.
“ Kau sudah tahu di mana kamar tempat orang ini dirawat?”
“ Ya, Dokter Iwan sudah memberitahukanku. Katanya kamar 305. Masih di lantai ini.”
“ Kalau begitu, mengapa kau tidak segera menghampirinya?”
“ Aku ingin menenangkan perasaanku dulu. Aku bimbang, mengingat bahwa mengharapkan sepasang bola mata yang melihat, sama saja dengan menginginkan kematian seseorang,” katanya lagi. Mendengar itu, aku terdiam sejenak.
“ Hmmm…. Kau tidak bisa berkata begitu. Kalau orang itu merelakan matanya untuk dipakai orang lain, bukankah berarti kau pun berhak untuk dapat melihat dengan matanya? Lagipula, bukan kau yang menyebabkan kematiannya. Kau hanya terlibat di tengah, walaupun kau tidak melakukan apa-apa.” Anna terdiam dan mulai meresapi kata-kataku.
“Kalau aku yang menjadi orang itu, aku akan merelakan mataku. Dengan begitu, aku tetap dapat melihat dunia. Bahkan setelah jiwa ini meninggalkan raganya, “ lanjutku.
“ Ya, kau benar. Hmmm…. Baiklah. Maukah kau menemaniku ke sana?”
“ Boleh saja. Sekalian, siapa tahu dengan berjalan berkeliling aku menemukan sesuatu yang dapat membuatku teringat akan penyebab keberadaanku di sini.”
“ Oh, iya… Kau sendiri sedang memiliki masalah ya? Maaf, kau malah jadi menemaniku.”
“ Tidak apa-apa. Lagipula, tidak ada orang yang menghiraukan aku. Hanya kau yang mau berbicara denganku.” Karena hanya kau yang dapat mendengar dan merasakan kehadiranku, tambahku dalam hati.
“Hahahaha… Tidak jugalah. Kalau begitu, ayo.. Kita ke kamar 305.”
“ Ayo.”
Dan aku pun menemani Anna menuju ruang perawatan si pendonor potensial. Sepanjang jalan menuju ke ruangan itu, Anna berbicara banyak mengenai kesehariannya. Ternyata, ia kehilangan penglihatannya sejak lahir. Anna adalah seorang perempuan yang tabah dan sabar dalam menjalani hidup. Aku sungguh tersentuh mendengar kisah hidupnya yang penuh perjuangan. Sungguh suatu hal yang menyenangkan dapat berjumpa dengan orang sepertinya.
Sambil mendengarkan Anna bertutur mengenai kehidupannya, aku sesekali memperhatikan orang-orang yang kami lewati. Sebagian besar, mereka menoleh dengan tatapan aneh ke arahku dan Anna, atau lebih tepatnya ke arah Anna, sebab mereka tidak dapat melihatku. Orang-orang itu mungkin terheran-heran melihat Anna berjalan sambil berbicara dengan seru kepada… yah, kepadaku, tapi untuk mereka, bukan kepada siapa-siapa. Aku tidak berbicara banyak, hanya mendengarkan.
Dan sampailah kami ke ruangan 305.
Anna mengetuk pintu, tak ada jawaban. Aku melihat melalui jendela kecil di pintu kamar, dan menyadari bahwa tidak ada orang di dalam. Setelah memberitahukan hal itu kepada Anna, ia pun mendorong pintu terbuka dan masuk ke dalam. Aku mengikutinya.
Kamar yang kumasuki ini tidak terlalu berbeda dengan kamar tempatku terbangun tadi. Didekorasi putih, sedikit perabotan, dan bernuansa dingin. Aku melihat seseorang di atas tempat tidur yang juga serupa dengan yang kutempati sebelumnya.
Di sana.
Terbaring diam dengan banyak selang dan kabel yang menghubungkan setiap tarikan napasnya dengan mesin-mesin, yang kutahu, menopang hidupnya. Tubuhnya dibalut dibeberapa tempat, khas korban kecelakaan. Kecelakaan yang cukup parah, kelihatannya.
Anna berjalan perlahan ke sisi pembaringannya. Ia tidak dapat melihat keadaan orang itu, tapi aku dapat merasakan rasa simpati yang menguar darinya.
“ Seperti apa wajahnya?” Tanya Anna.
“ Hmm… sebentar,” jawabku. Dan aku pun mencondongkan badan untuk lebih memperhatikan wajah orang itu. Aku tersentak.
Tidak mungkin.
Inikah segala penyebab keberadaanku? Keberadaanku yang tak terlihat? Yang tak terasa? Mungkinkah??
Apakah semuanya hanya karena aku adalah roh? Atau hantu? Jiwa? Arwah? Aku tak mengerti. Aku memejamkan mata, berharap ini semua hanya mimpi dan ketika aku membuka mata kembali, aku akan melihat kamar tidurku di rumah. Yang berantakan namun sangat kurindukan sekarang.
Saat memejamkan mata itulah, kebenaran terungkap. Segala ingatan yang hilang dariku telah kembali. Apa yang membuatku berada di rumah sakit dan bahkan meregang nyawa? Ya, seperti yang dikatakan Anna, kecelakaan. Berbagai kejadian terlintas bagai kumpulan gambar bergerak di mataku. Berganti dengan cepat. Mengungkap semua. Mobil merah itu, mobil yang gagal kusalip. Dan pagar pembatas itu, yang kutabrak dengan motorku, yang menghantarku ke jurang terbuka di sisi jalan. Tidak!! Ini hanya mimpi! Mimpi!!!
Tapi, ketika aku membuka mata kembali. Aku tetap berada di sana. Memandang langsung ke arah tubuhku yang terbaring diam. Tubuh yang hampir mati. Yang hidupnya tergantung pada seperangkat mesin canggih.
Aku melihat diriku terbaring diam. Akulah si pasien sekarat. Akulah si pasien yang berpotensi untuk mengembalikan penglihatan Anna. Bagaimana ini mungkin?
“ Andre? Bagaimana wajahnya?” Tanya Anna lagi. Pertanyaannya memecah keheningan yang menyelimuti ruangan ini.
“ Hmmm… ia… seorang lelaki. Usianya sekitar 20-an,” jawabku terbata-bata. Jantungku berdetak kencang dan suaraku bergetar. Jantungku?? Detaknya hampir tidak muncul di monitor di samping tempat tidur. Jantung di tubuhku yang nyata, hanya menimbulkan sedikit gelombang pada garis yang lurus.
“ Ya, aku sudah tahu. Bagaimana rupanya? Apa warna matanya?” Tanya Anna lagi.
“ Cokelat. Matanya berwarna cokelat,” Jawabku langsung tanpa perlu melihat ke dalam mataku yang sebenarnya. Lagipula, mata itu terpejam rapat.
“ Hmmm…Aku tidak tahu bagaimana wajahnya. Hampir seluruhnya tertutup balutan perban,” dustaku segera. Memang ada perban di kepalaku, tapi wajahku terpampang dengan jelas. Aku merasa tidak mampu mendeskripsikan bagaimana wajahku saat itu. Terlalu menyakitkan.
“ Oh, begitu… Hmmm… baiklah… Ayo kita kembali,” ajak Anna. Lupa bahwa Anna tidak dapat melihatku, aku hanya mengangguk pelan. Anna tampak kebingungan. Melihat paras cantiknya yang berkerut bingung menantikan jawabanku, aku memaksa mulutku agar bersuara.
“Ayo,” jawabku lemah.
Kami pun berjalan pelan -dan lemas untukku- keluar kamar. Anna memutuskan untuk pergi ke Ruang Doa di ujung koridor. Ia ingin berdoa dan memohon petunjuk, sekaligus meringankan keresahan hatinya.
Dengan perasaan hampa, aku menyatakan ingin ikut dengannya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, atau apa yang ingin kulakukan. Kenyataan telah menghempaskanku ke bumi dengan begitu kerasnya. Merenggut sisa gairah hidupku. Gairah muda yang ingin menggapai berjuta mimpi.
Aku ingin hidup. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi, aku ingin hidup.
Begitu masuk ke dalam ruang doa, kulihat ada seorang wanita paruh baya yang sedang bernyanyi pelan, dan seorang gadis kecil yang bersimpuh dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Aku membantu Anna mencapai tempat duduk yang tersedia dan melihatnya segera berlutut, mulai berdoa. Suasana kembali hening.
Keheningan ini terusik oleh sebuah suara sayup dari arah si gadis kecil yang sedang berdoa. Dalam kesunyian, aku dapat mendengar doa yang terucap dengan bisikan pelan dan lemah melalui bibir mungilnya.
“ Ya Tuhan, Icha mau hidup… Tapi,…” Kudengar si gadis kecil berusaha mencari kata-kata yang tepat.
“ Tapi, dengan jantung yang Icha punya sekarang, Icha nggak bisa hidup lama. Icha dengar Om Dokter bicara dengan Mama kemarin. Kata Om Dokter, jantung Icha nggak kuat….” Ia berhenti sejenak untuk menghapus air matanya yang mengalir tak terbendung.
“ Terus, Icha lihat Mama nangis. Tuhan, Icha nggak mau Mama nangis. Kalau Icha bisa hidup, Mama pasti senang. Icha mau hidup, Tuhan… Supaya Mama bisa tersenyum lagi.” Kali ini, doanya diselingi isakan kecil. Aku dapat merasakan kepedihan hatinya.
“ Makanya, Icha mohon…. Tuhan cepat kasih Icha jantung baru. Biar Icha bisa hidup lebih lama. Kabulkan doa Icha, Ya Tuhan. Amin.” Kemudian, setelah diam beberapa saat, Icha, gadis kecil itu, bangkit dari posisi bersimpuhnya dan dengan perlahan berjalan keluar. Doa sederhananya begitu menyentuh hatiku.
Suatu pemahaman kembali menerpaku. Aku bisa memberikannya jantung baru. Aku bisa membuatnya tetap hidup dan juga membahagiakan keluarganya. Aku.
Aku yang selama hidupku tidak pernah membahagiakan siapa pun. Dibesarkan dalam keluarga yang berantakan, apa yang bisa diharapkan dariku? Dan kini, menjelang ajalku, aku mendapat kesempatan untuk membahagiakan orang lain. Tapi, untuk membahagiakan orang lain, itu berarti aku harus membuang mimpiku. Menutup usiaku.
Apa yang harus kulakukan?
Jika aku bertahan dengan jiwa yang terpisah dari raga, aku mungkin tetap hidup, tapi untuk apa? Menambah beban orang lain. Dokter telah berkata bahwa kesempatanku untuk hidup mendekati nol. Tapi, aku percaya akan mukjizat. Aku berharap suatu hari nanti aku akan bangkit dan melepas semua kabel di tubuhku, lalu berlari menyongsong hari baru. Awal baru. Menapaki jalanku, menggapai mimpiku. Bagai torehan dalam di kulitku, yang tidak bisa hilang dan selalu teringat, pengalaman ini akan membekas dalam diriku. Aku akan menjadi baru. Setiap tarikan napas akan menjadi sesuatu yang berharga bagiku. Melampaui semua emas dan perak.
Tapi, bagaimana jika mukjizat tidak terjadi? Bagaimana jika aku akan tetap hidup bersama kabel dan selang dan berbagai mesin penopang hidup lainnya? Hidupku akan berakhir dengan terbaring kaku, tak beda dengan seonggok kayu.
Hidup bagai manusia tak bernyawa, sama menyakitkannya dengan kehilangan mimpi terindah.
Dalam kebimbanganku, aku melihat Anna tetap berdoa dengan khusuk. Lalu, telingaku menangkap suara dari arah si wanita paruh baya.
“ Jika biji tidak mati, Ia tetap tinggal biji…. “ Kudengar ia bernyanyi pelan.
“Namun bila Ia musnah….. Berbuah berlimpah-limpah….” Aku tersentak. Sebuah kebenaran menerpaku.
Kulihat Anna masih bersimpuh, berdoa. Aku berlutut di sampingnya dan ikut berdoa dalam hati.
Tuhan, biarlah yang terjadi sesuai rencanaMu…
Suara sayup si wanita paruh baya masih terdengar dari sudut ruangan. Ia masih menyanyikan lagu yang sama dengan perlahan,
“ Jika biji tidak mati, Ia tetap tinggal biji… Namun bila Ia musnah….. Berbuah berlimpah-limpah….”
***
Aku jarang berdoa. Tapi, waktu beberapa menit yang baru saja terlewat, kuhabiskan dengan berbicara kepada-Nya, yang mempunyai hak atas segala kehidupan di dunia ini. Sebuah kepasrahan telah mengangkat bebanku. Menghapus semua dilema.
Aku berjalan keluar Ruang Doa bersama Anna. Ia tidak berbicara, sibuk dengan pikirannya sendiri, seperti aku dengan pikiranku. Keheningan di antara kami begitu sempurna dan penuh pengertian.
Tiba-tiba Anna berhenti melangkah. Ia tampak terpaku. Aku pun berhenti melangkah dan hendak bertanya kepadanya apa yang membuatnya terpaku, ketika aku mendengar suara itu.
“ Tidak! Tidak boleh!!” Bentak seorang wanita. Suara itu, suara yang kukenal, datang dari depan kamar 305, kamar tempat tubuhku terbaring. Ada tiga orang di depan kamar itu. Ya, aku dapat melihatnya sekarang. Mereka adalah kedua orang tuaku dan seorang dokter muda, dokter muda yang telah kulihat sebelumnya. Yang, mungkin, bertanggung jawab atas tubuhku.
“Ma, jangan teriak-teriak begitulah. Ini rumah sakit,” kudengar ayahku berbicara. Tak biasanya aku melihat kedua orang tuaku di tempat dan waktu yang sama. Biasanya mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, hingga tak punya waktu untuk bersama.
“ Tenang, Bu. Kami tidak memaksa Anda, tapi coba Anda pikirkan terlebih dahulu. Banyak nyawa yang akan terselamatkan, jika Anda….”
“ TIDAK!! Memangnya Dokter kira anak saya binatang?? Yang bisa dipotong seenaknya??” Bentak ibuku, memotong ucapan si dokter muda.
Aku mulai menangkap inti pembicaraan ini dan begitu aku melirik ke arah Anna yang masih terpaku, aku tahu, ia juga memahaminya.
“ Kami mengerti, Dok. Kami akan memikirkannya. Sekarang bisakah Anda meninggalkan kami berdua? Agar kami bisa membicarakannya dengan lebih leluasa?” Pinta ayahku. Dokter muda itu mengangguk sekilas dan meninggalkan kedua orang tuaku. Ibuku segera duduk di kursi terdekat dan mulai terisak.
“ Anna, kamu tunggu sebentar ya… Aku ada perlu,” kataku pada Anna. Anna mengangguk pelan. Kericuhan singkat tadi agaknya membuat dirinya takut. Aku menghantarnya ke tempat duduk terdekat, kemudian berjalan menghampiri kedua orang tuaku.
Kulihat ayah mulai menenangkan ibu. Melihat mereka berdua dekat seperti ini, walaupun bukan dalam suasana bahagia, membuatku tersentuh. Mereka yang seringkali mengabaikan aku, kini bersatu mencari jalan keluar untuk kelangsungan hidupku. Mereka adalah orang tuaku. Mereka memang tidak sempurna, mereka bukanlah teladan orang tua yang baik. Tapi, mereka adalah orang tuaku. Tanpa mereka, aku adalah tiada, baik jiwa maupun raga.
“ Ma….,” panggilku sambil menyentuh bahu ibuku. Ia tidak menoleh. Ia tidak merasakan sentuhanku. Atau mendengarku.
“Pa…,” ucapku lagi. Tiada reaksi apapun. Mereka seperti semua orang lain. Mereka tidak tahu bahwa aku hadir. Aku ada di sana. Di tengah-tengah mereka, menyentuh bahu mereka. Memeluk mereka. Mereka tidak tahu. Mereka tidak merasakannya.
Seketika itu juga, air mataku mengalir tak terbendung. Membawa serta semua perasaanku. Membasahi. Membanjiri.
Kenyataan bahwa mungkin inilah saat terakhir aku bersama dengan kedua orang tuaku, bahwa ini detik terakhir aku dapat memanggil mereka, begitu menyakitkan. Pedihnya lebih tak tertahankan, ketika aku tahu, mereka pun tak dapat merasakan kehadiranku. Mendengarku.
Kumohon, Ya Tuhan! Untuk terakhir kalinya… Kumohon… Biarkanlah perasaanku ini sampai kepada mereka. Walau mereka tidak mendengarku atau bahkan tahu bahwa aku hadir, biarkanlah, Ya Tuhan! Ijinkanlah aku, Ya Tuhan… untuk sekali ini saja. Untuk terakhir kalinya. Sampaikan perasaanku. Bahwa aku, mencintai mereka.... Selalu, sampai akhir hayatku….
Aku berteriak dalam hati, tapi hanya isakan kecil tak terdengar yang keluar dari mulutku, diiringi derai air mata, yang tak bisa kubendung lagi. Yang mengalir lepas.
Setelah beberapa saat, aku melepas pelukanku, menghapus air mataku, dan berjalan kembali ke tempat Anna menunggu. Dari kejauhan, aku melihat ayahku mulai berbicara lagi. Ayah dan ibuku terlihat sedih dan terluka.
Akhirnya, setelah perdebatan dan isak tangis, aku melihat ibuku mengangguk perlahan, kemudian kedua orang tuaku saling berpelukan. Berbagi perasaan dan duka. Kembali menjadi satu setelah sekian lama terpisah.
Aku dapat merasakannya. Bahwa akhir akan segera tiba.
Tiba-tiba, perasaan takut menyergapku. Tanpa pikir panjang, aku menggenggam tangan Anna, yang duduk di sebelahku. Anna, yang sejak tadi terdiam, tersentak sesaat ketika tangan kami bersentuhan. Ia dapat merasakan kehadiranku.
Seketika itu juga, perasaan tenang mengalir masuk ke dalam hatiku. Mengetahui bahwa ada seseorang yang dapat mendengar dan merasakan kehadiranku, melenyapkan semua perasaan takut.
Tanpa persiapan apa-apa, aku merasa siap.
Kulihat sekelompok dokter dan perawat bergegas masuk ke kamar 305, diiringi tatapan khawatir campur bingung kedua orang tuaku.
Waktunya sudah dekat.
“ Anna, kamu akan segera melihat dunia,” ucapku perlahan. Kebingungan terpancar dari wajahnya, tapi ia tidak berkata apa-apa. Kemudian aku menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan menggenggam tangannya lebih erat.
Aku mendengar jerit duka seorang ibu yang memanggilku dari kamar 305. Dan aku pun menghilang.
***
Matahari bersinar dengan hangat, membahagiakan rerumputan dan bunga-bunga yang baru saja merekah menyambut pagi. Taman luas di depan sebuah rumah sakit tampak berkilau keemasan tertimpa cahayanya.
Ada sekitar sepuluh sampai lima belas orang, berkumpul di taman itu. Mereka tampak menantikan seseorang. Seseorang yang akan membuka suatu upacara peresmian.
Hari ini, tepat setahun setelah waktu kematiannya ditetapkan, telah dibangun sebuah Pelita di tengah taman untuk mengenang Andre. Keputusan kedua orang tuanya, yang mengijinkan pengambilan beberapa organ tubuh Andre untuk ditransplantasi ke tubuh yang membutuhkan, telah menjadi pelita yang menerangi kehidupan sebagian orang. Orang-orang di taman inilah yang mendapat pancaran sinar kehidupan dari pengorbanan Andre.
Tiba-tiba, keheningan di taman itu terusik ketika perhatian semua orang tertuju pada suatu sosok yang berjalan perlahan, menuju ke taman itu. Dialah yang mereka semua tunggu.
Anna berjalan perlahan menuju taman rumah sakit. Mata cokelatnya bersinar secerah matahari di langit. Sebagai salah satu penerima donor, ia akan menyampaikan kata sambutan dalam upacara peresmian Pelita, yang bisa dibilang juga merupakan monumen peringatan akan Andre.
Sebuah senyum terukir di wajahnya, ketika ia mengingat pengalamannya setahun yang lalu. Saat ia berjumpa seorang pemuda bernama Andre. Tidak ada yang tahu tentang kisah hidupnya yang satu ini karena Anna tidak menceritakannya kepada siapa pun.
Sekarang Anna telah berdiri di podium, menghadap para tamu undangan dan para penerima donor. Ia menarik napas sejenak dan memejamkan mata. Sesaat kegelapan yang telah menemaninya sekian lama, kembali menyelimutinya. Dan segera hilang ketika Anna membuka matanya.
“ Mereka yang meninggal, akan tetap hidup selama kita tidak melupakan mereka. Sebab, manusia yang telah meninggal hanya dapat hidup dalam kenangan mereka yang mengenalnya,” ucap Anna, mengawali sambutannya.
“ Pengorbanan satu orang, telah membuat kita semua dapat hidup. Membuat kita dapat melihat yang tidak pernah terlihat….” Anna berhenti sejenak ketika matanya bertemu pandangan manis Icha, yang duduk di barisan depan. Senyum kembali terkembang.
“ Dan membuat kita dapat merasakan setiap detak jantung yang terjadi,” lanjutnya.
“Andre telah membuktikan kepada kita semua, bahwa hidup bukan hanya berarti hidup secara fisik. Dimana kita dilihat, didengar, dirasakan. Tapi, seseorang juga dapat tetap hidup dalam karya yang dibuatnya.
“Hidup ini hanya sekali. Tapi, jika kita hidup dengan benar, satu kali saja sudah cukup. Kita telah mendapat kesempatan untuk memperbaiki diri. Maka dari itu, biarlah monumen ini tidak hanya menjadi peringatan akan karya Andre, tapi juga sebagai bukti bahwa kita akan lebih menghargai hidup yang telah diberikan, “ tutur Anna, menutup sambutannya.
Semua yang hadir bangkit berdiri dan bertepuk tangan.
Nama-nama mereka, yang menerima donor dari Andre, terukir pada tiang perunggu Pelita, seperti karya Andre yang akan selalu terukir dalam kenangan mereka.
SELESAI

2 Kommentare:
ya ampun em sedih banget... ampe mo nangis T.T
lha, pingkan baru baca? hohoho....
Kommentar veröffentlichen