Kebiasaan orang Indonesia adalah menambahkan sesuatu ke dalam makanannya.
Seperti kata nyokap gue: " Beli bakso di mana aja itu sama, tergantung kita yang nambahin bumbunya."
Hal yang sama berlaku untuk mie ayam, soto mie, dll. Itulah sebabnya, hampir di seluruh rumah makan di Indonesia, ada botol-botol kecap, tempat garam, tempat sambal, dll. di atas meja.
Kalau di luar negeri, ada beberapa negara yang restorannya nggak mengijinkan kita menambahkan apapun ke dalam makanan yang kita beli. Nggak menghargai yang masak, katanya. Padahal ada orang yang nggak bisa makan tanpa sambel, kayak kita makan tanpa garam.
Gue sendiri orang yang suka nambah-nambahin makanan yang gue makan. Gue nggak bisa makan bakso tanpa cuka dan kecap, makan mie tanpa sedikit sambal dan kuah acar, dsb. Tapi, gue mulai suka mencoba tanpa menambahkan apa-apa. Biar tau rasa aslinya.
Baru-baru ini, gue mencoba minum kopi tanpa gula dan susu. Hasilnya? PAHIT. Pahit banget. Tapi, aroma dan rasa asli kopinya lebih berasa. Kayak... lebih susah hilang di lidah. Minum secangkir kecil aja, sudah memuaskan. Yah, pada akhirnya tetep gue tambahin gula secuil sih... biar nggak pahit-pahit banget.
Karena gue nggak ada kerjaan dan gue juga nggak ngantuk gara-gara abis minum dark coffee walopun udah tengah malam.... tiba-tiba terbersit untuk nulis note ini.
Dari secangkir kopi itu, gue jadi terinspirasi....
Semua orang tahu, kopi itu pahit. Makanya, orang yang nggak pernah minum kopi tanpa gula pun, akan menambahkan gula ke dalam kopinya. Dan karena kopi bergula lebih nikmat, lama-lama orang lupa seperti apa rasa kopi sesungguhnya. Yang mereka tahu, kopi itu pahit. Tapi, mereka nggak tahu pahitnya kopi itu seperti apa.
Mungkin itu penggambaran yang pas buat orang yang nggak jadi dirinya sendiri. Ada orang yang, biar dibilang keren, ikut-ikutan gaya orang lain walaupun 'gaya' itu nggak cocok atau bahkan 'nggak pas' untuk kepribadiannya. Tapi, karena ia merasa diterima oleh lingkungannya dengan bergaya seperti itu, ia pun tetap memakai gaya itu dan akhirnya melupakan siapa dirinya yang sebenarnya.
Juga untuk orang yang suka menyenangkan lingkungannya, sampai dia lupa dirinya sendiri. Ada orang yang, karena lingkungannya berkata: "Lo jangan begini/begitu..", berusaha selalu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan. Padahal, ada saatnya lingkunganlah yang harus berubah karena satu orang.
Intinya, banyak orang yang takut menjadi dirinya sendiri. Mereka takut menjadi kopi yang 'pahit' dan berusaha menambahkan 'gula' kedalamnya, agar semua orang menerimanya. Sampai-sampai, ia merasa 'manis' dan lupa pada asal-usulnya.
Gue pikir, kita nggak boleh takut menjadi 'kopi pahit'. Mungkin orang yang menerima kita nggak akan sebanyak orang yang menerima 'kopi manis'. Tapi, walaupun sedikit, pasti ada orang yang mau menerima kita apa adanya. Yang tulus dalam berteman dan menjalin persahabatan, seperti segelintir orang yang emang suka kopi pahit.
Dari pada si 'kopi manis' yang banyak disukai, tapi nggak bisa menunjukan kalau sebenenarnya dia pahit. Dan lama-lama, 'ia' yang asli akan terlupakan.
Siapa yang mau dikenang sebagai orang lain? Gue sih maunya dikenang sebagai diri gue sendiri, walaupun mungkin nggak selamanya yang keluar dari gue itu baik adanya. Tapi, gue suka menjadi 'the only one'. Karena, gue emang cuman ada satu dan tiada duanya. Begitu juga semua orang yang dianugerahi talenta masing-masing. Setiap orang itu UNIK dan nggak ada duanya, jadi kenapa harus menjadi orang lain?
Terakhir, seperti kata Soe Hok Gie: "Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan."
Be Your Self!! Be Unique!!


Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen