Tanggal 28 Januari 2012 adalah hari di mana gue tiba di Jerman, bukan yang pertama kali, tapi sejak saat itu, gue belum pernah pulang lagi ke Indonesia.
Selama dua tahun di negeri orang, banyak hal yang gue pelajari.
Pertama, hidup itu keras.
Waktu masih di Indonesia dan stress gara-gara UN, kemudian keringat dingin gara-gara menunggu visa, gue kira 'goal' terakhir gue adalah sampai di Jerman. Gue kira semuanya akan lebih mudah begitu gue lulus UN dan dapat visa. Tapi ternyata, hidup nggak pernah jadi lebih gampang. Setelah sampai di Jerman, gue sempet ditolak satu-satunya Studienkolleg harapan gue. Kejadian ini seperti tamparan dari Tuhan, bahwa Dia-lah yang punya segala rencana dan hidup gue. Ternyata 'goal' terakhirnya bukan sampai Jerman saja. Begitu sampai Jerman, ada 'goal' baru yang secara otomatis terbentuk. Begitu seterusnya, sampai gue jadi orang berhasil.
Kedua, orang baik itu masih banyak.
Percaya deh, orang baik itu belum punah. Gue bisa sampai ke tempat gue yang sekarang, semuanya karena bantuan orang lain. Mulai dari mama yang banting tulang di Indonesia, cici yang mendampingi di masa-masa awal banget gue di sini, teman-teman yang jadi kawan senasib-sepenanggungan dan tempat penghiburan, dapat tetangga yang super ramah dan baik hati, sampai orang-orang Jerman sendiri yang sering bantu gue. Gue belajar nggak malu untuk minta tolong karena kalau kita nggak ngomong dan minta tolong, siapa yang mau bantu? Banyak hal yang nggak bisa kita lakukan sendiri, sekeras apapun kita coba. Apalagi kalau pakai faktor kepentok bahasa kayak gue.
Ketiga, pentingnya menjaga sikap dan pola pikir positif.
Serius ini penting banget. Apalagi kalau kita hidup sendiri, jauh dari teman dan keluarga. Sekalinya depresi bisa lama dan dalam sekali. Karenanya gue selalu berusaha berpikir positif. Kalau kuliah rasanya berat banget dan jadi sarjana kelihatannya makin nggak mungkin, gue memikirkan kembali alasan-alasan kenapa gue mau sekolah jauh begini. Gue akan mengingat betapa sukanya gue mengerjakan tugas-tugas kuliah dan betapa puasnya kalau tugas itu selesai (walau dalam prosesnya sering jadi sumber frustasi).
Kalau rasa khawatir dan takut datang lagi, gue selalu pilih berdoa dan ngobrol sama Tuhan. Gue juga suka random tiba-tiba nyerocos cerita sama nyokap (yang kadang bikin beliau ikut panik, hehehe). Untungnya nyokap gue itu the best listener and motivator ;). Semuanya itu jadi kekuatan gue untuk berjuang di sini dan nggak lupa menikmati hidup gue juga.
Gue suka ambil pause sejenak, setiap ada hal yang bikin gue kesel atau emosi. Entah gue bakal nangis sebentar atau ngomel-ngomel, baik sendiri atau sekalian curhat ke mama atau cici. Kadang gue juga mengumpat sendiri dan membiarkan semua kata kotor dan kebun binatang keluar dari mulut. Hahahaha... Gue selalu merasa diri sebagai introvert, tapi pada kenyataannya gue masih butuh orang lain buat jadi tong sampah. Bisa gila kalau semuanya dipendam sendiri.
Keempat, berani meminta dan menerima, juga harus berani memberi.
Semakin gue sadar kalau gue butuh bantuan orang lain, semakin banyak gue menerima, semakin gue merasa harus mau membantu orang lain yang butuh bantuan. Ini nggak gampang dan kadang gue masih suka emosi kalau ada yang minta bantuan seenaknya, dalam artian, hal-hal yang 'harusnya' bisa dilakukan sendiri kalau lebih berusaha. Dalam proses membiasakan sikap dan sifat ini, gue selalu mengingatkan diri untuk tidak lupa bersyukur saat menerima dan ikhlas waktu memberi.
Karena prinsip hidup gue itu adalah jangan melakukan segala sesuatu yang gue nggak mau orang lain lakukan ke gue, setiap kali gue merasa terganggu dengan permintaan tolong 'seenaknya' itu, gue mengingat-ingat lagi mereka-mereka yang sering gue minta bantuan. Betapa mereka juga terganggu dan kerepotan gara-gara gue.
Kelima, masih banyak hal yang gue nggak tahu.
Semakin ke sini, gue semakin sadar ada begitu banyak hal yang belum gue tau. Contoh simpelnya seperti membangun rumah. Gue kira cukup bisa gambar desain rumah yang kita mau, tapi nyatanya seorang arsitek tidak hanya harus bisa gambar, tapi juga harus bisa menghitung biaya pembangunan, menentukan lokasi, mendesain konstruksi, dsb. Sampai sekarang, detail-detail itu masih nggak masuk di kepala gue. Hal ini membuat gue kadang meragukan bangunan-bangunan desain gue: apa iya gedung ini bisa dibangun? Pertanyaan-pertanyaan ke diri sendiri yang nggak ada jawabannya seperti inilah yang kadang jadi sumber galau dan pesimisme gue. Kemudian gue akan menghibur diri dengan mengucap dalam hati: ada waktunya nanti kamu bisa mengerti, makanya kamu kuliah kan?
Menginjak tahun kedua, makin banyak pertanyaan "kapan pulang" ditujukan kepada gue, tidak hanya dari kawan di Indonesia, tapi juga teman-teman kuliah di sini. Jadi, ada rencana pulang? Nggak.
Bukannya jadi sombong dan nggak mau pulang, tapi menurut pertimbangan gue, waktu dan kesempatannya belum tepat. Kalau masalah mau atau nggak sih, gue mau banget pulang. Mohon doanya saja, semoga akan datang waktu dan kesempatannya. (Amin)
Selama dua tahun di negeri orang, banyak hal yang gue pelajari.
Pertama, hidup itu keras.
Waktu masih di Indonesia dan stress gara-gara UN, kemudian keringat dingin gara-gara menunggu visa, gue kira 'goal' terakhir gue adalah sampai di Jerman. Gue kira semuanya akan lebih mudah begitu gue lulus UN dan dapat visa. Tapi ternyata, hidup nggak pernah jadi lebih gampang. Setelah sampai di Jerman, gue sempet ditolak satu-satunya Studienkolleg harapan gue. Kejadian ini seperti tamparan dari Tuhan, bahwa Dia-lah yang punya segala rencana dan hidup gue. Ternyata 'goal' terakhirnya bukan sampai Jerman saja. Begitu sampai Jerman, ada 'goal' baru yang secara otomatis terbentuk. Begitu seterusnya, sampai gue jadi orang berhasil.
Kedua, orang baik itu masih banyak.
Percaya deh, orang baik itu belum punah. Gue bisa sampai ke tempat gue yang sekarang, semuanya karena bantuan orang lain. Mulai dari mama yang banting tulang di Indonesia, cici yang mendampingi di masa-masa awal banget gue di sini, teman-teman yang jadi kawan senasib-sepenanggungan dan tempat penghiburan, dapat tetangga yang super ramah dan baik hati, sampai orang-orang Jerman sendiri yang sering bantu gue. Gue belajar nggak malu untuk minta tolong karena kalau kita nggak ngomong dan minta tolong, siapa yang mau bantu? Banyak hal yang nggak bisa kita lakukan sendiri, sekeras apapun kita coba. Apalagi kalau pakai faktor kepentok bahasa kayak gue.
Ketiga, pentingnya menjaga sikap dan pola pikir positif.
Serius ini penting banget. Apalagi kalau kita hidup sendiri, jauh dari teman dan keluarga. Sekalinya depresi bisa lama dan dalam sekali. Karenanya gue selalu berusaha berpikir positif. Kalau kuliah rasanya berat banget dan jadi sarjana kelihatannya makin nggak mungkin, gue memikirkan kembali alasan-alasan kenapa gue mau sekolah jauh begini. Gue akan mengingat betapa sukanya gue mengerjakan tugas-tugas kuliah dan betapa puasnya kalau tugas itu selesai (walau dalam prosesnya sering jadi sumber frustasi).
Kalau rasa khawatir dan takut datang lagi, gue selalu pilih berdoa dan ngobrol sama Tuhan. Gue juga suka random tiba-tiba nyerocos cerita sama nyokap (yang kadang bikin beliau ikut panik, hehehe). Untungnya nyokap gue itu the best listener and motivator ;). Semuanya itu jadi kekuatan gue untuk berjuang di sini dan nggak lupa menikmati hidup gue juga.
Gue suka ambil pause sejenak, setiap ada hal yang bikin gue kesel atau emosi. Entah gue bakal nangis sebentar atau ngomel-ngomel, baik sendiri atau sekalian curhat ke mama atau cici. Kadang gue juga mengumpat sendiri dan membiarkan semua kata kotor dan kebun binatang keluar dari mulut. Hahahaha... Gue selalu merasa diri sebagai introvert, tapi pada kenyataannya gue masih butuh orang lain buat jadi tong sampah. Bisa gila kalau semuanya dipendam sendiri.
Keempat, berani meminta dan menerima, juga harus berani memberi.
Semakin gue sadar kalau gue butuh bantuan orang lain, semakin banyak gue menerima, semakin gue merasa harus mau membantu orang lain yang butuh bantuan. Ini nggak gampang dan kadang gue masih suka emosi kalau ada yang minta bantuan seenaknya, dalam artian, hal-hal yang 'harusnya' bisa dilakukan sendiri kalau lebih berusaha. Dalam proses membiasakan sikap dan sifat ini, gue selalu mengingatkan diri untuk tidak lupa bersyukur saat menerima dan ikhlas waktu memberi.
Karena prinsip hidup gue itu adalah jangan melakukan segala sesuatu yang gue nggak mau orang lain lakukan ke gue, setiap kali gue merasa terganggu dengan permintaan tolong 'seenaknya' itu, gue mengingat-ingat lagi mereka-mereka yang sering gue minta bantuan. Betapa mereka juga terganggu dan kerepotan gara-gara gue.
Kelima, masih banyak hal yang gue nggak tahu.
Semakin ke sini, gue semakin sadar ada begitu banyak hal yang belum gue tau. Contoh simpelnya seperti membangun rumah. Gue kira cukup bisa gambar desain rumah yang kita mau, tapi nyatanya seorang arsitek tidak hanya harus bisa gambar, tapi juga harus bisa menghitung biaya pembangunan, menentukan lokasi, mendesain konstruksi, dsb. Sampai sekarang, detail-detail itu masih nggak masuk di kepala gue. Hal ini membuat gue kadang meragukan bangunan-bangunan desain gue: apa iya gedung ini bisa dibangun? Pertanyaan-pertanyaan ke diri sendiri yang nggak ada jawabannya seperti inilah yang kadang jadi sumber galau dan pesimisme gue. Kemudian gue akan menghibur diri dengan mengucap dalam hati: ada waktunya nanti kamu bisa mengerti, makanya kamu kuliah kan?
Menginjak tahun kedua, makin banyak pertanyaan "kapan pulang" ditujukan kepada gue, tidak hanya dari kawan di Indonesia, tapi juga teman-teman kuliah di sini. Jadi, ada rencana pulang? Nggak.
Bukannya jadi sombong dan nggak mau pulang, tapi menurut pertimbangan gue, waktu dan kesempatannya belum tepat. Kalau masalah mau atau nggak sih, gue mau banget pulang. Mohon doanya saja, semoga akan datang waktu dan kesempatannya. (Amin)

2 Kommentare:
I learn a lot from your writing. Sometimes I cried reading some posts. Keep writing n sharing, Marno!
Thank you, Sir :') It's really good to read your comment :D I thought my writings have become worse, since I felt it's becoming harder and harder to write.
Kommentar veröffentlichen