Sonntag, 20. September 2009

Satu Detik yang Tak Berulang

Kalau ada orang yang nanya ke gue: apa penyesalan terbesar dalam hidup lo? 
Jawaban gue cuman satu: Gue nggak sempet minta maaf ke bokap gue. 

Dari semua yang telah terjadi dan nggak akan berulang, ada satu yang gue mengerti. Orang tua itu juga manusia. Bukan dewa atau Tuhan. Mereka memang pemberian Tuhan untuk merawat kita, tapi mereka juga tetap manusia. Mereka bisa melakukan kesalahan. Sayangnya, gue baru menyadari hal itu setelah semuanya lewat. 

Di suatu siang terakhir, dimana bokap gue mengeluh seharian kalau kepalanya pusing, dan dimana gue merasa capek setengah mati abis ngurus acara di sekolah, gue menyia-nyiakan kesempatan gue yang terakhir untuk bicara baik-baik dengan bokap gue. Karena, siapa yang nyangka kalau itu adalah siang terakhir dimana bokap gue masih sadar. 

Setiap detik yang seharusnya jadi detik berharga itu, gue habiskan dengan ngedumel sendiri dan kesel setengah mati, karena bokap gue punya kebiasaan kalau lagi sakit rewelnya luar biasa. Itu bikin gue yang udah capek dari sekolah, sebel luar biasa. Sampai bokap gue dibawa ke rumah sakit dan setelah gue diomelin sama nyokap dan cici gue (soalnya gue nyolot abis), gue baru sadar: ITU BOKAP LO LAGI SAKIT!!! 

Malam hari di hari yang sama, gue adalah orang terakhir yang bicara sama bokap gue di telepon. Dan gue nggak minta maaf di kesempatan terakhir itu. Betapa bodohnya gue. Karena besoknya, bokap gue udah ga ada. 

Waktu bokap gue masih koma di rumah sakit, gue berulang kali minta maaf di sampingnya. Rasanya udah terlambat, tapi gue harap papa mendengar. 

Sulit untuk percaya kalau seseorang udah nggak ada, kalau semua benda yang berhubungan dengannya ada di sekeliling lo. Mulai dari baju, sampe sendal jepit yang biasa dipake bokap kalo lagi nyirem pohon. 

Setelah itu selama seminggu penuh, gue nggak bisa dan nggak berani liat foto-foto bokap, bahkan baju-bajunya yang masih ada di lemari. Termasuk ngedengerin lagu yang ada hubungannya dengan ayah. Begitu sampe rumah sehabis pemakaman, yang gue lakukan langsung ngambil VCD pelepasan SD gue dimana bokap gue yang jadi salah satu perwakilan orang tua ada di video itu. Dan gue cuman bisa nangis, nonton bokap gue di dalam TV. 



Banyak rencana masa depan yang gue bikin dengan mengikutsertakan kedua orang tua gue. Dan mendadak, gue ga bisa melihat bokap gue di dalam angan-angan masa depan itu. Sakit rasanya. 

Makanya, gue pengen nyampein untuk semua anak, hargailah waktu kalian dengan orang tua. Mereka memang kadang nyebelin dan nggak bisa mengerti kita, tapi apakah kita juga selalu mengerti mereka? Mereka adalah manusia yang bisa melakukan kesalahan, itu yang harus selalu dipahami, mereka tidak sempurna. 

Beberapa minggu sebelumnya, bokap gue pernah nanya ke gue: kamu seneng nggak punya papa kayak papa?. Dan syukur pada Tuhan, gue menjawab dengan mantap: YA! 

Terakhir, thanks buat Selvy atas videonya (sumpah, itu yang menginspirasikan note ini!! makasii!!!), makasi juga buat nyokap pastinya ( I LOVE YOU, MOM), dan semua yang membaca note ini. Semoga kalian menjadi lebih mengharagai setiap detik kebersamaan dengan keluarga. Karena waktu yang lewat nggak akan terulang. Mungkin sekarang ini susah dimengerti, tapi percaya deh, jangan sampai semuanya terlambat. Lebih sakit rasanya. 

(I MISS YOU, DAD!!! LOVE YOU...)

Keine Kommentare:

Donate Now!