Dienstag, 3. Mai 2011

Ini Pesta untuk Siapa?

First of all, ini hanya sekedar sharing gue. Harap ditanggapi dengan objektif sebagaimana gue mencoba untuk objektif. It’s not easy though. Maaf jika ada yang tersinggung, gue nggak maksud. Tulisan ini murni perasaan gue dan pemikiran gue, tanpa ada maksud dan tidak ditujukan bagi siapa pun. Kemudian. gue tahu, satu dua orang akan menganggap payah gue karena hanya berani di tulisan. Untuk itu, pembelaan diri gue adalah, well, gue lebih dapat menuangkan pikiran dengan tulisan. Kalau pakai lisan, lebih sering kecampur emosi dan juga banyak hal yang selalu baru terpikirkan setelah momen untuk lisan itu lewat.

Gue hanya akan menyampaikan pemikiran gue untuk beberapa hal, yang mungkin dapat mewakili sejumlah orang juga.

  1. Tidak bisa memuaskan semua orang.
Yang ini udah super pasti. Siapa sih kita mencoba memuaskan setiap orang? Manusia itu unik, masing-masing punya selera. Setiap keputusan bersama yang diambil, pasti ada segelintir yang kecewa. Mencapai suara bulat itu hampir mustahil. Jadi, menurut gue lebih baik yang kecewa itu sedikiiiittt banget dari pada ada sebagian yang nggak suka dan sebagian lagi yang super puas dengan hasil yang diperoleh. Lebih baik sebagian besar merasa “cukup”. Untuk mengetahui hal-hal tersebut, biasanya ada angket dan voting.

  1. Angket dan Voting.
Ini sudah berlangsung, dua kali malah. Tapi, gue merasa ada beberapa prinsip angket yang tidak diperhatikan. Yang pertama, masalah kerahasiaan identitas pemberi suara. Panitia tidak seharusnya tahu dan mempertanyakan pilihan setiap orang. Kemudian pemberian pilihan yang tidak jelas. Harusnya ada satu titik pokok penjelasan yang disetujui bersama, agar penjelasan yang diberikan satu orang, tidak beda dengan yang lain. Jadi, kalau ada yang bertanya, si penanya tidak akan diarahkan dan dipengaruhi orang-orang yang membagi angket. Dengan demikian, kita harus percaya kalau semua orang itu berhak dan dapat berpikir untuk pilihannya sendiri. Tidak perlu dipengaruhi. Lalu, pemungutan suara adalah untuk mengetahui suara terbanyak, bukan untuk adu banyak pendukung.

  1. Jangan lupa tujuan awal.
Sebenarnya, semua ini untuk apa sih? Apa tujuannya? Kalau sepemahaman gue, acara ini untuk perpisahan angkatan kita. Acara fun gathering yang terakhir dan bukan masalah pamer baju. Ini bukan fashion show kan? Kenapa tidak fokus ke acara dan bukan aksesorisnya? Kalau acaranya seru, mau tempatnya di lapangan rumput pakai tiker juga akan tetap berkesan. Gue nggak menyalahkan kalau ada orang, cewek khususnya (termasuk gue), mau tampil “wah” untuk yang acara super ini, tapi mohon perhatikan orang-orang yang tidak berniat “wah” dan justru mencari kenangan dari acara tersebut. Jangan mengambil keputusan yang menyangkut banyak orang dengan menggunakan kacamata sendiri.

  1. Pilih yang terbaik untuk semua.
Seperti tadi gue bilang, nggak semua orang bisa puas. Tapi, bukan berarti harus memuaskan sekelompok orang. Coba dicari jalan tengah yang, mungkin diluar pilihan yang ada, tapi yang terbaik. Yang tidak menyulitkan banyak orang dan disetujui. Mungkin tidak seindah harapan. Pikirkan juga semua kemungkinan, baik-buruk, yang ada. Target tinggi tidak apa, tapi kita harus siap kalau target tersebut tidak tercapai. Dan lagi, kalau masih bisa diusahakan untuk jalan mudah, kenapa mencari yang sulit?

  1. Jangan memaksakan kehendak.
Intinya ini aja sih. Pemaksaan kehendak akhirnya malah membawa perpecahan. Kalau yang seharusnya memimpin saja terbagi dan pecah, bagaimana yang dipimpin? Bagaimana sebuah acara bisa berlangsung kalau orang di belakang layar tidak kerja sama dan padu? Jadi, tolonglah, bereskan dulu yang terkecil, baru bisa melangkah ke tahap selanjutnya.

Itu aja sih, sharing gue. Gue berterima kasih banget buat mereka-mereka yang punya inisiatif. Tapi, jangan sampai banjir inisiatif itu malah mengalihkan dari tujuan awal. Semoga dapat menjadi bahan pertimbangan dan dipikirkan baik-baik.

Thanks for reading.

Keine Kommentare:

Donate Now!