Tiba-tiba saja gue keinget sama percakan kecil
di kelas 2D-Design dulu. Dosen gue adalah seorang profesor design pertama di
Indonesia (cukup 'wah' kan... xD). Berhubung gue punya interest banget sama seni, gue suka aja ngobrol sama beliau dan
dengar cerita-ceritanya. Nggak perlu 100% sesuai dengan silabus semesteran,
tapi kisah hidup beliau sendiri seru buat disimak. Apalagi koleksi-koleksi seni
yang dimiliki Pak Yongki ini. Beliau punya ratusan slide lukisan dari jaman dulu banget sampe seni-seni komtemporer.
Gue sempet ditunjukin slide-slide
tersebut.
Pelajaran dengan beliau sedikit banyak semakin
memantapkan gue untuk belajar sejarah seni, walaupun sekarang jalurnya harus
muter dikit dan nggak bisa pake jalan tol. Keinginan untuk belajar itu masih
ada sampai sekarang.
Karena penasaran, pada suatu kesempatan, gue
mengajukan sebuah pertanyaan kepada Pak Yongki.
"Pak, kenapa sih,
seniman-seniman sekarang itu kalau bikin karya susah dimengerti dan bentuknya
aneh-aneh. Yang nggak berbentuk dibilang seni. Sedangkan kalau kita lihat karya
orang jaman dulu, seperti Leonardo Da Vinci, Bernini, dan sebagainya. Lukisan
dan patung karya mereka itu bikin ternganga." (Oke, kalimat aslinya nggak
seberpendidikan ini. Tapi intinya begitulah.)
Jawaban beliau singkat, padat,
dan gue ingat sampai sekarang.
"Karena mereka (seniman jaman dulu) bekarya untuk Tuhan."
Dan memang benar. Coba deh
diperhatikan, hampir semua cabang seni diciptakan pada mulanya untuk
puji-pujian kepada Yang Maha Kuasa. Tarian, lagu, ukiran, lukisan, dan
sebagainya. Di belahan dunia manapun sama.
Ya, setiap seniman memang
bebas untuk menyalurkan idenya kebentuk apapun, dengan cara apapun, tapi
sebagai mata awam mana yang bagus itu menurut gue jelas banget.
![]() |
| St. Theresa in Ecstasy by Giolorenzo Bernini (1652) |
![]() |
| King and Queen by Giuseppe Pongolini |
Tujuan gue cerita ini cuman untuk
share, bahwa hasil kerja untuk Tuhan itu begitu indah. :)
Makanya, gue juga mau belajar dan terus usaha
untuk kerja bagi Tuhan. Prost!



Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen