Samstag, 12. Januar 2013

A Piece of Gold, A Pile of Dirt

"A piece of gold, a pile of dirt. Which is more useful?" A master asked one of his disciples. "A piece of gold, of course," said the disciple. The master asked back,  "But to a seed?" 

(From the movie: "Shaolin")


Recommended movie :D


Beberapa hari terakhir, gue suka nonton film silat bareng-bareng cici gue. Dari sekian banyak judul, akhirnya kita nonton juga film keluaran tahun 2011 berjudul Shaolin (Andy Lau, Jackie Chan, Nicholas Tse). Gue udah pernah nonton film ini di biskop waktu di Indo sebenernya, cuman berhubung kita berdua (gue dan cici) lagi kesemsem sama film silat, jadinya gue nonton lagi. 

Cuplikan percakapan di atas buat gue dan cici gue itu 'ngena' banget. 

A piece of gold or a pile of dirt. Siapapun kalau ditanya mana yang lebih berharga, pasti jawab emas. Tapi, untuk satu buah biji, tanah lebih berharga. Tanpa tanah, biji tersebut nggak bisa hidup. 

Pesan yang bisa kita tangkap adalah bahwa semua orang punya peran tersendiri dalam hidupnya. Istilahnya, sampah aja bisa jadi pupuk. Kalau kita, setiap individu, punya peran berbeda yang dikasih sama Tuhan, untuk apa kita membanding-bandingkan diri dengan yang lain?

Sebenernya, udah beberapa lama ini, rasa percaya diri gue berkurang drastis. Rasanya gue jadi rada anti sosial dan lebih nyaman kalau sendirian. Padahal, manusia itu kan makhluk sosial, butuh interaksi dengan orang lain. Susahnya, di sini kalau mau berinteraksi dengan orang lain itu butuh usaha ekstra. Dengan bahasa yang udah beda, ditambah kultur dan pola pikir yang juga beda, ke-pede-an gue untuk berinteraksi hampir menyentuh tanah. Rasanya gue takut sama manusia. 

Belum lagi, beberapa minggu yang lalu, seorang teman lama cerita-cerita sama gue setelah kita saling ucap 'selamat tahun baru'. Dia sekarang kuliah sambil kerja dong. Plus penghasilan dari kerjanya itu udah cukup buat jajan dan biaya kuliah dia sendiri. Temen gue itu pun kuliahnya bukan di universitas abal-abal loh. Kampusnya cukup bagus dan mahal. Gue takjub juga. Waktu sekolah dulu, nggak ada tampang-tampang bisa jadi begitu dia. 

Mendengar perkembangan hidup teman ini, ada sedikit iri di hati gue. Sampah emang gue ini. Dalam pikiran gue, gue sekarang cupu abis. Kuliah aja belom, kerja baru aja berhenti, gajinya nggak cukup pula buat hidup dan kuliah. Dibandingin teman gue itu, gue nggak ada apa-apanya. Malu sendiri gue. :( Tahun ini gue udah kepala dua loh, umur udah bukan belas-belas lagi. Tapi perkembangan gue lambat banget. Di saat orang lain lari sprint, gue masih jogging di pinggiran. Malu gue, malu banget. 

Makin merosotlah kepercayaan diri gue. 

Makin sering gue membandingkan diri dengan yang lain. makin sering gue merasa iri, makin sering gue mempertanyakan Tuhan, dan makin sering juga the "Why" question keluar. 

Gue lupa banget kalau rencana Tuhan buat tiap orang itu beda dan kalau rencana-Nya itu selalu indah pada waktunya. Gue lupa, kalau selama ini karya-Nya udah begitu nyata dalam hidup gue. 

"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."

-Pengkhotbah 3: 11

Emang cupu, gue ini. 

Dari percakapan singkat antara seorang master dengan muridnya ini, gue seperti diingatkan kembali kalau gue nggak perlu membandingkan diri dengan orang lain, kalau gue harus lebih bersyukur. Jalan masing-masing orang berbeda dan masing-masing ada hambatan dan rintangannya sendiri. Temen gue bisa kayak gitu kan bukan berarti dia nggak punya kesusahan. 

Maka dari itu, gue mau berubah. Gue mau mendapat kembali ke-pede-an gue yang dulu. Gue mau lebih bersyukur dan lebih bersabar lagi sampai "semuanya indah pada waktunya". 

Terimakasih banyak buat semua orang yang sudah berusaha membesarkan hati gue dan nggak bosen-bosen (walaupun sebenernya mungkin udah jenuh dan capek banget, tapi mereka nggak komen ke gue) mendengarkan keluhan gue. Gue akan kurangi mengeluh dan bener-bener go with the flow. Gue akan berpasrah sama Tuhan dan percaya akan rencana-Nya (Amin). 

Semoga teman gue itu makin sukses usaha dan kuliahnya. Semoga semuanya berjalan lancar. Kalau nggak lancar, semoga hati kita dibesarkan Tuhan. Amin. 

I hope for the best, as always. :D

Keine Kommentare:

Donate Now!