Mittwoch, 24. Dezember 2008

The Pillars of The Earth- Tebel dan Mantep...


Oke, yang pertama, buku ini novel tertebal yang pernah gue baca. Ada 1.131 halaman dan beratnya sekitar 1 kg lebih. Biar lebih kebayang, kira-kira setebel kamus. :-)

Kedua, gue beli buku ini di Gramedia WTC Matahari Serpong dengan harga Rp. 35.000,00. Gak percaya?? Percayalah. Ini buku termurah dan tertebal yang pernah gue beli. Waktu itu gue beli pas ada cuci gudang, harga aslinya kalo nggak salah Rp. 117.500,00. Gue gak tau didskon berapa persen. Hitung aja sendiri. :-)

Ketiga, gue tertarik sama buku ini karena buku ini terpilih sebagai salah satu buku favorit Oprah Winfrey dan termasuk sebagai "buku wajib baca" di book club-nya Oprah.
Dan yang pasti karena ini buku tebal banget dan ada tulisan #1 International Bestseller. Dua hal itu penting buat gue, karena buku yang punya kriteria itu sering bikin tangan gue gatel pengen beli.

Sekarang mulai review-nya.

Novel karangan Ken Follet ini emang kayaknya nggak terlalu terkenal di Indonesia. Tapi, menurut gue novel ini keren banget dan pantes jadi Bestseller di se-anterodunia.

Bersetting Inggris abad ke-12, Pilar mengisahkan tentang perjuangan seorang biarawan sederhana dan jujur, bernama Philip dalam membangun katedral. Philip yang dibesarkan di biara menjunjung tinggi kedisiplinan dan berhasil mereformasi sebuah biara kecil di tengah hutan, yang tadinya amat sangat berantakan menjadi lebih rapi dan terorganisir dengan baik. Prestasi itu diraihnya di usianya yang masih sangat muda dan akhirnya membantunya memperoleh jabatan sebagai kepala biara di Kota Katedral Kingsbridge.

Philip seorang yang sangat cerdas, namun sangat polos. Ia menyerahkan segenap hidupnya untuk melayani Tuhan. Seperti yang kita tahu, sebagai biarawan Philip tidak boleh menikah, menjunjung tinggi ketaatan, dan kesucian hati. Ia tidak mengetahui bahwa kepolosannya sering dimanfaatkan orang lain, salah satunya Uskup Kingsbridge, Waleran Bigod. Posisi baru Philip itulah yang akhirnya membuka matanya dan membuat Philip lebih memanfaatkan kepintarannya dalam berbagai hal. Dengan kata lain, Philip menjadi lebih cerdik. Siapa yang sangka kalau kecerdikannya dalam menyelesaikan berbagai masalah, justru membuatnya mendapatkan banyak musuh.

Agenda utama Philip sebagai kepala biara yang baru adalah mereformasi keadaan biara yang hampir bangkrut itu, kemudian merenovasi Katedral Kingsbridge yang kondisinya sungguh mengkhawatirkan. Tapi, suatu malam terjadi sebuah kebakaran yang menghancurkan seluruh katedral. Oleh karena itu, pembangunan katedral menjadi prioritas utama.

Nah, di sini mulai banyak masalah. Biaya yang dimiliki biara yang baru mulai bangkit ini tidak mencukupi untuk membangun sebuah katedral. Tapi, bukan hanya itu saja yang menjadi masalah. perang saudara antara Maud dan Stephen dalam memperebutkan takhta setelah kematian Raja Henry I, juga berpengaruh. Belum lagi kedengkian Uskup Waleran dan pengikutnya yang sangat kejam Wiliam Hamleigh. Uskup Waleran sangat membenci Philip karena Philip berhasil merebut sebuah tambang batu yang akan digunakan untuk membangun katedral dan yang juga diinginkan Waleran untuk membangun istananya.

Mandor pembangunan katedral di Kingsbridge, Tom Builder, digantikan oleh anak tirinya Jack, setelah Tom meninggal akibat kerusuhan yang dibuat oleh Wiliam untuk menghancurkan Kingsbridge. Kisah kedua orang ini juga diceritakan dengan apik. Mulai dari masa kecil, keluarga, percintaan, dan sebagainya.
Rentang waktu ceritanya sekitar 40 tahun. Jadi, tokoh-tokohnya diceritakan dari kecil sampai tua. Penggambaran situasi dan kondisi Inggris di abad pertengahan juga sangat detail, kita seakan-akan kembali ke masa lalu.
Novel ini membuka mata gue, bahwa Pastor, bahkan Uskup sekalipun, hanyalah manusia biasa yang pernah berdosa dan dibutakan oleh harta duniawi. Selama ini gue nggak nyangka kalau di dalam gereja sendiri ada politik yang bermain, perebutan posisi tertinggi, dan hal-hal lain macam itu.
Perjuangan Philip patut diacungi jempol. Dia keren banget dan walaupun berkali-kali terhadang oleh berbagai rintangan, katedral yang tadinya direncanakan selesai dibangun dalam jangka waktu 15 tahun, kelar juga walau selesainya setelah 30 tahun lebih sejak pertama direncanakan. Katedral Kingsbridge rancangan Jack itu sendiri digambarkan sebagai katedral paling indah saat itu. Hal itu disebabkan campuran antara kejeniusan Jack, ketertarikannya terhadap arsitektur yang amat mendalam, serta pengalaman Jack saat mengunjungi katedral-katedral cantik di Prancis. Di sanalah Ia mempelajari teknik-teknik baru dan modern dalam membangun gedung batu. Dan tentu saja semuanya dapat terjadi karena ketegaran Philip.
Menurut gue, novel ini mengajarkan kita untuk bersabar dan tekun. Intinya kalau kita sabar, tekun, pantang menyerah, mau bekerja keras, dan kemudian menyerahkan semuanya kepada Tuhan, apapun pasti sukses.
Gue selesai baca setelah sekitar 2 minggu dan novel ini bener-bener wajib baca!

Keine Kommentare:

Donate Now!