Kisah ini bermula dari seminggu yang lalu saat ulangan kimia.
Jadi, ceritanya pelajaran kimia itu adalah salah satu mata pelajaran paling ditakuti anak-anak sekelas gue di T-Unterkurs. Kenapa ditakuti? Sebagian besar karena Dr. Bremer, si guru kimia, adalah bule Jerman yang super ketat sama yang namanya peraturan. Orangnya streng banget, sampe agak nyeremin. Kita nggak boleh datang telat atau bakal disindir sepanjang jam pelajaran. Herr Bremer juga suka tunjuk-tunjuk muridnya dan kasih pertanyaan. Kalau si murid yang ditunjuk nggak bisa jawab, Herr Bremer akan geleng-geleng, bikin hati makin ciut.
Buat gue pribadi, di luar ke-super-disiplin-an Herr Bremer, beliau adalah guru yang baik. Cara mengajarnya jelas dan beliau bersedia menjawab pertanyaan murid-muridnya, bahkan kalau pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sudah pernah dijawab sebelumnya. Mungkin di kelas, cuman gue yang memihak Herr Bremer, sementara yang lain agak sensi sama dia.
Alasan gue kenapa gue nggak merasa masalah dengan kedisiplinan yang diterapkan Herr Bremer adalah: ya namanya peraturan, udah dikasih tahu jauh-jauh hari sebelumnya, kenapa harus dilanggar. Herr Bremer sudah memberitahukan sejak hari pertama, kalau beliau nggak suka sama murid yang suka telat. Tapi kenapa onta-onta itu tetap telat. Gue nggak habis pikir. Oh iya, onta di sini maksudnya orang-orang yang berasal dari atau yang berbahasa Arab, bukan binatang padang pasir itu.
Gue itu suka emosi sendiri sama onta-onta di kelas gue. Kelas gue sebagian besar diisi sama onta dan mereka, menurut gue, suka semaunya sendiri. Nggak semua sih, ada yang bener-bener niat. Mereka suka dateng telat, bolos, nyontek, nggak bikin peer dan lain sebagainya. Yang nyebelinnya lagi, mereka kalo di kelas suka nyaut-nyautin guru. Yang lebih-lebih nyebelinnya lagi, kalau misalnya guru A memberi pertanyaan kepada murid C, harusnya si C yang jawab kan? Tapi, si onta-onta pasti berisik ikut-ikutan jawab. Benci gue. Berisik banget, bikin orang nggak bisa mikir. Mereka nggak menghormati banget hak berbicara orang lain. Terus, kalau misalnya pertanyaan tersebut nggak ada yang bisa jawab, hening deh sekelas. Tapi, begitu ada yang berbisik sedikit karena nggak yakin sama jawabannya yang sebenernya bener, mereka berebutan jawab lagi, dengan jawaban si orang yang berbisik itu. Emosi!!
Mungkin karena gue sekian tahun sekolah di sekolah katholik yang terkenal super disiplin hampir lebay, jadi gue nggak merasa kesusahan menghadapi peraturan-peraturan di sini.
Balik ke topik awal, ulangan kimia. Waktu ulangan kimia, ada satu onta cewek yang duduk sebelah gue. Dari awal ulangan, gue uda ngerasa diliatin. Tapi, karena gue nggak mau buang waktu untuk melihat dia sebenernya melihat ke mana, gue tetep sibuk mengerjakan soal-soal sambil berusaha menjauhkan lembar jawaban dan coret-coretan gue dari jarak pandang si onta betina (OB). Pertengahan waktu ulangan, gue mendengar si OB bisik-bisik manggil temennya yang entah di mana. Gue cuek aja. Nah, waktu menit-menit tambahan mengerjakan ulangan yang dikasih, tiba-tiba Herr Bremer mengahmpiri si OB.
Bremer : "Sind Sie fertig mit dem Klausur schreiben? (gerakannya seperti mau mengambil lembar jawab si OB)" (Apakah Anda sudah selesai mengerjakan ulangan ini?)
OB : "Nein, noch nicht." (Belum)
Bremer : "Dann ziehen Sie dort um (sambil menunjuk satu tempat duduk lain yang lebih jauh dari gue). Sie dürfen nicht ihre Antwort gucken (sambil nunjuk gue). Bitte selbst machen oder Ich gebe Ihnen null punkte." (Kalau begitu mohon pindah ke sana. Anda tidak boleh melihat jawabannya. Mohon kerjakan sendiri atau saya beri nilai nol.)
Dan pindahlah si OB betina jauh-jauh dari gue di menit-menit terakhir.
Ternyata die beneran nyontek gue!! Malesin abis. Gue, karena gue berusaha sebaik mungkin sendiri dan ngerasain susahnya, benci banget sama orang curang! Si OB itu, walaupun udah ditegur sampai sedemikian, di detik terakhir masih manggil-manggil temennya. Luar biasa, mereka itu --"
Cerita lanjut ke hari ini. Hari ini juga ada pelajaran kimia, dan kebetulan kemarin itu ada peer. Peer-peer kimia sebelumnya itu nggak pernah diperiksa, paling dibahas sekilas. Gue kebetulan kemarin lagi rajin, jadi gue ngerjain. Lagian peernya simpel banget, hanya satu soal dan diminta baca 4 halaman dari buku cetak.
Si OB yang sama, entah kenapa, suka duduk di sekeliling gue. Gue selalu duduk bareng Heni, nah si OB kalau nggak di sebelah lain Heni, di belakang gue lah, di depan gue lah. Hampir semua pelajaran begitu. Waktu pelajaran matematika (pelajaran sebelum kimia), si OB yang duduk belakang gue manggil-manggil. Dia nanya gue bikin peer kimia apa nggak. Gue bilang aja nggak, soalnya pernah kayak gitu ternyata dia minta liat terus peer gue disalin. Nah, belajar dari pengalaman sebelumnya, gue dengan santai jawab nggak dan kembali berkutat dengan soal matematika.
Setelah pelajaran matematika itu ada istirahat 30 menit. Gue lihat si OB sibuk bikin peer, tapi gue cuek aja. Gue buka-buka lagi buku kimia dan baca-baca halaman yang diminta, sambil ngobrol-ngobrol.
Kemudian sampailah ke jam pelajaran kimia. Ternyata hari ini Herr Bremer lebih ketat soal peer daripada sebelum-sebelumnya. Dia tunjuk orang secara acak dan kasih pertanyaan seputar 4 halaman yang buat peer itu. Hampir sekelas nggak baca sama sekali dan nggak bisa jawab. Sampai gue ditunjuk dan ditanya, untung gue bisa jawab karena yang ditanyakan termasuk yang gue baca bener-bener. Langsung deh Herr Bremer nyerocos bahwa gue bikin peer dan bahwa harusnya yang lain itu lebih berusaha dalam belajar. Gue, bagaimanapun, seneng dong dipuji gitu.
Eh, tapi secara nggak langsung ngibulnya gue ke si OB bahwa gue nggak bikin peer juga ketahuan. Agak nggak enak juga sih, tapi kemudian the devil inside me berteriak SO MUCH WIN!!!! :DDDD


Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen