Freitag, 9. Dezember 2016

Indonesiaku~

Hidup dan tumbuh sebagai kaum minoritas di Indonesia, saya selalu di"ingatkan" untuk tidak cari gara-gara. "Kita hidup yang aman-aman saja," kata orang tua saya. Pertama kali saya menyaksikan penampilan Barongsai, saya tidak mengerti bahwa itu mungkin sangat berarti untuk orang tua saya. Saya beruntung, lahir di Indonesia dan tidak pernah dipertanyakan kewarganegaraannya. Kedua orang tua saya diwajibkan membuat surat keterangan warga negara Indonesia, bahkan juga harus mengganti nama dengan nama yang lebih Indonesia, padahal mereka lahir dan tumbuh besar di Indonesia. Saya beruntung hidup, sekolah dan bergaul di Indonesia, dan tidak pernah merasakan diskriminasi yang berlebihan. Saya tidak pernah punya masalah bergaul dengan siapa saja, dari agama dan suku mana saja. Saya tentu mendengar cerita-cerita. Mulai hal-hal kecil dari pungutan-pungutan liar sampai Mei '98. Walaupun hal-hal itu tidak terjadi langsung kepada saya dan karenanya saya hanya bisa berempati, tapi dalam hati, saya pun mengingatkan diri sendiri untuk tidak mencari gara-gara.

Kemudian saya berkesempatan untuk kuliah dan hidup di luar negeri. Paspor saya Indonesia. Setiap ada yang bertanya mengenai asal-usul, saya selalu menjawab saya orang Indonesia. Saya kangen makanan Indonesia, bicara bahasa Indonesia, ngumpul-ngumpul, dan lain sebagainya. Banyak yang bertanya, kok saya tidak kelihatan seperti orang Indonesia lain, kemudian saya menjelaskan bahwa orang Indonesia itu sangat beragam, kami adalah bangsa yang heterogen. Beberapa dari mereka cukup terkejut ketika saya menjelaskan bahwa saya tidak bisa menulis huruf kanji, karena bahasa Indonesia menggunakan huruf Latin. Saya merasa sebagai agen kecil yang menceritakan tentang Indonesia di negara lain. Ada rasa bangga ketika bule-bule ini takjub akan keberagaman Indonesia dan bagaimana kita bersatu menjadi sebuah bangsa dan negara. Baru ketika saya hidup di negara orang, saya menyadari bahwa ternyata saya punya rasa nasionalis.

Indonesia itu negara yang toleran. Bagaimana tidak? Sebuah negara begitu besar dengan begitu banyak peduduk yang beranekaragam tidak akan bisa berdiri jika tidak ada persatuan dan toleransi. Berbagai keyakinan, warna kulit dan bahasa daerah menjadi pembeda, dan kita bangsa Indonesia telah hidup berdampingan begitu lama.

Maka, saya begitu kecewa dan sedih melihat berita-berita dari Indonesia belakangan ini. Isinya kebencian. Isinya tidak toleran. Isinya standar ganda. Apakah toleransi, Pancasila, dan Bhinneka Tungal Ika tidak lagi diajarkan di sekolah-sekolah? Apakah toleransi sudah bergeser artinya, dari menghargai perbedaan menjadi menghargai yang mayoritas dan yang bersuara paling kencang? Saya sedih melihat elit-elit pemerintahan hanya bisa prihatin, minta maaf, dan menghimbau agar tidak terulang lagi. Bagaimana dengan menjadi tegas dan melakukan pencegahan?

Menurut saya, hanya ada dua hal, yang benar dan yang salah. Segala sesuatu di antara keduanya adalah salah, karena bagaimanakah bisa sesuatu yang putih bercampur dengan yang hitam dan tetap menjadi putih? Saya tidak peduli apakah tujuannya benar atau baik, tapi kalau dalam prosesnya begitu menyusahkan dan merugikan banyak orang, tujuan tersebut akan turun kebaikannya.

Saya pikir, masalahnya bukan di pendidikan. Kalau diperhatikan, mereka-mereka yang provokatif adalah orang-orang terpelajar, lulusan luar negeri dengan gelar berendeng. Mereka tentu bukan orang bodoh. Masalahnya adalah hati. Hati mereka penuh iri, dengki dan kebencian yang membutakan mata, menutup telinga, dan hanya lidahnya yang berteriak-teriak. Hingga semua ilmu dan gelar berendeng mereka pun tidak lagi ada fungsinya di otak. Dan orang-orang inilah yang berdakwah dan mengajarkan tentang Tuhan. Bagaimana bisa seseorang paham jalan Tuhan, jika hatinya penuh kebencian? Bagaimana bisa mengajarkan tentang kebaikan, jika kata-kata yang terucap begitu jahat? Dan apakah kita juga buta dan tidak bisa membedakan mana yang baik dan jahat? Putih dan hitam?

Yang mereka bela bukan Tuhan, tapi ego manusiawi. Yang mereka bela bukan agama, tapi kekuasaan. Yang mereka teriakan bukan damai, tapi permusuhan. Tidakah semuanya begitu jelas? Hidup untuk Tuhan adalah merendah dan melayani. Hidup untuk Tuhan adalah menjadi serupa dengan-Nya. Membela Tuhan adalah hidup sesuai keinginan-Nya. Ketika kasihilah sesamamu manusia tidaklah lagi cukup hanya menjadi manusia, tapi diperhitungkan juga warna kulit dan agamanya, maka dunia ini tidak akan pernah damai. Bukan agama yang membawamu ke surga, tapi iman kepada Tuhan. Kalau iman itu diukur dari besarnya suara teriakan, saya akui memang para provokator itu juara. Tapi saya percaya, iman adalah urusan hati dan pribadi dengan Tuhan. Iman tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa diatur oleh orang lain, sekeras apapun ayat-ayat suci diteriakan di telinga. Dan iman itu tercermin dari perbuatan. Kalau kelakuannya seperti setan, apa mungkin imannya kepada Tuhan?

Ketika bangsa-bangsa barat yang kafir ini mulai serius mempertimbangkan industri ramah lingkungan dan sistem daur ulang yang lebih efektif, kita orang Indonesia masih meributkan harga dua ratus perak untuk plastik belanja yang katanya hanya akal-akalan orang Yahudi.


Indonesia adalah bangsa yang besar dan mulai bergerak maju, jangan sampai kebodohan-kebodohan yang saat ini sedang begitu kerasnya dikumandangkan menghentikan langkah atau bahkan mendorong kita mundur. Indonesia ini negara dengan sumber daya manusia yang melimpah, ayo kita buktikan juga bahwa manusia-manusia Indonesia itu berkualitas. Buktikan kalau toleransi dalam berbangsa dan bernegara bukan hanya kata-kata kosong dalam buku PPKN. Buktikan kalau kita lebih erat dan kuat dalam persatuan, ketimbang segala perbedaan yang tengah ditekankan dengan gaduh. Tunjukan bahwa walaupun kita diam dan tidak cari gara-gara, tapi kita ada dan peduli. Ayo tunjukan kalau saya masih memiliki Indonesia yang membanggakan, toleran dan bersatu. 

Keine Kommentare:

Donate Now!